Bel masuk menggema. Haikal masih mematut wajahnya dengan khawatir. Tinta itu masih terlihat cukup jelas di bagian atas bibirnya, juga di sebelah pipinya. Ia tidak mungkin mengikuti jam pelajaran dengan wajah seperti ini. Ia bisa menjadi bahan olok-olokan seharian ini dan ia tidak siap. Hatinya sudah sangat sakit mendengar tawa orang di sekelilingnya.
Haikal masih berdiri di depan wastafel saat seseorang masuk ke dalam toilet. Ia menoleh dan melihat Joseph mendekatinya. Laki-laki itu merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan masker dari sana lalu mengulurkannya ke arahnya
“Bilang saja kamu sedang flu.” katanya.
“Terima kasih.” kata Haikal. Masker itu berpindah tangan. Haikal memakainya dan kembali menatap ke cermin di depannya. Masker itu cukup membantu karena menutupi sebagian wajahnya