Ruang latihan band kampus berada di basement gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. Tempat itu kecil, berdinding karpet peredam suara yang sudah usang, dengan bau khas campuran keringat, kabel listrik, dan kopi tumpah. Tapi bagi anggota Senar Senja, band kampus yang sudah berdiri tiga tahun, ruangan itu adalah rumah kedua.
Senja menggebrak simbal terakhir, lalu meletakkan stik drumnya dengan kasar di atas snare. "Jadi gini terus?" tanyanya, suaranya tajam memotong dengungan amplifier. "Festival tinggal tiga minggu lagi, dan kita nggak punya vokalis."
Di pojok ruangan, Rama, sang bassist sekaligus ketua band, mengusap wajahnya yang lelah. "Gue udah hubungi Vito tadi pagi. Dia beneran nggak bisa, Sen. Orang tuanya minta dia pindah ke Surabaya. Minggu depan dia udah angkat kaki dari kota ini."
"Minggu depan." Senja mengulang kata itu seolah tidak percaya. Ia berdiri dari belakang drum kit, tubuhnya yang ramping tapi kuat bergerak penuh frustrasi. Rambut sebahunya yang dikuncir asal bergoyang. "Tiga tahun kita ngejar panggung Festival Musik Cendana, Ram. Tahun ini kesempatan kita. Juri dari label besar bakal datang. Dan sekarang kita kehilangan vokalis di detik terakhir?"
Pinta, sang keyboardis, mencoba menenangkan. "Kita cari pengganti. Pasti ada yang mau."
"Yang mau banyak," sahut Senja. "Yang bisa nyanyi sambil bawa lagu kita, yang punya rasa, yang nggak cuma teriak-teriak di mikrofon, itu yang langka. Lo tau sendiri lagu ciptaan kita butuh karakter."
Ruangan jatuh dalam keheningan yang berat. Mereka semua tahu Senja benar. Senar Senja bukan band yang memainkan lagu orang lain. Mereka punya tiga lagu original, ditulis dengan susah payah selama setahun terakhir, dan setiap lagu butuh suara yang bisa membawanya hidup. Vito, vokalis mereka, punya suara serak yang pas. Kehilangan dia tiga minggu sebelum festival sama saja kehilangan jantung.
Rama memetik bass tanpa tujuan, menciptakan nada-nada rendah yang mengisi keheningan. "Gue udah mikir," katanya akhirnya. "Mungkin kita harus mundur dari festival tahun ini."
"Nggak." Senja berkata cepat, hampir refleks. "Gue nggak mau dengar kata itu."
"Sen, realistis aja."
"Realistis?" Senja menatap Rama tajam. "Lo tau berapa banyak yang udah gue korbanin buat band ini? Gue bolos kerja paruh waktu buat latihan. Gue nahan-nahan biar nggak diomelin emak gue yang nyuruh gue fokus skripsi. Dan sekarang lo nyuruh gue nyerah?"
Pinta dan gitaris mereka, Galih, saling pandang. Mereka tahu betapa pentingnya band ini bagi Senja. Bagi gadis itu, drum bukan sekadar hobi. Itu satu-satunya tempat ia bisa meledakkan semua emosi yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Kita coba cari dulu," kata Galih menengahi. "Tiga minggu masih ada. Kita audisi, kita tanya-tanya. Pasti ketemu."
Senja mengangguk, meski matanya masih menyimpan kekecewaan. "Gue mau kita serius. Sebar info ke semua angkatan. Audisi minggu ini. Siapa pun yang punya potensi, kita kasih kesempatan."
Malam itu, setelah yang lain pulang, Senja masih duduk sendiri di belakang drum kit. Ia memutar stik di antara jari-jarinya, menatap kursi kosong di depan mikrofon. Kursi yang biasanya diduduki Vito. Sekarang kosong, dingin, seperti gigi yang baru saja tanggal.
Ia mengetuk pelan snare, satu kali, dua kali. Lalu ia mulai bermain. Tanpa band, tanpa lagu, hanya ritme yang mengalir dari dalam hatinya. Tap, tap, tak-tak, dum. Drum adalah satu-satunya bahasa yang membuat Senja merasa dimengerti. Ayahnya pergi saat ia kecil. Ibunya bekerja keras membesarkannya seorang diri. Sejak SMP, Senja belajar bahwa hidup tidak menunggu siapa pun yang lemah. Maka ia memilih menjadi keras. Keras kepala, keras hati, keras dalam memukul drum hingga jemarinya melepuh.
Tapi di balik kerasnya, ada kepedulian yang dalam. Ia tidak pernah memberitahu siapa pun, tapi alasan ia begitu ngotot soal festival bukan demi dirinya sendiri. Itu demi Senar Senja, demi teman-temannya yang ia anggap keluarga, demi mimpi kolektif yang mereka bangun bersama. Ia tidak akan membiarkan mimpi itu mati hanya karena satu kursi yang kosong.
Senja berhenti bermain. Ia menatap langit-langit basement yang penuh kabel dan lampu remang. "Di mana lo, vokalis yang gue cari?" gumamnya pada keheningan.
Ia tidak tahu jawabannya. Tapi takdir punya cara aneh menjawab pertanyaan. Esok harinya, saat Senja berjalan melintasi pelataran kampus, ia akan mendengar sesuatu, sebuah suara, hanya beberapa bait yang dinyanyikan tanpa sadar oleh seseorang. Dan suara itu akan mengubah segalanya.