Rara biasa pulang lewat gang sempit di belakang pasar, jalan yang sama yang ia tempuh sejak kecil. Maka ketika seorang lelaki plontos dengan tato merayap di lehernya bersandar santai di mulut gang itu, seakan sudah menunggu, gadis itu langsung tahu sesuatu salah.
"Kamu Rara, ya?" Jagur tersenyum, dan senyumnya jauh lebih menakutkan daripada bentakan. "Temannya Arga. Yang dari kampung Sukamaju."
Rara mempererat pegangan pada tas belanjanya. "Saya nggak kenal Bapak."
"Tapi aku kenal kamu." Jagur mengeluarkan permen dari saku, membuka bungkusnya pelan-pelan, memasukkannya ke mulut. "Aku kenal di mana kamu kerja. Aku kenal jam berapa kamu pulang. Aku kenal nenekmu yang tinggal sendirian di rumah ujung itu." Ia mengisap permennya. "Kenal banyak, pokoknya."
"Apa mau Bapak?"
"Nggak ada." Jagur mengangkat bahu. "Cuma mau bilang—dunia ini kecil, Neng. Kadang orang merasa aman, padahal nggak. Kadang orang menang sekali di ring, terus pikir semua beres. Padahal nggak." Ia mendorong dirinya berdiri dari dinding. "Sampaikan salam buat Arga. Bilang, Pak Broto masih ingat dia. Pak Broto nggak pernah lupa siapa-siapa."
Lalu ia berlalu, santai, seakan baru saja menanyakan arah.
Rara berlari pulang dengan napas tersengal. Ia tak ke rumahnya. Ia lari ke sasana.
Bima sedang membersihkan ring ketika gadis itu masuk menerjang, wajah pucat, kata-katanya berhamburan tak beraturan—plontos, tato leher, nenek, Broto, ingat. Bima meletakkan lap, dan wajahnya yang biasa datar mengeras menjadi sesuatu yang Arga belum pernah lihat.
"Jagur," kata Bima. Satu kata, dingin.
Arga, yang baru pulang lari sore, berdiri kaku di pintu. "Dia ngancem Rara? Karena saya?" