Dengan rambut, wajah dan seragam yang sudah kotor karena tepung, kecap, saus, dan telur mentah, Haikal menaiki tangga menuju lantai paling atas. Matanya memerah karena sejak tadi menangis. Beberapa anak yang masih berada di sekolah menatapnya dengan tatapan kasihan. Tatapan yang sangat dibencinya. Tatapan yang sudah membuatnya muak. Ia tidak ingin lagi ditatap seperti itu.
Dadanya terasa sesak oleh amarah dan banyak rasa yang ia sendiri tak tahu mana yang lebih dominan. Namun yang ia tahu adalah, ia tidak bisa lagi mengalami ini. Ia tidak akan sanggup lagi mendapatkan perlakuan seperti ini. Ia pikir ini adalah batas akhir kesabarannya. Ia tidak sanggup menunggu sampai hari kelulusan. Hidupnya di sekolah ini sudah seperti di neraka.
Haikal menyusuri koridor lantai empat sekolah itu. Lor