"Doing small jobs for something of value."
- J'MikeA Corp, Capital City – Paris | 04.30 pm -
Seorang gadis – ralat, seorang wanita - mengingat dirinya sudah menikah – terbangun dari tidurnya. Ah, jika diingat – ingat dirinya tentu masih seorang gadis, karena ia belum melakukan malam pertama dengan pria itu. Ia mulai membuka matanya perlahan - lahan. Ia mengerjapkan mata untuk menyesuaikan penglihatannya.
Saat kedua matanya sudah terbuka sempurna, ia sedikit kaget saat tahu bahwa ia tertidur di sebuah ruangan. Lalu ia berusaha untuk bangun dari tidurannya. Sebelum itu terjadi, sesuatu yang berat menimpa disekitar perut dan pinggangnya. Lantas ia melirik dan melihat sebuah lengan melingkarinya.
Siapa? Siapa yang memeluknya...?
Ia mulai menerka - nerka lengan siapa yang melingkari dirinya. Jantungnya berdetak – detak memikirkan siapa yang tengah memeluknya. Tak lama setelah itu ia merasakan sapuan hangat disekitar tengkuk belakangnya. Ia menolehkan kepalanya sedikit kearah belakang. Ia tersentak kaget saat mengetahui bahwa yang tertidur sambil memeluknya adalah suaminya sendiri. Entah ia harus senang atau takut. Mendadak, terselip rasa lega di hatinya saat tahu, pria itu yang memeluknya. Meski begitu, rasa gemuruh di dalam dadanya tak berhenti bergetar.
Ia mencoba untuk menggerakkan sedikit badannya. Namun, ia merasakan bahwa lengan pria itu semakin memeluknya erat. Mencoba menggeser sedikit lengan pria itu dan hal itu pun sia - sia. Astaga, lengannya sangat keras dan berotot. Sulit untuk disingkirkan. Pikirnya.
"Tidurlah." Gumam Mike. Alina tersentak kaget mendengar gumaman suaminya. Ia menolehkan lagi kepalanya untuk sekedar mengintip pria dibelakang. Pria itu masih memejamkan mata. Tiba - tiba saja, pria itu membuka kedua matanya. Dan matanya dan mata pria itu saling bertatapan.
Alina gugup setengah mati ketika dipandangi seperti itu. Jantungnya berdetak dengan kencang. Jarak wajahnya dengan wajah suaminya sangat dekat. Bahkan ia bisa mencium harumnya napas yang beraroma mint itu. Tanpa sadar ia memegang dadanya yang dimana detakan itu terjadi. Ada apa dengan jantungnya? Kenapa berdetak sangat kencang? Apa ia punya penyakit jantung? Jika iya, tentu dirinya harus periksa ke dokter. Pikir Alina.
Mike yang melihat Alina melamun didepannya, menaikkan sebelah alis. Ia menerka bahwa istri mungilnya sedang memikirkan sesuatu. Yang pasti itu sesuatu tentang dirinya.
"Ada apa?" tanya Mike.
Alina yang mendapat teguran seperti itu, seketika tersadar dari lamunannya. Ia menundukkan wajah karena malu tertangkap basah karena melihat wajah suaminya terang - terangan. Hei, itu tak masalah bukan. Mereka sudah menikah, hal yang lumrah jika mengagumi bahkan menyukai suami sendiri. Bahkan jika ingin melakukan hal yang lebih, boleh – boleh saja. Eh? Buru – buru, ia tepis pemikiran konyolnya.
Alina masih diam tanpa berniat menjawab teguran suaminya. Ia bingung ingin menjawab seperti apa, tidak mungkin jika ia menjawab dengan jawaban bahwa dirinya sedang melamunkan suaminya yang sangat tampan sehingga membuat jantung berdetak kencang.
Jika ia menjawab dengan jawaban seperti, yang ada dirinya yang malu. Dan mungkin akan ditertawakan oleh suaminya. Walaupun statusnya sudah menjadi istrinya, tapi rasa malu itu tetap masih ada. Entah sampai kapan, Alina tidak tahu yang pasti.
