Video itu beredar lebih cepat dari yang siapa pun bisa hentikan.
Seseorang di gudang itu merekam diam-diam dengan ponsel. Gambarnya goyang, gelap, penuh kepala penonton yang menghalangi—tapi cukup jelas untuk menangkap satu hal: seorang lelaki bertubuh delapan puluh kilogram menjatuhkan raksasa seratus sepuluh kilogram dengan satu hook kanan, lalu berlutut memeriksa napas lawannya.
Judulnya, ketika sampai ke mana-mana: "PALU GARUDA KEMBALI."
Sinta yang menunjukkannya pada Bima sore itu, di laptop tua di meja kantor sasana. Komentarnya ribuan. Ada yang mengenali Bima dari masa kejayaannya. Ada yang mengutuk tinju bawah tanah. Tapi sebagian besar—dan ini yang membuat dada Bima dingin—terpukau pada momen ia berlutut.
"Dia menahan pukulannya."
"Itu Bima Aditya, juara nasional yang menghilang setelah membunuh lawan di ring."
"Dia bisa bunuh raksasa itu tapi enggak. Merinding."
"Mau ditaruh di mana muka petinju resmi kalau yang di gudang gelap lebih punya hati."
Bima menutup laptop. "Tutup itu."
"Bima—"
"Aku enggak butuh orang menonton aku, Sinta." Suaranya datar. "Aku butuh Arga aman. Itu aja."
Tapi dunia tidak peduli apa yang Bima butuhkan.
Tiga hari kemudian, di sore yang panas, sebuah bayangan berdiri di ambang pintu sasana Garuda Mas. Bima sedang mengepel—kebiasaan lama, tangannya butuh sesuatu yang sederhana untuk dilakukan—dan ketika ia mengangkat kepala, gagang pel hampir terlepas dari tangannya.
Lelaki itu lebih tua dari terakhir Bima melihatnya. Rambutnya mulai beruban di pelipis, tubuhnya yang dulu atletis kini berisi tenang seorang pelatih. Tapi matanya sama. Mata yang dulu berdiri di sudut ring Reza, mata yang dulu menjadi bagian dari mereka bertiga—Bima, Reza, dan Hendra. Tiga bocah dari sasana ini, yang dulu bermimpi bersama di bawah lampu neon yang sama.
"Hendra," kata Bima. Hanya itu.
Coach Hendra berdiri kaku, kedua tangan di saku. Ia menatap sekeliling sasana—samsak tua, ring lapuk, foto-foto berdebu di dinding—seperti orang yang kembali ke rumah yang pernah ia bakar.
"Halo, Bim." Suaranya serak. "Lama."
Tiga tahun. Tiga tahun Hendra tidak datang. Tidak ke pemakaman Reza—datang, tapi berdiri jauh di belakang dan pergi sebelum selesai. Tidak ke persidangan komisi. Tidak sekali pun ke sasana ini. Bima tahu kenapa, dan Hendra tahu Bima tahu, dan kebisuan itu menggantung di antara mereka seperti bau lembap di ruangan yang lama tak dibuka.
"Aku lihat videonya," kata Hendra akhirnya. Ia melangkah masuk, sepatu kulitnya berdecit di lantai yang baru dipel. "Semua orang lihat videonya."
"Kamu jauh-jauh ke sini buat ngomongin video?"
Hendra berhenti di tengah sasana. Ia menatap ring, ring tempat dulu mereka bertiga sparring sampai subuh, dan ada sesuatu yang patah di rahangnya.
"Aku ke sini," katanya pelan, "karena tiga tahun aku enggak berani. Dan kemarin aku lihat kamu berlutut di gudang itu, mastiin orang yang baru kamu pukul masih napas, dan aku... aku enggak bisa pura-pura enggak lihat lagi."
Bima meletakkan gagang pel. Tangannya mengepal di sisi tubuh, refleks lama. Ia ingin marah. Ia ingin bertanya di mana Hendra selama ini, kenapa baru sekarang, kenapa harus video itu yang membuatnya datang. Tapi di balik amarah itu ada sesuatu yang Bima belum sadari sepenuhnya—bahwa Hendra membawa rasa bersalahnya sendiri, rasa bersalah tentang malam itu, tentang final itu, tentang siapa yang sebenarnya paling berkeras agar pertarungan maut itu terjadi.
"Ngapain kamu di sini, Hen?" tanya Bima, lebih lelah daripada marah.
Hendra menarik napas. "Aku punya tawaran. Buat kamu. Buat bocah yang kamu latih itu." Ia menelan ludah. "Tawaran yang mungkin kamu benci. Tapi aku mohon, dengerin dulu sebelum kamu usir aku."
Di luar, matahari mulai turun, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ketiga sudut ring lama itu kembali punya dua orang yang pernah berdiri di sana.