Haikal menyusuri koridor lantai satu dengan perasaan aneh. Ia tahu bahwa beberapa adik kelas yang ada di sana meliriknya sambil berbisik-bisik dengan teman sebelahnya. Ia menarik napas panjang. Mencoba mengusir perasaan gelisah yang tiba-tiba menyelimutinya.
Pagi ini, ia bangun dengan antusias luar biasa. Selesai membersihkan diri dan memakai seragamnya, ia mematut dirinya di depan cermin lama-lama. Ia senang melihat sosoknya yang baru. Melepas bracket dan kacamata ternyata bisa mengubah penampilannya sedemikian rupa. Tak hanya dirinya, keluarganya pun memuji penampilannya. Membuatnya semakin percaya diri.
Ia menaiki tangga menuju lantai tiga, masih dengan tatapan yang mengikutinya. Tapi sekali lagi, kali ini ia cukup percaya diri dengan penampilannya.
“Bukankah itu Haikal?” suara it