"Tidak ada apa - apa." Bohong Alina. Lantas ia menundukkan wajahnya, guna menghindari tatapan suaminya yang sangat mengintimidasi. Tatapan matanya itu memang tajam bukan main. Jika tatapan itu sebuah laser, mungkin sudah dari awal wajahnya akan berlubang karenanya.
"Kau ingin tidur lagi atau pulang?" tanya Mike sembari menikmati wajahnya istrinya. Kapan lagi ia akan menikmati wajahnya dari dekat seperti ini. Karena belum tentu jika berada dirumah mereka akan bertatapan. Sebelum itu terjadi, sang istri mungkin akan menghindarinya dengan berbagai alasan.
Alina mengkerutkan dahi mendengar penuturan suaminya.
"Memang sekarang jam berapa?" tanya Alina. Bukan menjawab tapi malah menimpalinya dngan pertanyaan yang lain.
"Empat lebih tiga puluh. Setengah lima." Jawab singkat Mike.
Alina sedikit terkejut. Artinya, ia sudah tidur cukup lama. Ia meruntukinya. Tanpa sadar ia mengetuk kepalanya sendiri. Mike yang melihat itu terkekeh geli.
"Maaf. Aku ketiduran. Aku sedikit kelelahan." Lirih Alina.
"Tidak apa - apa. Pekerjaanku sudah selesai. Mau pulang sekarang?" usul Mike. Alina mengalihkan pandangannya ke arah suaminya. Dan mengangguk tanda setuju. Ia ingin cepat - cepat pulang dan tidur di kasurnya yang lembut.
"Bersiap - siaplah. Benahi pakaian dan dandananmu. Aku tunggu di luar." Mike bangkit dari tidurnya, turun dari ranjang dan mulai melangkahkan kakinya keluar. Ia perlu membereskan beberapa berkas yang berserakan. Setelah itu ia akan pulang bersama istrinya.
Jam operasional kerja di kantor Mike sendiri berbeda - beda. Tergantung divisi apa ia bekerja. Jika mereka sudah menyelesaikan pekerjaan mereka, tentu mereka akan pulang. Sebelum pulang, mereka harus menyerahan hasil kerjanya pada Mike dan Mike akan memeriksanya.
Jika tak ada kesalahan dalam pekerjaan mereka, Mike akan meminta mereka pulang. Mike sendiri tidak masalah jika ia pulang lebih akhir daripada karyawannya. Ia lebih suka menghandle segala pekerjaan dengan tangannya sendiri. Menurutnya itu lebih cepat dan memuaskan.
****
Alina selesai dengan berbenahnya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. ia melihat suaminya duduk. Ia sudah rapi bahkan meja yang tadinya berantakan, sekarang sudah rapi.
"Aku sudah selesai." Ujar Alina.
Mike menoleh melihat istrinya. Ia mengamati istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Perfect. Satu kata untuk istrinya. Walaupun wajahnya sedikit sayu karena sehabis bangun tisur, namun itu tidak mengurangi kadar kecantikkan alami istrinya.
Mike berdiri dan berjalan menghampirinya. Ia mengulurkan tangan. Alina memperhatikan tangan Mike sejenak, lalu melihat wajah Mike yang memintanya untuk menyambut uluran tangannya.
Seakan mengerti tatapan itu, tak membutuhkan waktu yang lama Alina menerima uluran itu. Ia tersentak kaget saat tangannya bersentuhan dengan suaminya. Seperti ada aliran listrik yang mengalir di sekujur tubuhnya. Dan aliran itu merambat menuju jantungnya. Akibatnya, jantung Alina menjadi berdetak sangat kencang.
Lagi - lagi seperti ini. Aku memang harus periksa ke dokter. Pikirnya.
