Surat itu datang dalam amplop cokelat resmi, distempel logo Komisi Tinju Daerah, diantar pos ke alamat sasana Garuda Mas. Pak Darto yang menerimanya, dan tangan tuanya gemetar saat menyerahkannya ke Bima.
"Dari komisi," gumam Pak Darto. "Aku enggak suka surat dari komisi. Enggak pernah bawa kabar baik."
Bima membukanya. Matanya bergerak menyusuri baris-baris formal, dan tiap kalimat terasa seperti pukulan ke ulu hati.
Sehubungan dengan beredarnya rekaman yang diduga melibatkan Saudara dalam pertandingan tinju ilegal tanpa lisensi... pelanggaran berat terhadap kode etik... terancam sanksi berupa larangan terlibat dalam kegiatan tinju dalam bentuk apa pun, seumur hidup...
Bima meletakkan surat itu pelan-pelan di meja.
Seumur hidup. Bukan cuma sebagai petinju—dalam bentuk apa pun. Termasuk melatih. Termasuk berdiri di sudut ring siapa pun. Video yang membuat namanya bangkit dari kubur sekarang menggali kubur baru untuknya. Dunia tinju resmi mengulurkan satu tangan lewat Hendra dan menampar dengan tangan yang lain lewat komisi.
"Apa isinya, Bang?" Arga mendekat, wajah cemas.
"Bukan urusan kamu." Bima melipat surat itu, memasukkannya ke kantong. "Latihan sana. Skipping, tiga ratus."
Tapi Arga tidak bergerak, dan Pak Darto menatap Bima dengan mata tua yang sudah terlalu banyak melihat untuk dibohongi.
Sore itu Sinta datang—seperti ia selalu tahu kapan badai berkumpul di atas sasana ini. Bima menunjukkan suratnya tanpa kata. Sinta membacanya dua kali, rahangnya mengeras.
"Ini bisa dilawan," katanya akhirnya, meletakkan surat itu di meja. "Aku kenal beberapa orang. Aku kerja di media, Bima, aku punya akses. Cerita kamu—kalau diceritakan dengan benar—bukan cerita penjahat yang main di ring gelap. Ini cerita orang yang dipaksa keadaan, yang menang tanpa membunuh, yang nyelametin anak dari rentenir. Itu cerita yang bisa membersihkan nama kamu, bukan menguburnya."
"Aku enggak butuh cerita."
"Kamu butuh, Bima." Sinta tidak mundur. Matanya, mata Mahendra yang sama dengan mata Reza, menatapnya lurus. "Kamu mau Arga punya jalan keluar? Jalan keluar itu cuma ada di dunia resmi. Dan kamu enggak bisa bawa dia ke sana kalau namamu sendiri dilarang seumur hidup. Kita harus melawan ini. Bareng."
Bima memalingkan wajah. "Kamu kerja terlalu keras buat orang yang dulu bunuh kakakmu."
Ruangan hening. Pak Darto dan Arga membeku. Itu pertama kalinya Bima mengucapkannya selantang itu, di depan Sinta, telanjang.
Sinta tidak berkedip. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di hadapan Bima sampai ia tak bisa lagi memalingkan muka.
"Aku sudah bilang ke kamu sekali, dan aku ulang sekarang." Suaranya tenang tapi keras seperti baja. "Aku enggak pernah benci kamu. Kakakku mati karena pembuluh darah di kepalanya yang lemah dari lahir—kamu tahu itu, dokter tahu itu, aku tahu itu. Yang aku benci adalah kamu menghukum diri tiga tahun seakan kamu Tuhan yang berhak nentuin hidup-mati orang. Menghukum diri itu cuma cara lain buat lari, Bima. Kamu masih lari sampai sekarang."
Ia mengambil surat komisi dari meja.
"Aku akan bantu bersihin nama kamu. Tapi ada syaratnya." Ia menatapnya dalam-dalam. "Kamu harus ngomong. Jujur. Soal malam itu. Semuanya, dari awal sampai akhir, ke aku, untuk pertama kalinya. Bukan buat pembelaan hukum. Buat kamu sendiri." Suaranya melembut, hanya sedikit. "Kamu enggak akan bisa lari dari ring itu sampai kamu berhenti lari dari malam itu."
Bima menatap surat di tangan Sinta. Tangannya gemetar—bukan karena bahu yang ngilu kali ini.
Untuk membersihkan namanya, ia harus membuka luka yang tiga tahun ia jahit rapat dengan kebencian pada dirinya sendiri.