Hari itu mendung. Awan kelabu menggantung rendah di atas kampus, dan udara terasa lembap menjelang hujan. Aksa duduk sendiri di bangku taman belakang fakultas, tempat yang jarang dilewati orang. Di tangannya ada secangkir kopi dingin dari kantin, dan di pangkuannya ada buku catatan yang sebenarnya tak ia baca.
Ia sedang memikirkan Kak Reno lagi. Pagi tadi ibunya menelepon, suaranya bergetar seperti biasa setiap kali membahas anak sulungnya. "Belum ada kabar, Sa. Mama udah coba hubungi semua temannya. Nggak ada yang tau di mana dia." Aksa hanya bisa diam, menelan rasa marah dan rindu yang berbaur jadi satu.
Tanpa sadar, ia mulai bersenandung. Sebuah lagu lama, lagu yang dulu sering Kak Reno mainkan di teras rumah saat senja turun. Liriknya tentang seseorang yang pergi dan janji untuk kembali. Suara Aksa keluar pelan, parau, tapi murni, mengalir bersama angin sore yang mulai berembus.
Ia tidak tahu ada yang mendengar.
Beberapa meter di balik pagar tanaman, Senja terpaku. Ia baru saja hendak melintas menuju basement, tapi langkahnya terhenti. Suara itu. Suara yang menembus dengung kampus, suara yang membawa sesuatu yang sulit ia jelaskan. Bukan suara yang sempurna secara teknis, bukan suara penyanyi terlatih. Tapi ada luka di dalamnya, ada kejujuran yang membuat bulu kuduk Senja berdiri.
Senja mendekat perlahan, mengintip dari balik tanaman. Ia melihat seorang pemuda duduk sendirian, kepala tertunduk, bersenandung seolah dunia tidak ada. Wajahnya tidak asing, ia pernah melihat pemuda itu beberapa kali di kampus, selalu sendiri, selalu menghindar.
Lagu itu berakhir. Aksa menghela napas, menutup buku catatannya.
"Suara lo bagus."
Aksa tersentak. Ia menoleh dan melihat seorang gadis berdiri tak jauh darinya, mengenakan kaus hitam berlengan pendek yang memperlihatkan otot lengannya yang terbentuk. Rambutnya dikuncir asal, dan ada tatapan tajam di matanya yang membuat Aksa langsung waspada.
"Lo dengar?" tanya Aksa, wajahnya memerah.
"Seluruh taman dengar," kata gadis itu, meski sebenarnya hanya ia. Ia melangkah mendekat tanpa diundang dan duduk di ujung bangku yang sama. "Gue Senja. Penabuh drum di Senar Senja, band kampus. Lo pasti udah pernah dengar."
Aksa menggeleng pelan. "Nggak ikut-ikutan yang gituan."
"Sayang banget," kata Senja, menatapnya lekat. "Karena gue lagi nyari vokalis, dan suara lo persis yang gue butuhin."
Aksa langsung berdiri, refleks. "Lo salah orang."
"Tunggu dulu." Senja ikut berdiri, menghadangnya. "Festival Musik Cendana tiga minggu lagi. Vokalis kami pindah kota. Kami butuh seseorang yang bisa nyanyi sambil bawa rasa. Dan barusan, lo nyanyi kayak orang yang ngerti rasa sakit. Itu yang nggak bisa diajarin."
Kata-kata itu menusuk Aksa lebih dalam dari yang Senja sadari. Orang yang ngerti rasa sakit. Ya, ia mengerti. Terlalu mengerti. Tapi justru karena itulah ia tidak bisa.
"Gue nggak bisa," kata Aksa, suaranya tegang. "Gue nggak naik panggung. Gue nggak nyanyi di depan orang. Gue cuma..." Ia berhenti, tak tahu bagaimana menjelaskan dua tahun keheningan yang ia bangun.
"Lo cuma takut," kata Senja, blak-blakan.
Aksa menatapnya tajam. "Lo nggak kenal gue."
"Emang nggak," aku Senja. "Tapi gue kenal sama orang yang lari dari sesuatu yang dia cintai. Gue liat itu di mata lo." Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku, menuliskan sesuatu, lalu menyodorkannya. "Ini alamat basement latihan kami. Besok jam empat sore. Lo nggak harus janji apa-apa. Cuma datang, dengerin, terus mutusin sendiri."
Aksa menatap kertas itu tanpa mengambilnya. "Gue nggak bakal datang."
Senja tersenyum kecil, senyum yang penuh tantangan. Ia menyelipkan kertas itu ke dalam buku catatan Aksa, di antara halaman-halaman kosong. "Kalau gitu, jangan datang. Tapi kalau lo nggak datang, lo bakal nyesel seumur hidup, karena lo bakal selamanya jadi orang yang nyanyi sendirian di taman, takut sama suaranya sendiri."
Lalu Senja berbalik dan pergi, meninggalkan Aksa yang terpaku. Hujan mulai turun, rintik-rintik pertama membasahi tanah. Aksa berdiri di bawah pohon, menatap punggung gadis itu yang menghilang di tikungan koridor.
Ia membuka buku catatannya. Secarik kertas itu masih di sana, tulisan tangan Senja yang tegas dan miring. Basement PKM, jam 4. Aksa hendak meremasnya, membuangnya. Tapi tangannya berhenti. Ada sesuatu dalam dirinya, sesuatu yang sudah lama tertidur, yang tiba-tiba terbangun mendengar tantangan gadis itu.
Selamanya jadi orang yang takut sama suaranya sendiri.
Aksa menutup buku catatan dengan kertas itu masih di dalamnya. Ia berjalan pulang menembus hujan, dan sepanjang perjalanan, kata-kata Senja terus berputar di kepalanya, bersaing dengan bayangan Kak Reno dan gitar yang terbungkus kain di balik lemari.