"Lisensi pelatih," kata Hendra. "Resmi. Atas nama kamu."
Mereka duduk di bangku kayu pinggir ring, dua cangkir kopi pahit di antara mereka, lampu sasana yang temaram—satu neon di sudut masih mati, sudah mati bertahun-tahun. Arga duduk agak jauh, pura-pura membereskan tali skipping, tapi telinganya jelas mendengar semua.
"Kamu masih jago, Bim. Lebih dari jago. Yang kamu tunjukin di gudang itu—membaca lawan, melelahkan dia, menahan pukulan—itu enggak bisa diajarin. Itu yang kita kejar seumur hidup." Hendra mencondongkan badan. "Aku pegang tim provinsi sekarang. Aku bisa bukain jalan buat kamu masuk lagi ke tinju resmi. Bukan sebagai petinju—sebagai pelatih berlisensi. Dan bocah itu," ia melirik Arga, "kalau dia memang sebagus yang kamu bentuk dalam tiga hari, aku bisa kasih dia jalur amatir. Legal. Bersih. Dia bisa bertanding di ring yang sah, bukan di gudang Broto."
Bima diam menatap kopinya.
"Pikirin, Bim. Bocah itu bisa punya masa depan. Lisensi amatir, kejuaraan antarklub, naik ke provinsi, nasional kalau dia cukup bagus. Bukan buat lari dari utang—buat sesuatu. Dan kamu—" Hendra ragu, "—kamu bisa pulang. Ke dunia ini. Tempat kamu seharusnya."
"Tempatku," ulang Bima pelan.
"Iya."
Bima berdiri. Ia berjalan ke ring, meletakkan tangan di tali yang lapuk, dan menatap kanvasnya yang penuh noda. Lalu ia bicara, suaranya serendah dan sedingin air sumur di subuh.
"Tempatku seharusnya, kamu bilang. Tinju resmi." Ia menoleh, dan matanya membuat Hendra terdiam. "Tinju resmi itu tempat Reza mati, Hen. Di ring kayak gini. Dengan lampu terang, ribuan penonton, kamera, sponsor. Di ring resmi. Bukan di gudang gelap. Di ring resmi yang kamu suruh aku pulang ke sana."
Hendra memucat.
"Tiga tahun aku enggak mau nyentuh ring resmi bukan karena aku takut kalah," lanjut Bima. "Tapi karena setiap kali aku lihat lampu turnamen, aku lihat dia ambruk. Dan kamu minta aku balik ke sana, pakai dasi, jadi pelatih, senyum-senyum sama promotor yang sama yang dulu jual tiket pakai darah temanku."
"Bim—"
"Jawabannya enggak." Bima berbalik. "Soal Arga, biar dia yang putusin nanti. Tapi aku enggak balik ke ring itu. Enggak sebagai apa pun."
Hendra duduk diam lama. Lalu ia berdiri, meletakkan secarik kertas di bangku—nomor teleponnya, alamat klub. "Aku enggak akan maksa," katanya pelan. "Tapi pikirin satu hal, Bim. Bocah itu—" ia menatap Arga yang sekarang tak lagi pura-pura sibuk, "—selama dia cuma punya kamu dan sasana ini, dia cuma satu langkah dari diseret balik ke gudang Broto. Surat lunas itu enggak ada artinya kalau enggak ada yang melindungi dia di mata hukum. Satu-satunya cara bikin dia beneran aman adalah bikin dia sah. Resmi. Tercatat. Terlalu terlihat buat disentuh."
Ia melangkah ke pintu, lalu berhenti.
"Kamu benci ring resmi karena Reza mati di sana. Aku ngerti. Tapi mungkin satu-satunya cara kamu nyelametin bocah itu adalah lewat pintu yang sama yang ngebunuh sahabat kita." Suaranya hampir tak terdengar. "Maaf, Bim. Buat banyak hal. Lebih dari yang kamu tahu."
Pintu tertutup. Bima berdiri sendiri di tengah sasana, terjepit di antara dua kebenaran yang saling membunuh: untuk menyelamatkan Arga, ia harus kembali ke tempat yang menghancurkannya.
Di sudut, Arga akhirnya bicara. "Bang." Suaranya hati-hati. "Tinju resmi itu... beneran ada? Buat orang kayak aku?"
Bima tidak menjawab. Ia menatap kertas Hendra di bangku seperti menatap ular yang melingkar tenang, menunggu.