PoV Syafiq
"Teh, kamu liat celana olahraga yang warna abu nggak?"
Hari ini adalah weekend, biasanya setiap hari sabtu dan ahad jadwalku dan Kayla untuk refeshing. Entah itu dengan berjalan-jalan di taman kota, ataupun berolahraga di GOR Saparua. Dan saat ini, aku sedang mencari-cari celana olahraga yang biasanya kupakai.
"Abu yang mana ai Aa? Itu kan di lemari ada." Jawab Kayla yang sedang berkutat dengan alat perang di meja rias. Kalau sudah waktunya jalan-jalan seperti ini, segala macam krim pasti ditempelkan ke wajahnya. Alasannya cuma satu, katanya biar tidak hitam karena efek sunburnt.
Ya buatku sih, nggak masalah. Toh menjaga penampilan kan memang penting. Agar suami tidak bosan melihat wajah istrinya. Bayangkan jika istri kita wajahnya kusam bin kucel, dijamin pasti kita akan mudah tertarik saat melihat perempuan yang bling-bling nan glowing diluaran sana.
Namun meski bermake-up, Kayla pun tahu batasan agar tidak bertabarruj. Make-up nya tipis natural. Jika dilihat sekilas mungkin orang akan mengira Kayla tidak pakai make-up. Memang dasarnya kulitnya sudah bagus sih, dengan dirawat jadi makin bagus.
Yang terpenting selain pandai merawat dirinya, Kayla juga sering memberikan perawatan wajah untukku, katanya agar mukaku bersih dan tak berjerawat. Saat kutanya, apakah tidak takut suaminya ini dikejar perempuan diluar sana jika wajahnya semakin tampan karena perawatan, dia jawab, 'Nggak perlu takut, kalo Aa selingkuh. Namanya kucing disodorin ikan ya pasti diembat. Tapi aku kan punya Allah, minta aja sama Allah supaya ngejaga mata dan hati Aa cuma buat aku.'
Kalau dibilang bucin, mungkin benar aku bucin pada istriku yang super cerewet dan bawel ini. Eits tapi bucinnya karena Allah ya. Biar bagaimanapun, jika rasa yang kita miliki pada pasangan tidak dilandasi dengan iman dan taqwa hanya pada Allah, maka yakinlah pasti kita sebagai kaum Adam akan mudah sekali tergoda oleh keindahan diluar sana. Jangan sampai kita menyia-nyiakan berlian hanya untuk ditukar dengan batu kerikil.
Kucoba untuk mencari lagi celana training yang hendak kupakai di lemari yang sudah tertata rapi oleh istri tercintaku. Biasanya kalau sudah aku yang mengambil pakaian di lemari, dipastikan setelahnya kondisi lemari tak lagi sesuai kondisi awalnya. Haha. Mungkin begitulah adanya, hampir semua lelaki sepertiku. Namun aku bersyukur karena Kayla tak pernah protes meski berulang kali aku tak sengaja menghancurkan isi lemari.
"Coba Aa liat di lemari paling atas yang tumpukan celana sebelah kiri. Celana yang Aa cari ada disitu." ujar Kayla lagi karena memperhatikanku dari cermin di meja riasnya, tak juga menemukan apa yang kucari.
Saat aku mengecek sesuai apa yang dikatakan istriku, rupanya benar saja celana itu ada diposisinya.
"Oh, iya, ada." gumamku saat berhasil menemukannya.
"Aa mah, da nyari yang jualannya, ya iyalah nggak akan ketemu sampe besok gé."
"Hehe, ya maaf, atuh. Kan, aa biasanya cuma tau make aja. Da udah disiapin di kasur sama istri aa yang cantik kaya bidadari ini."
"Yeee, malah ngegombal. Aku nggak mau ah digombalin mah. Kecuali ngegombal nya sekalian nambahin uang bulanan mah, diterima dengan senang hati." sahut Kayla saat aku sedikit menggombalinya, sambil memeletkan lidahnya dari cermin kepadaku.
"Uluh-uluuuh... Jadi ceritanya ada yang minta ditambahin uang bulanan nih?" ujarku sambil beranjak mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Kuhirup wangi yang menguar dari rambut dan tubuh Kayla. Sedikit membuat kelelakianku bangkit.
"Jangan cium-cium, A. Ntar malah gak jadi jalan kita." protes Kayla yang tahu gelagatku. Untung hanya bangkit sedikit, jadi masih bisa kutahan gairahku.
"Deuuu... jangan cemberut atuh. Yaudah, nanti Aa tambahin ya jatahnya. In syaa Allah bulan ini gaji aa dikantor naik. Kemarin manajer aa ngasih tau." sahutku mengiyakan keinginannya untuk naik uang bulanan.
"Beneran? Aa nggak bohong, kan?" sahut Kayla. Matanya nampak berbinar mendengar kabar baikku.
"Ya bener, atuh. Masa aa bohong."
"Alhamdulillaah... makasih ya, A. Akhirnya uang bulananku naik juga." timpal istriku ini sambil berbalik dan memelukku.
"Iya, sayang. Doain ya, biar rejeki aa makin dilancarkan."
"Aamiin, pasti atuh, A."
"Jadi berangkat apa mau olahraga di kasur?" tanyaku sambil menaik-turunkan alisku dan tersenyum jenaka.
"Ih, Aa. Olahraga beneran lah. Udah, ah. Hayu jalan. Kelamaan di kamar, Aa malah jadi kumat mesumnya."
Aku pun tertawa mendengar jawaban istriku. Wajahnya merona tersipu malu, tetapi mulutnya ngomel-ngomel karena aku menggodanya terus. Tangannya pun tak lepas memukul dadaku yang kurasakan seperti pijatan.
Kami berdua pun segera beranjak keluar dari kamar setelah Kayla menggunakan jilbabnya. Segera kupanaskan motor matic kami dan meluncur membelah jalanan di hari ahad yang cukup ramai dengan orang yang berjalan-jalan maupun berolahraga pagi.
Tak lupa bekal makanan serta air mineral pun menggantung di cantelan motor. Kayla memang menyiapkan semua keperluan kami hingga sedetail-detailnya, agar kami tak banyak jajan. Kan percuma juga membakar kalori dengan olahraga kalau akhirnya setelah olahraga malah diisi lagi dengan kalori dua kali lipat dari yang dibakar. Hahaha.