Tangan kanan Bima bergerak.
Dalam sepersekian detik itu, waktu seakan mengental seperti darah yang mengering. Bima merasakan seluruh hidupnya menyempit ke satu garis: dari tanah yang ia pijak, lewat pinggul yang berputar, naik ke bahu yang berdenyut, sampai ke kepalan yang dulu mereka juluki Palu Garuda. Tenaga dari tanah. Selalu dari tanah. Itu yang Pak Darto ajarkan dua puluh tahun lalu, itu yang ia bisikkan pada Arga tiga malam lalu.
Dagu Gento terbuka lebar. Raksasa seratus sepuluh kilogram itu baru saja melepas pukulan putus asa terakhirnya, pukulan orang yang paru-parunya sudah kosong, dan kini berdiri telanjang tanpa pertahanan. Celah yang sempurna. Celah yang sama persis seperti malam tiga tahun lalu, ketika hook kanan yang sama meluncur ke arah pelipis seseorang yang bukan musuh, melainkan saudaranya sendiri.
Reza.
Wajah Reza melintas di benak Bima secepat kilat. Senyumnya. "Aku mau menang dari versi terbaik kamu, Bim." Lalu tubuh yang ambruk, dan tak pernah bangun lagi.
Tidak.
Di puncak ayunan, ketika kepalan itu sudah tak bisa lagi ditarik kembali, Bima melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya bertinju. Ia memutar pergelangan tangannya. Bukan untuk menambah daya, tapi untuk mengaburkannya. Bukan untuk menembus tengkorak, tapi untuk membanting. Sudut benturan berubah—dari hook yang menghancurkan menjadi pukulan yang melontarkan. Ia mengubah palu menjadi tangan terbuka di detik terakhir nuraninya.
KRAK.
Bunyi itu menggema di gudang. Tapi bukan bunyi tulang yang patah—melainkan tubuh Gento yang terlempar ke samping, kaki raksasa itu kehilangan tanah, dan ambruk ke matras dengan getar yang terasa sampai ke kaki para penonton.
Gudang pelabuhan itu hening sejenak. Bau keringat, bau karet matras, bau darah dan rokok bercampur jadi satu. Lalu kerumunan meledak—tak jelas antara sorak dan kutukan, antara mereka yang memenangkan taruhan dan mereka yang kehilangan segalanya.
Bima tidak mendengar apa-apa.
Ia menjatuhkan diri berlutut di samping Gento. Tangannya gemetar—tangan yang sama yang baru saja melepas pukulan—ketika ia menempelkan dua jari ke leher raksasa itu, mencari nadi, mencari napas. Selama tiga tahun ia hidup dengan satu pertanyaan yang menghantui setiap subuh: bagaimana rasanya kalau aku bisa mengulang malam itu? Sekarang ia tahu. Rasanya seperti ini—lutut menempel matras kotor, jantung memukul rusuk dari dalam, dan dua jari yang menunggu jawaban.
Dada Gento naik.
Lalu turun. Lalu naik lagi.
Bernapas.
Sesuatu pecah di dalam Bima. Bukan kesedihan, bukan kemenangan. Sesuatu yang lebih tua dari keduanya, sesuatu yang sudah berkarat dan tertimbun selama tiga tahun. Ia menundukkan kepala sampai dahinya hampir menyentuh matras, dan untuk pertama kalinya sejak Reza jatuh, ia memukul seseorang dengan tangan kanannya—dan orang itu masih bernapas.
"Bang." Suara Arga, serak, dari pinggir ring. Bocah itu mencengkeram tali ring dengan buku-buku jari memutih, matanya basah. "Bang, kamu menang. Bang, kamu menang."
Bima tidak menjawab. Ia masih menatap dada Gento yang naik-turun seperti orang menatap matahari terbit setelah malam yang terlalu panjang.
Di lantai dua gudang, di balik kaca buram ruang pengawas, Pak Broto tidak bersorak. Lelaki bersetelan mahal itu berdiri tenang, cincin emas di jarinya berkilau pucat di bawah lampu, dan menatap ke bawah dengan wajah yang sulit dibaca. Di sampingnya, segepok uang taruhan—taruhan terbesar yang ia pasang atas kekalahan Bima, atas kematian yang ia yakin akan ia tonton malam ini—berpindah tangan menjauh darinya.
Broto tidak marah. Itulah yang paling berbahaya dari dirinya. Ia hanya merapikan ujung dasinya dengan dua jari, dan mengamati lelaki berlutut di tengah ring yang baru saja menolak membunuh.
"Menarik," gumamnya pada dirinya sendiri. "Si Palu Garuda menahan palunya."
Centeng plontos di sampingnya, Jagur, menelan ludah. "Bos, taruhannya—"
"Aku tahu berapa yang kita rugi, Jagur." Suara Broto tetap selembut beludru. "Uang bisa kembali. Yang tidak kembali itu—" ia menunjuk ke bawah, ke arah Bima, "—rasa malu kalau dia pergi dari sini sebagai pahlawan."
Di tengah ring, Bima akhirnya berdiri. Lututnya goyah. Bahu kanannya berdenyut tiap kali ia bernapas. Tapi ia berdiri, dan menatap kerumunan, dan kerumunan menatapnya balik—bukan seperti menatap pembunuh ring, tapi seperti menatap sesuatu yang lebih asing dan lebih menakutkan bagi tempat seperti ini: seorang lelaki yang bisa membunuh dan memilih tidak.
Wasit kotor itu mengangkat tangan kanan Bima ke udara. Tangan yang sama. Selalu tangan yang sama.
Bima menatap kepalannya sendiri, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tidak melihat hantu di sana.