"Aku mau jadi petinju, Bang. Beneran."
Arga mengatakannya pada suatu sore, setelah latihan, ketika keringat masih menetes dari dagunya dan perban tangannya belum dilepas. Ia mengatakannya cepat, seperti takut kalau ia berhenti maka nyalinya akan habis.
Bima yang sedang membereskan pad berhenti bergerak.
"Bukan karena utang. Utang udah lunas." Arga menelan ludah. "Tapi pas aku mukul samsak itu tadi, pas footwork-ku akhirnya bener, pas jab-ku lurus kayak yang kamu ajarin—aku ngerasa... aku ngerasa ada sesuatu, Bang. Pertama kali dalam hidupku aku ngerasa aku bisa jadi sesuatu. Bukan cuma anak yatim piatu yang ngutang. Bukan cuma sampah kampung. Tapi sesuatu."
Ia menatap Bima, matanya menyala dengan sesuatu yang Bima kenal—dan justru karena itu, takutkan.
"Coach Hendra bilang ada jalur amatir. Resmi. Aku mau itu, Bang. Aku mau latih sama kamu, masuk ring beneran, naik, sampai—" suaranya turun jadi bisikan penuh harap, "—sampai nasional. Kayak kamu dulu."
Pad jatuh dari tangan Bima.
Kayak kamu dulu. Ucapan polos itu menampar lebih keras dari pukulan mana pun. Bima menatap bocah tujuh belas tahun di depannya—kurus, liat, penuh harap, persis seperti Reza dulu—dan untuk sesaat ia tidak melihat Arga. Ia melihat dua bocah di sasana ini yang bermimpi nasional bersama, dan ke mana mimpi itu membawa mereka.
"Enggak," kata Bima, lebih kasar dari yang ia maksud.
Wajah Arga jatuh. "Bang—"
"Kamu enggak tahu apa yang kamu minta." Bima berbalik, suaranya dingin. "Ring itu bukan tempat buat mimpi, Arga. Ring itu tempat orang mati. Kamu udah aman. Utang lunas. Cari kerja yang bener, sekolah lagi kalau bisa, jauh-jauh dari—"
"Dari apa? Dari kamu?" Arga berdiri, suaranya naik, kemarahan lama itu kembali ke matanya. "Kamu yang ngajarin aku, Bang! Kamu yang bikin aku ngerasa ada gunanya! Sekarang pas aku mau lanjut, kamu suruh aku berhenti? Kenapa? Karena kamu takut?"
"IYA AKU TAKUT!" Bima membentak, dan gema suaranya membuat sasana hening. Pak Darto di sudut mengangkat kepala. Bima menurunkan suaranya, tapi tubuhnya gemetar. "Aku takut, Arga. Aku takut bikin kamu jadi sesuatu yang bagus, sesuatu yang berbahaya di ring, dan suatu hari kamu ketemu lawan yang salah, di malam yang salah, dan tanganmu—" Ia berhenti. Tangannya naik, kepalan kanannya, hantu yang tak pernah benar-benar pergi. "Aku enggak mau ngajarin kamu mukul terus suatu hari aku berdiri di sudut ring sambil nonton kamu... atau lawanmu... enggak bangun lagi."
Hening panjang. Arga menatapnya, dan kemarahan di matanya perlahan luruh, digantikan sesuatu yang lebih tua dari usianya—pengertian.
"Kamu masih kepikiran sahabat kamu," kata Arga pelan. "Yang di cerita orang-orang."
Bima tidak menjawab.
"Bang." Arga mendekat. "Aku enggak mau jadi dia. Dan aku enggak mau kamu jadi orang yang sama yang dulu. Tapi aku juga enggak mau balik jadi bocah yang cuma marah dan takut. Kamu yang ngajarin aku—jab, footwork, tenaga dari tanah. Kamu yang ngajarin aku 'capek itu pilihan, berdiri'. Kamu udah kasih aku sesuatu, Bang. Sekarang aku mau pakai itu buat hidup, bukan buat lari."
Bima menatap bocah itu lama. Kata-kata Sinta menggema di kepalanya: menghukum diri itu cuma cara lain buat lari. Dan ia mulai bertanya-tanya apakah menolak melatih Arga ke ring resmi juga sekadar cara lain untuk lari—lari dari kemungkinan bahwa ia bisa membentuk sesuatu yang indah tanpa harus menghancurkannya.
"Aku pikirin," kata Bima akhirnya. Hanya itu.
Tapi malam itu, ketika sasana sudah kosong dan Arga sudah pulang, Bima berdiri lama di depan ring. Dan ia tidak tahu—Arga belum bercerita—bahwa di kepala bocah itu, di balik semua mimpi baru tentang ring resmi, masih ada satu bayangan yang belum hilang. Nama yang berbisik di tidurnya. Senyum setipis pisau dan cincin emas. Broto. Yang berkata, kota ini kecil, ring ini lebih kecil lagi.