Mereka melangkah kakinya keluar ruangan. Alina berjalan di samping suaminya. Ia melihat keluar, dan ternyata suasana kantor sudah mulai sepi. Ia melihat meja sekertaris suaminya masih ada orang.
Thomas yang Alina ketahui, masih disana. Ia seperti menunggu atasannya menyelesaikan pekerjaan. Melihat kedatangan atasannya sekaligus majikannya, Thomas bergegas berdiri dan menyambut mereka.
"Tuan dan Nyonya. Selamat sore." Sapanya ramah sembari tersenyum.
"Aku akan pulang dengan istriku. Kau kembalilah setelah semua selesai. Setelah itu temui aku di mansion." Ujar Mike.
Thomas mengbungkukkan badan tanda mengerti. Setelah itu, Mike dan Alina melanjutkan langkahnya menuju Lift. Tak membutuhkan beberapa lama, lift pun terbuka dan mereka masuk. Lift yang digunakan merupakan lift khusus untuk pemimpin perusahaan. Jadi tidak akan heran, jika mereka menggunakannya tanpa menunggu lama.
Mereka sampai dilantai satu. Suasana di lantai satu sedikit sepi. Hanya beberapa orang yang berlalu lalang. Mereka masih bekerja dengan membawa tumpukan - tumpukan berkas.
Ketika Mike dan Alina melewati mereka, para karyawan memberhentikan aktivitas mereka guna melihat atasan mereka yang sedang berjalan sambil menggandeng tangan istrinya. Semua yang ada disana bahkan dunia pun tahu bahwa seorang Jonathan Mike Antonio sudah memiliki istri.
Mereka juga datang saat pernikahan Mike, karena Mike sendirilah yang mengundang mereka.
Para karyawan menyapa Mike dan Alina. Mike hanya diam tanpa membalas, sedangkan Alina tersenyum canggung karena ia merasa sedikit malu. Karyawan yang bekerja di perusahaan Mike sudah hapal dengan watak atasan mereka. Mike memang sosok yang dingin dan tanpa berbelas kasihan.
Alina melihat ke arah Mike. Sedari tadi ia menyadari satu hal. Setelah mereka keluat dari lift dan menuju keluar gedung, Mike sama sekali tidak membalas sapaan karywannya. Alina menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti bagaimana sifat Mike yang seperti itu.
"Kau tidak menyapa mereka?" tanya Alina. Mereka berhenti sebentar dan Mike menoleh kearah Alina. Ia mengangkatkan sebelah alisnya. Ia tahu maksud istrinya. Namun Mike hanya acuh tak acuh. Ia tak peduli. Baginya, ia hanya ingin kinerja para karyawannya selalu terjaga.
Saat mereka akan melanjutkan langkah kakinya, Alina menarik lengan Mike. Mereak berhenti sekali lagi.
"Apa...?" tanya Mike. “Kau mengatakan apa barusan?”
"Mengapa kau tidak menyapa mereka? Mereka sudah menyapamu." Terang Alina. Ia merasa sedikit kesal dengan tingkah laku suaminya. Bagaimana bisa ada orang yang menyapa dirinya, tetapi ia tidak menyapanya juga.
"Untuk apa?" tanya Mike sekali lagi. Alina berdecak. Ia melepaskan pegangannya dari lengan suaminya. Mike hanya diam menunggu kelanjutan aksi istrinya.
"Bukankah itu tanda saling menghormati satu sama lain? Jika mereka menyapamu, itu artinya mereka menghormatimu. Jika kamu tidak membalas sapaan mereka, itu artinya kau tidak menghormati mereka." Ujar Alina.
"Walaupun mereka karyawanmu, setidaknya sapalah mereka dengan senyuman." Lanjut Alina.
Mike masih diam menunggu istrinya selesai berbicara. Alina pun menunggu respon dari suaminya.
"Aku adalah pemimpin mereka. Itu hal yang wajar jika mereka mnghormatiku." Jawab singkat Mike setelah beberapa diam.
