PoV Syafiq
"Gimana tadi pas belanja Teh, kurang nggak uangnya?" Tanyaku pada Kayla.
"Alhamdulillaah cukup, A. Ini masih nyisa malahan uangnya sekitar 300 ribuan kayanya." Jawab Kayla, sembari beranjak mengambil catatan belanjanya siang tadi di laci meja samping tempat tidur.
"Ini A, rinciannya." Ujarnya sambil menyodorkan struk belanja dari salah satu supermarket grosir.
"Alhamdulillaah atuh, banyak yang di diskon ya ini. Pantesan uangnya nyisa. Padahal Aa hitung mah kayanya kurang." Ucapku dengan mata melihat rincian struk belanja bulanan kami, yang ternyata saat ini sedang ada diskon besar-besaran di supermarket tersebut.
"Iya, tadi juga itu belanja padahal udah aku lebihin dari jumlah yang mau dibeli di catetan. Mampang mempeung, A. Hehe."
"Pinteeer, manfaatin momen ya." Kupuji istriku sambil mengacak sedikit rambut sepinggangnya yang panjang tergerai. Aroma shampoo yang menguar agak sedikit mengusik indra penciumanku.
Kuraih bahu Kayla agar ia bersandar padaku, karena aroma lembut yang menguar dari rambutnya membuatku merasa rileks saat menghirupnya.
"Iya, atuh. Jarang-jarang soalnya ada diskonan. Hehe."
"Yaudah, sisa uangnya buat Teteh aja, tambahan buat uang bulanan."
Senyum cerianya terkembang setelah mendengar ucapan dariku. Karena pantang bagiku mengambil kembali apa yang sudah kuberikan. Apalagi ini kuberikan pada istri sendiri. Engké pabalik létah kalau kata orang tua dulu.
"Beneran, A? Asiiiik! Alhamdulillaah, rejeki istri sholehah!" Girang istriku, membuatku gemas melihatnya.
"Oh iya, A. Tadi pas di Superindo, aku ketemu Raihan. Aa inget kan sama dia?"
"Iya, inget. Raihan mantan kamu kan? Yang waktu itu dateng ke resepsi pas acara udah beres."
"Iya, bener. Nah, aku kan kaget tuh, A, karena dia nepuk bahu kan. Udah gitu penampilannya juga beda dari pas terakhir kali aku ketemu dia dulu."
"Oh ya? Sama siapa dia?"
"Aku lihat sih sendiri, A. Nah trus dia kan minta nomerku pas aku pamit mau nerusin belanja, karena gak nyaman aja gitu cuma berduaan. Yaa... Meskipun rame disana tapi cara dia pas natap aku asa bikin risih. Udah aja tadi ku kasih nomer Aa. Jadi biar kalo dia ada perlu, ngomong nya lewat Aa aja."
"Lah, perlunya sama kamu, kok yang dikasih nomer Aa."
Akupun menepuk jidat mendengar cerita dari istriku ini. Memang sebaik itu ia menjaga marwahnya sebagai seorang istri. Hampir semua teman lelakinya jika ada yang meminta nomor teleponnya, pasti selalu nomorku yang diberikan. Hanya sahabat yang benar-benar dekat saja yang punya nomornya atau yang memang sudah menyimpan nomor nya sebelum kami menikah.
Tak berhenti disitu cerita Kayla, dia menceritakan semua aktifitasnya di hari itu padaku. Ekspresi dan intonasinya yang berubah-ubah membuatku gemas. Sambil mendengarkan ceritanya dan kadang menanggapinya, kubelai rambut ash brown panjang miliknya yang tak pernah kuberi ijin setiap kali istriku meminta ijin untuk potong rambut. Ya, aku melarangnya potong rambut karena aku lebih suka dengan rambut panjangnya. Jika rambutnya pendek, Kayla jadi terlihat semakin imut, karena postur tubuhnya yang juga kecil. Dengan rambut panjang dia penampilannya terlihat lebih dewasa, meskipun hanya aku saja yang bisa melihat rambutnya. Warna ash brownnya sendiri bukan karena diberi pewarna rambut, tapi memang sudah bawaan sejak lahir. Warnanya pas dengan kulitnya yang putih langsat.
"Aa, ih! Malah ngelamun!" Kayla mengomel dan mencubit pipiku.
"Eh, tadi ngomong apa?" Aku terperanjat karena memang sesaat tadi aku melamun. Bukan melamunkan perempuan lain ya, tapi melamunkan istriku sendiri saat aku pertama kali melihat rambut panjangnya di malam pernikahan kami.
"Hayo! Ngelamunin cewe ya!" Imbuhnya kesal.
"Iya, kok tau sih." Jawabku sedikit menggodanya agar cemburu.
"Halah, palingan juga ngelamunin aku, iya kan?" Tebaknya tepat sasaran. Aku pun cengar-cengir karena malu kepergok melamunkan istriku disaat orangnya ada dalam pelukanku.
"Aa mah dasar aneh, ih. Istri ada di depan mata masih aja dilamunin." Gerutunya karena heran dengan kelakuanku. Padahal aku sendiri pun heran, karena Kayla tak pernah terlihat cemburu, meski kerap kali ada saja perempuan yang mengirim pesan nyeleneh ke WhatsAppku.
Pernah aku tanya, kenapa dia tak pernah menampakkan kecemburuannya. Jawabannya saat itu adalah Gimana mau cemburu, Aanya juga mana sempet mikirin cewe lain, istri depan mata aja masih dilamunin. Segitu bucinnya ya, sama aku. Aku pun saat itu hanya bisa merasa keki, karena apa yang diucapkannya 100% fakta.
"Udah ah, hayu tidur. Udah gak bener diterusin juga kalo Aa udah mulai ngelamun mah." Ajaknya padaku, istriku pun merebahkan tubuhnya disisiku, dan tak pernah lupa lenganku diraihnya untuk dijadikan bantal hidup, dan tangan nya memeluk tubuhku untuk dijadikan guling hidup.
Aku tak pernah merasa bosan mendengarkan cerita-cerita darinya setiap sebelum tidur, karena bagiku itu penting sebab dengan begitu istriku yang imut ini bisa mengalirkan rasa yang dirasakannya setiap hari padaku. Entah itu senang, sedih, kesal, marah, kecewa, dan lain sebagainya. Penting karena jika tak dialirkan dengan ocehannya sebelum beranjak tidur, bisa dipastikan esok hari akan sangat mempengaruhi mood istriku ini yang memang mudah berubah-ubah. Repot kan kalau sampai harus dibawa ke psikolog hanya karena 20.000 katanya tidak tersalurkan.