Di lantai dua gudang pelabuhan, di ruangan dengan jendela kaca buram yang menghadap ke ring kosong, Pak Broto sedang menghitung kerugiannya.
Bukan dengan kalkulator. Broto tak pernah perlu kalkulator. Ia menghitung di kepala, seperti selalu, sambil memutar cincin emas di jarinya—angka yang ia tahu sampai ke rupiah terakhir, dan angka itu membuat rahangnya, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mengeras.
Ia bertaruh besar atas kematian Bima. Bukan kekalahan—kematian. Ia sudah memilih Gento justru untuk itu: raksasa yang membunuh dua orang, tak terkalahkan, dipilih supaya Si Palu Garuda yang terkutuk itu hancur di ringnya, dan supaya Broto mengeruk taruhan terbesar dalam sejarah gudangnya. Para bandar dari sindikat lain datang malam itu karena Broto menjamin pertunjukan. Darah. Tontonan.
Yang mereka tonton justru seorang lelaki yang menahan pukulannya dan berlutut memeriksa napas lawan.
Broto kehilangan uang. Itu bisa dipulihkan. Yang tak bisa dipulihkan adalah hal lain: di depan para bandar besar, di depan orang-orang yang ia perlukan agar tetap menghormatinya, Pak Broto—yang tak pernah salah memilih petarung, yang tak pernah kalah taruhan—dipermalukan. Oleh seorang tukang pel. Oleh seorang mayat hidup yang ia kira sudah selesai.
"Bos." Jagur berdiri di pintu, kepala plontosnya mengilap, tato di lehernya bergerak saat ia menelan ludah. "Orang-orangnya Bang Sahrul ketawa-tawa di luar. Mereka bilang—"
"Aku tahu apa yang mereka bilang." Suara Broto tetap selembut beludru, dan justru itu yang membuat Jagur merinding. Broto yang berteriak tidak menakutkan. Broto yang tenang—itu yang membuat orang hilang. "Mereka bilang singa pelabuhan sudah tua. Sudah tumpul."
Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap ring kosong di bawah.
"Kamu tahu masalah orang seperti Bima, Jagur?" katanya, tidak menoleh. "Mereka pikir karena mereka menang sekali, mereka bebas. Mereka pikir surat secarik kertas itu melindungi mereka." Ia tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Padahal aku yang nulis suratnya. Aku yang taruh kalimatnya. 'Selama tidak ada kewajiban lain yang timbul.'" Ia tertawa kecil. "Aku enggak pernah kasih pintu tanpa kunci di tanganku, Jagur."
Jagur diam. Ia kenal nada itu. Nada yang artinya seseorang akan menderita, perlahan, terencana, tanpa pernah tahu kapan pukulan pertama datang.
"Kamu mau kita kirim orang? Bikin perhitungan?" tanya Jagur. "Bocahnya? Atau si Bima?"
"Tidak." Broto memutar tubuh, dan matanya berkilau dingin. "Pukulan langsung itu untuk orang bodoh, Jagur. Kamu pukul orang, dia balik melawan, atau lari ke polisi, atau jadi pahlawan yang lebih besar. Tidak. Bima itu petarung—dia tahu cara melawan pukulan." Ia berjalan ke meja, menuangkan minum, tenang seperti orang yang punya seluruh waktu di dunia. "Kalau kamu mau jatuhin petarung, kamu jangan pukul dia. Kamu pancing dia. Kamu kasih dia umpan yang dia enggak bisa tolak. Kamu bikin dia berjalan sendiri, dengan kakinya sendiri, balik ke ring ini—dan saat itu, dia milikku lagi."
Ia menyesap minumnya.
"Bocah itu kuncinya. Selama Bima sayang sama bocah itu, aku punya pegangan." Ia menatap Jagur. "Aku mau kamu awasi sasana itu. Diam-diam. Aku mau tahu siapa yang datang, siapa yang pergi, apa yang mereka rencanakan. Aku mau tahu kelemahan mereka semua—orang tua pemilik sasana, perempuan berblazer itu, bocahnya, gadis kampung yang dijemput bocah itu tiap sore." Senyumnya kembali, setipis pisau. "Setiap orang punya tali yang bisa ditarik, Jagur. Tugas kita cari talinya."
Jagur mengangguk, tapi ada sesuatu yang tidak nyaman menggeliat di dalam dadanya—sesuatu yang ia sendiri belum mengerti. Ia teringat malam itu. Bima berlutut di ring. Memeriksa napas Gento. Memilih tidak membunuh, padahal di tempat ini, membunuh adalah cara mendapat hormat.
Ia mengusir pikiran itu. "Siap, Bos."
"Dan Jagur." Broto memanggilnya saat ia hampir keluar. "Pelan-pelan. Tidak terburu-buru. Kita biarkan dia merasa menang dulu." Cincin emas berputar di jarinya. "Kemenangan yang dibiarkan terlalu lama selalu jadi terlalu nyaman. Dan orang yang nyaman selalu lengah."
Di luar gudang, malam pelabuhan dingin dan bau garam. Dan jauh di seberang kota, di sasana tua dengan satu lampu neon yang masih mati, Bima menutup pintu untuk malam itu—tidak tahu bahwa kebebasan yang baru ia rebut sudah masuk dalam perhitungan tenang seseorang yang tidak pernah lupa, dan tidak pernah memaafkan.