Bima terbangun, dan untuk beberapa detik ia tidak mengerti apa yang salah.
Lalu ia sadar: tidak ada yang salah. Itulah yang asing.
Tiga tahun ia bangun ke wajah Reza. Bukan setiap malam—ada malam-malam kosong, malam mabuk tanpa mimpi—tapi cukup sering sehingga ia lupa rasanya bangun tanpa hantu. Setiap subuh, ia membuka mata dan beban itu sudah menunggu di dadanya seperti karung pasir, mengucapkan satu kalimat sebelum ia sempat bernapas: kamu yang membunuhnya.
Pagi ini, dadanya kosong. Bukan kosong-hampa seperti mayat hidup yang ia jalani selama ini. Kosong-ringan, seperti karung pasir itu diangkat seseorang di tengah malam tanpa pamit.
Ia berbaring di kasur tipis di belakang sasana, menatap langit-langit yang retak, mendengar suara ayam dan motor pertama yang lewat. Bahu kanannya masih ngilu—kemarin terasa seperti dihantam palu godam—tapi ngilu itu jujur. Ngilu yang ia dapat karena memilih, bukan ngilu yang ia warisi karena bersalah.
Ia bangun. Jam empat lewat sepuluh. Telat sepuluh menit dari kebiasaannya. Dulu, telat sepuluh menit akan jadi alasan baru untuk membenci dirinya. Pagi ini, ia hanya mengangkat bahu dan menyeduh kopi.
Arga sudah di sasana, memukul samsak tua yang gantungannya berkarat. Footwork-nya masih kasar, tapi sudah jauh lebih baik dari bocah marah yang datang di malam hujan dua minggu lalu. Kaki kirinya tidak lagi menyilang. Jab-nya lurus.
"Bahumu masih sakit?" Bima menyeruput kopi, bersandar di pintu.
Arga berhenti, napas memburu. "Enggak ada apa-apanya dibanding kamu kemarin, Bang." Ia menyeka keringat. "Aku enggak bisa tidur semalam. Kepikiran terus. Beneran lunas, Bang? Aku enggak punya utang lagi?"
Bima berjalan masuk, meletakkan cangkir di bangku, dan berdiri di depan bocah itu. Ia menatap Arga lama—mata yang dulu cuma berisi kemarahan dan ketakutan, sekarang mulai punya ruang untuk hal lain.
"Dengar," katanya. "Utang itu bukan punyamu dari awal. Itu utang bapakmu. Kamu cuma kebetulan jadi anaknya." Ia meletakkan tangan di pundak Arga, tangan yang berat dan kapalan. "Kamu bukan bapakmu, Arga. Kamu bebas. Yang kemarin itu cuma supaya tubuhmu ngerti apa yang sebenarnya udah benar dari awal."
Mata Arga memerah. Ia mengangguk cepat, menunduk, pura-pura mengatur perban tangannya supaya Bima tak melihat.
Tapi Bima melihat sesuatu yang lain juga. Ia berjalan ke jendela, menatap jalan kampung yang mulai ramai, dan rasa ringan di dadanya pagi ini bercampur dengan sesuatu yang lebih dingin. Surat di kantongnya. Kalimat itu. Selama tidak ada kewajiban lain yang timbul. Selama Broto masih duduk di gudang itu, memegang ring dan utang dan separuh kota, kebebasan Arga adalah rumah yang dibangun di atas tanah pinjaman. Sewaktu-waktu bisa ditarik.
Menyelamatkan satu bocah dari satu utang itu satu pukulan. Tapi pertarungannya, Bima mulai sadar, jauh lebih panjang dari satu ronde.
Suara mobil berhenti di depan sasana memutus lamunannya. Pintu kayu diketuk, lalu didorong terbuka. Sinta Mahendra berdiri di ambang, blazer rapi, rambut diikat, dan di tangannya sebuah ponsel.
"Bima." Wajahnya tegang, tapi ada sesuatu seperti kekaguman yang ditahan di matanya. "Kamu sudah lihat ini?"
"Lihat apa?"
Sinta menyodorkan ponselnya. Di layar, sebuah pesan di grup—grup yang Bima tahu berisi nama-nama dari dunia yang sudah ia tinggalkan tiga tahun lalu. Pelatih, promotor, mantan petinju.
"Soal kamu," kata Sinta pelan. "Yang di gudang kemarin malam. Bima—orang-orang tinju resmi sudah mulai bicara. Nama kamu... bangkit lagi."
Bima menatap layar itu, lalu menatap tangan kanannya. Pagi ini ia bangun tanpa beban untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Ternyata dunia tidak akan membiarkannya menikmatinya lama-lama.