Alina memutar bola matanya jengkel. Ia menyerah. Sulit sekali memberitahu Mike. Pria dingin dnegan sejuta rahasi misteriusnya.
"Baiklah. Terserah dirimu saja." Jawab Alina pada akhirnya. Belum selesai disana saja, Alina kembali berujar, “Tapi – sesekali tidak ada salahnya untuk menyapa mereka, bukan?”
Mike berhenti, pun dengan Alina setelah mendengar penuturan gadis itu. “Mengapa harus?” menoleh, melihat ekspresi gadis itu yang akan menjawab pertanyaannya. “Seperti yang kukatakan barusan. Kita akan dihargai, jika kita menghargai mereka juga.”
Pembicaraan mereka, menurut Mike semakin menarik. Istrinya mulai berani untuk mengutarakan pendapat dan sedikit membantahnya. “Begitu?” Alina mengangguk. “Tentu saja.” Mike tersenyum miring. Merasa lucu dengan pemikiran istrinya yang mengharuskan dirinya untuk menghargai mereka. Karena menurutnya, itu tidak perlu.
Mereka bekerja untuknya, bukan untuk orang lain. Tentu, mereka harus menuruti dan menjalani segala peraturan darinya. Masalah menghargai orang lain, itu tergantung dengan dirinya. Siapa yang berkuasa, akan dihargai. Dan itu adalah dirinya. Jonathan Mike Antonio yang berkuasa, maka ia harus dihargai.
Tak ada pembicaraan lebih lanjut, mereka melangkahkan kakinya menuju basement menuju mobil Mike yang sudah terparkir. Mereka memasuki mobil. Mike mulai menyalakan mobil dan melajukan mobilnya keluar dari gedung. Tak lupa ia mengenakan sabuk pengaman. Ia menoleh istrinya untuk memastikan bahwa ia juga memakai sabuk pengaman. Ternyata, istrinya sudah memakainya.
Perjalanan mereka hanya diisi suasana hening. Mereka sama - sama diam. Alina melihat pemandangan melalui kaca jendela sebelah kanan. Ia sibuk memikirkan kehidupan pernikahan mereka di masa depan. Sedangkan Mike, ia fokus dengan menyetir. Sesekali ia melirik istrinya. Ia menambah kecepatannya. Alina yang merasakannya hanya diam. Ia percaya sepenuhnya pada Mike tentang keselamatannya.
****
-Antonio’s Mansion, Capital City – Paris | 05.15 pm-
Mereka sampai di mansion. Mike memarkirkan mobilnya di basement khusus untuk koleksi mobilnya. Alina melihat - lihatnya. Ia berdecak kagum melihat berbagai jenis mobil mewah yang berjejer rapi di tempat parkir. Seberapa kaya sebenarnya suaminya ini. pikirnya. Seperti tak ada habis - habisnya kekayaan sang suami.
"Masuklah lebih dulu. Aku akan menyusul." Ujar Mike.
Alina yang mendapat perintah itu hanya menurutinya tanpa mau bertanya. Karena ia tahu bahwa suaminya mungkin sibuk dengan pekerjaan sehingga perlu menghubungi karyawannya.
Setelah melihat kepergian istrinya, Mike menghubungi Thomas, tangan kanannya.
"Ada perkembangan apa diperusahaan cabang?" tanya Mike.
"Ada seorang karyawan yang melakuka korupsi. Korupsi itu dilakukannya karena ia menggunakan uang itu untuk berjudi, Tuan. Akibatnya perusahaan mengalami kerugian besar." Jelas Thomas.
"Tangani itu. Bawa dia kehadapanku." Perintah Mike pada Thomas. Mike tidak akan membiarkan orang yang membuatnya rugi pergi begitu saja. Ia harus memberinya pelajaran. Kalau perlu ia akan menghabisinya.
"Baik Tuan."
