Bima tahu ada yang berubah dari Arga ketika bocah itu mulai datang latihan dengan terburu-buru—bukan karena terlambat, tapi karena ingin cepat selesai.
"Buru-buru ke mana kamu?" tanya Bima suatu sore.
Arga menggaruk tengkuk. "Ada yang harus aku jemput, Bang. Adik-adikan aku. Dari kampung."
Esoknya, gadis itu datang menjemput Arga di sasana. Rambut diikat ekor kuda, seragam toko tempatnya kerja paruh waktu, usia mungkin lima belas. Ia berdiri di ambang pintu, menatap sasana tua itu dengan mata waspada, sampai matanya menangkap Arga—lalu seluruh wajahnya berubah, melembut.
"Arga! Buruan, keburu hujan."
"Bentar, Ra." Arga melirik Bima, sedikit kikuk. "Bang, ini Rara. Tetangga aku dari kampung. Kayak adik sendiri. Dulu... dulu pas ibuku sakit, keluarganya Rara yang bantuin. Pas bapakku—" ia berhenti, "—pas semuanya hancur, dia satu-satunya yang masih nganggep aku manusia."
Rara mengangguk sopan ke Bima, lalu memukul lengan Arga. "Kamu bau keringat. Mandi dulu sana sebelum kita pulang."
Bima mengamati keduanya. Cara Arga bicara berubah di dekat Rara—lebih lembut, lebih muda, lebih seperti bocah tujuh belas tahun yang seharusnya, bukan petarung yang mewarisi utang dan kemarahan. Dan ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya hangat dan getir sekaligus.
Setelah Rara menunggu di luar, Bima menahan Arga sebentar.
"Dia alasannya," kata Bima. Bukan pertanyaan.
Arga berhenti. "Alasan apa, Bang?"
"Alasan kamu mau hidup lurus." Bima menatapnya. "Bukan cuma jadi petinju. Tapi jadi orang yang bener. Buat dia."
Arga menunduk, telinganya memerah. "Dia udah cukup susah, Bang. Orang tuanya pas-pasan, dia kerja buat bantu sekolah adik-adiknya. Kalau aku—kalau aku balik jadi sampah, jadi anak yang ngutang sama rentenir, jadi yang nginep di sel kampung gara-gara berantem—aku ngecewain dia. Dia yang dulu percaya aku bisa lebih dari itu." Ia mengangkat wajah, dan ada tekad di sana. "Aku mau dia bisa banggain aku, Bang. Aku mau pas dia liat aku, dia liat orang yang bener-bener berusaha. Bukan kabur dari utang. Bukan ngumpet. Tapi maju."
Sesuatu mengetuk di dada Bima, jauh di dalam, di tempat yang sudah lama ia kunci.
Karena Bima tahu apa itu. Ia mengenalinya seperti orang mengenali wajah lama di kerumunan. Alasan untuk hidup. Bukan alasan untuk menebus, bukan alasan untuk menghukum, bukan beban yang kau seret tiap subuh—tapi alasan untuk maju, untuk berdiri, untuk menjadi lebih baik karena ada seseorang yang melihatmu dan percaya kau bisa.
Bima dulu punya itu. Reza adalah itu. Dan ketika Reza jatuh, alasan itu jatuh bersamanya, dan selama tiga tahun Bima hidup tanpa alasan apa pun selain rasa bersalah.
Tapi bocah di depannya ini—bocah yang dua minggu lalu cuma punya kemarahan dan utang tujuh puluh juta—sudah menemukan apa yang Bima hilang. Alasan untuk hidup, bukan sekadar untuk bertahan.
"Bang?" Arga menatapnya, bingung dengan keheningan itu. "Aku boleh pulang?"
Bima mengangguk pelan. "Pulang. Antar dia sebelum hujan."
Arga menyambar tasnya dan berlari ke pintu, dan Bima mendengar suaranya bercanda dengan Rara di luar, suara dua anak muda yang punya seluruh masa depan di depan mereka. Hujan mulai turun, ketukan pertama di atap seng sasana.
Bima berdiri di tengah sasana yang sepi. Ia menatap foto juaranya yang berdebu di dinding—lelaki muda dengan sabuk, mata predator, masa depan tak terbatas. Dulu ia selalu berkata foto itu "orang lain". Malam ini, untuk pertama kalinya, ia tidak yakin lagi.
Mungkin, pikirnya, melatih Arga bukan soal menciptakan Reza kedua.
Mungkin ini soal Bima akhirnya menemukan kembali alasannya sendiri—lewat alasan bocah itu.