Gudang itu penuh sesak malam itu. Kabar bahwa Si Palu Garuda akan bertarung menyebar seperti api, dan ratusan orang berdesakan mengelilingi ring, asap rokok dan teriakan memenuhi udara. Uang taruhan mengalir deras, dan di lantai dua, Pak Broto duduk di kursi kulitnya dengan senyum penuh kepuasan.
Bima berjalan menuju ring, dibalut jubah usang, langkahnya tenang. Arga mengikuti di belakang sebagai pendampingnya, wajahnya tegang. Pak Darto dan Sinta berdiri di antara kerumunan, jantung mereka berdebar.
Di seberang ring, Gento sudah berdiri. Lebih besar dari yang terlihat di foto. Otot-ototnya menonjol seperti batu, tubuhnya penuh tato dan bekas luka, dan saat ia menatap Bima, ia tersenyum—senyum yang memamerkan kerinduan akan kekerasan.
"Itu dia," gumam Gento, suaranya berat seperti gemuruh. "Si Palu yang bunuh orang. Aku udah lama pengen tahu, gimana rasanya patahin tulang seorang juara."
Bima tak menjawab. Ia melepas jubahnya, menyerahkannya ke Arga. Tubuhnya, meski lebih kecil, terpahat keras oleh latihan brutal seminggu terakhir. Ia naik ke ring.
"Mas," bisik Arga, suaranya gemetar. "Hati-hati."
Bima menatap bocah itu. Untuk sesaat, ekspresinya melembut. "Apa pun yang terjadi, Arga. Kamu bukan bapakmu. Kamu bukan utang itu. Kamu bebas. Inget itu."
Lalu ia berbalik menghadap Gento.
Tak ada wasit yang sebenarnya. Hanya seorang lelaki dengan lonceng karat di sudut ring. Penonton hening sejenak, tegang, menanti.
Bima mengangkat tinjunya. Kuda-kuda sempurna. Tiga tahun bayangan, seminggu kebangkitan, dan satu malam takdir—semua mengalir ke momen ini. Ia menatap Gento, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tidak melihat wajah Reza. Ia tidak melihat masa lalu.
Ia hanya melihat lawan yang harus ia kalahkan untuk menyelamatkan satu nyawa.
Lonceng berbunyi.
Gento langsung melesat maju dengan kecepatan yang mengejutkan untuk tubuh sebesar itu. Tinjunya yang sebesar palu godam mengayun ke arah kepala Bima—pukulan yang bisa menghancurkan tengkorak.
Bima bergerak. Tubuhnya menunduk, pukulan itu lewat di atas kepalanya hanya beberapa sentimeter, deru anginnya terasa di kulit. Kerumunan meraung. Bima membalas dengan jab ke ulu hati, lalu melangkah mundur, gesit.
Gento menyeringai, menyeka tempat pukulan itu mendarat seolah hanya gigitan nyamuk. "Cepet juga kamu, Om Tua. Tapi cepet aja nggak cukup."
Ia menyerang lagi. Kali ini kombinasi—kiri, kanan, lalu sebuah hook yang Bima tak sempat hindari sepenuhnya. Pukulan itu menyerempet bahunya dan rasanya seperti dihantam mobil. Bima terhuyung, punggungnya menabrak tali ring.
Penonton menjerit. Di lantai dua, Broto mencondongkan tubuh, matanya berkilat.
Gento mendekat, mencium bau kemenangan, mengangkat kedua tinjunya untuk menghabisi.
Arga mencengkeram tali ring, jantungnya nyaris copot. "MAS!"
Tapi di tengah himpitan tali ring, dengan napas tersengal dan bahu yang berdenyut nyeri, sudut bibir Bima justru terangkat.
Karena ia merasakannya. Gento sudah melepaskan pukulan beruntun penuh tenaga dalam tiga puluh detik pertama. Dadanya naik turun lebih cepat dari seharusnya. Tubuh seratus sepuluh kilo itu sudah mulai membakar oksigen terlalu cepat.
Tepat seperti yang Bima rencanakan.
Bima menatap mata Gento yang mulai menyipit lelah, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia berbisik kata yang dulu selalu ia ucapkan sebelum menyerang balik:
"Sekarang giliran aku."
Ia melepaskan diri dari tali ring, melangkah maju, dan mengangkat tangan kanannya—tangan yang sama yang dulu merenggut nyawa sahabatnya, tangan yang membuatnya menjadi Palu Garuda.
Gento mengayunkan pukulan terakhirnya yang penuh keputusasaan.
Dan Bima melihat celah itu. Celah sempurna. Tepat di dagu.
Waktu seakan melambat. Seluruh gudang menahan napas. Arga, Sinta, Pak Darto, Broto—semua mata terpaku pada satu titik. Tangan kanan Bima mulai bergerak, membawa serta tiga tahun penebusan, satu janji kepada seorang bocah, dan bayangan seorang sahabat yang takkan pernah pergi.
Hook kanan. Pukulan terbaik dalam hidupnya.
Pukulan yang dulu membunuh. Pukulan yang kini, mungkin, akan menyelamatkan.