Tanpa menjawab, Mike memutuskan sambungan dan keluar dari mobilnya. Ia melangkahkan kakinya memasuki mansion. Para pelayan menyambutnya. Mike tetap berjalan mengabaikan para pelayan yang menunduk hormat. Berjalan dengan tangan dimasukan kedalam saku celananya. Menambah kadar ketampanannya.
Ia masih memakai pakaian kantor yang ia kenakan sedari pagi. Walaupun sedikit kusut, tapi masih melekat rapi di tubuhnya.
Ia berjalan ke lantai atas menuju kamarnya dan istrinya. Ia membuka pintu dan melihat istrinya sedang memegang ponsel. Ia berhenti sejenak untuk melihat istrinya. Ia menutup pintu.
Alina mendongakkan kepala saat mendengar bunyi pintu tertutup. Disana ia melihat suaminya berdiri memandanginya setelah menutup pintu. Alina melihat dalam diam begitu juga Mike.
Mike melihat istrinya yang masih memakai pakaian saat mereka di perusahaan siang tadi. Masih cantik. Bahkan tanpa polesan make up ataupun aksesoris yang menghiasi keindahan tubuh istrinya.
Mike berjalan mendekati istrinya. Dilihat istrinya bergerak sedikit gelisah dan gugup tak lupa mata Alina setia mengikuti setiap gerakan Mike. Mike tetap berjalan dengan santai. Sampai pada akhirnya ia berhenti tepat dihadapan istrinya yang duduk dipinggir ranjang mereka. Mike tetap diam.
Alina yang sedari tadi diam mulai sedikit gelisah dan gugup. Ia menunggu apa yang akan dilakukan suaminya. Ia mendongak ke arah suaminya. Ia bahkan lupa jika tangannya masih memegang ponsel.
"A..ada apa?" tanya Alina sedikit gugup. Mike masih tetap diam.
Tak lama, ia membungkukkan badannya dan menyejajarkan wajahnya dengan wajah Alina. Mata tajamnya memandang mata bening Alina. Beautiful eyes. Pikir Mike. Alina yang dipandangi dari dekat mendadak gugup dan pipinya berubah merah. Mike terkekeh melihatnya.
Lantas, Mike kembali berdiri tegak sambil memasukkan kedua tangannya disaku celana. Berjalan mendekati Alina dan menatap dengan pandangan yang dalam.
"Segeralah bersiap - siap untuk makan malam. Setelah itu datanglah ke ruang kerjaku. Aku menunggumu disana." Ujar Mike. Alina yang mendengarnya langsung menatap wajah Mike, lebih tepatnya pada kedua bola mata Mike.
"Kau tidak ikut makan malam denganku?" tanya Alina. Merasa heran ketika pria itu menyuruhnya makan, namun dirinya sendiri tidak makan.
"Tidak. Aku masih kenyang. Kau makanlah terlebih dahulu." Ujar Mike sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan membersihkan badan.
Alina yang melihat kepergian Mike hanya diam. Ia bingung dengan kehidupan Mike yang terkesan monoton. Hidupnya seperti robot. Kerja, keja, dan kerja. Tidak ada hiburan lain. Bisa dibilang mungkin Mike memang robot.
Alina mendesah pelan. Ia harus memikirkan cara agar suaminya itu tidak terlalu bekerja dengan keras. Ia bukan robot. Dia itu manusia dan butuh istirahat. Ia bahkan bisa membayangkan jika Mike kurang tidur. Jangankan tidur, makan pun jarang. Sekarang, ia jadi memikirkan apa yang dulu pernah ia impikan saat dewasa ketika akan bekerja. Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi.
Melihat Mike yang gila bekerja sampai lupa waktu untuk makan dan istirahat, membuatnya mengurungkan niat untuk bekerja seperti itu. Menurutnya, itu sangat berlebihan. Bagaimana jika sampai sakit lalu mati? Membayangkan itu saja ia tak mampu.
Alina memutuskan untuk mengubah gaya hidup suaminya. Ia akan memulainya dari kebiasaan suaminya di rumah. Untuk yang lain akan ia pikirkan nanti.
****