Nadine dan Joseph saling menatap. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa hidup Ilana seburuk itu. Sungguh. Nadine pernah berpikir bahwa hidup gadis itu sempurna. Gadis itu pintar, cantik juga kaya. Hal yang membuatnya selalu berpikir bahwa Ilana seharusnya mensyukuri hidupnya. Hal yang selalu membuatnya iri karena merasa gadis itu punya segalanya.
Tapi mendengar bagaimana gadis itu bercerita mengenai ibunya, juga lebam di sekujur tubuhnya, Nadine sadar bahwa ia salah menilai hidup gadis itu. Gadis itu kesepian, juga kesakitan. Gadis itu memendam semuanya sampai saat ini. Gadis itu menderita, di bawah pengawasan ibu yang seharusnya memberikan perlindungan untuknya.
“Aku akan membeli obat ke apotik.” Joseph berbisik pada Nadine yang langsung mengangguk. Setelah menggagalkan upaya bunuh diri