Pagi itu kabut tipis masih menggantung di mulut gang ketika pintu seng sasana Garuda Mas berderit dibuka dari luar. Bima yang sedang memeras kain pel ke ember berhenti bergerak. Ia mengenal siluet itu sebelum melihat wajahnya — bahu selebar pintu, leher yang nyaris tak ada, langkah yang membuat lantai papan mengaduh.
Gento.
Arga yang sedang melompati tali skipping di sudut menjatuhkan talinya. Tangannya otomatis terangkat, kuda-kuda salah seperti biasa, bahu tegang sampai ke telinga.
"Tenang," kata Bima pelan, tanpa menoleh. Matanya tak lepas dari raksasa yang berdiri di ambang pintu, terbingkai cahaya kelabu.
Gento tidak masuk dengan kepalan. Tangannya menggantung kosong di samping badan, dan untuk pertama kalinya Bima melihat lelaki itu tanpa bayang ring di belakangnya. Bekas luka di alis kirinya masih merah, jahitan dari malam tiga minggu lalu — malam Bima menahan hook kanannya, memutar daya bunuh menjadi bantingan, membiarkan Gento jatuh tapi tetap bernapas.
"Aku dilepas," kata Gento. Suaranya serak, seperti karat. "Broto buang aku. Yang kalah nggak laku."
Bima menaruh kain pel. Bau karet matras dan keringat lama memenuhi ruangan. "Lalu kamu ke sini buat apa?"
Gento melangkah masuk. Papan lantai mengerang. Ia berhenti di bawah foto juara berdebu di dinding — foto Bima muda mengangkat sabuk, mata predator, julukan Palu Garuda tercetak di pojok bingkai. Gento menatapnya lama.
"Aku udah ngabisin dua orang di ring itu," kata Gento, masih memunggungi mereka. "Aku denger tulang mereka patah. Aku suka suaranya. Itu yang bikin aku menang tiga tahun." Ia berbalik. Matanya yang dulu kosong kini menyimpan sesuatu yang lebih buruk dari kosong — pertanyaan. "Malam itu kamu punya celah. Dagu aku terbuka. Aku tahu pukulan kayak gitu. Aku tahu rasanya. Harusnya aku mati, atau cacat seumur hidup." Ia menelan ludah. "Kenapa kamu tahan?"
Ruangan jadi sunyi. Hanya tetes air dari kain pel yang jatuh ke ember, satu-satu.
Bima tidak langsung menjawab. Ia teringat sensasi di pergelangan tangannya malam itu, momen ketika seluruh tubuhnya sudah mengunci untuk membunuh dan otaknya berteriak satu nama — Reza — dan ototnya memutar, membanting, bukan menghancurkan. Tangan yang dulu membunuh sahabat, malam itu memilih untuk tidak.
"Karena aku pernah nggak nahan," kata Bima akhirnya. "Dan aku ngubur sahabatku sendiri."
Gento mengernyit. Lelaki sebesar itu, tiba-tiba terlihat seperti orang yang baru mendengar bahasa yang sudah lama ia lupakan.
"Aku juga dipaksa," kata Gento, suaranya turun. "Pertama kali. Mereka tahan adikku. Sekali aku menang, aku nggak bisa berhenti. Lebih gampang jadi monster daripada inget aku dulu manusia." Ia menunduk ke kepalan tangannya sendiri, membuka dan menutupnya. "Tiga tahun aku nggak pernah ketemu orang yang bisa ngalahin aku terus milih nggak ngehancurin aku. Aku ke sini karena... aku nggak ngerti."
Arga membuka mulut hendak menyela, tapi Bima mengangkat satu jari. Diam.
Bima berjalan ke arah Gento, berhenti satu langkah dari dada raksasa itu, kepalanya cuma sampai dagu Gento. Tapi ia tidak menengadah dengan takut.
"Tinju itu bukan soal nyari suara tulang patah," kata Bima. "Itu soal kaki. Tenaga dari tanah, naik ke pinggang, lepas lewat tangan. Yang ngajarin aku itu udah mati. Aku yang ngebunuh dia, walaupun semua dokter bilang bukan salahku." Ia menatap mata Gento. "Aku tahan pukulan itu karena aku nggak mau jadi alat buat bikin satu mayat lagi di gudang Broto. Bukan buat kamu. Buat aku."
Untuk waktu yang lama Gento tidak bicara. Lalu, perlahan, bahunya yang sebesar gunung itu turun — bukan menyerah, tapi seperti seseorang yang meletakkan beban yang sudah ia panggul terlalu lama.
"Aku nggak punya tempat tidur," kata Gento pelan, hampir malu. "Broto ngambil kontrakan aku."
Bima menatapnya. Di luar, kabut mulai pecah oleh matahari. Ia tahu apa artinya membiarkan raksasa ini masuk — Broto pasti tahu, Jagur pasti melapor. Tapi ia juga tahu bagaimana rasanya tak punya tempat berteduh selain sasana tua yang menampung mayat hidup.
"Ada gudang belakang," kata Bima akhirnya. "Bau. Bocor kalau hujan." Ia berbalik mengambil kembali kain pelnya. "Tapi kalau kamu numpang, kamu kerja. Pel lantai bagian utara. Aku capek ngepel sendirian."
Gento mengerjap. Lalu, untuk pertama kalinya sejak tiga tahun, sudut mulutnya yang penuh bekas luka itu naik sedikit.
Di sudut ring, Arga menurunkan kuda-kudanya. Ia menatap dua lelaki itu — yang satu pernah ingin membunuhnya demi taruhan, yang satu menyelamatkannya dari taruhan itu — dan untuk pertama kalinya ia merasa bahwa sasana reyot ini sedang berubah jadi sesuatu yang lain.
Sesuatu yang, kalau ia berani menyebutnya, mungkin disebut rumah.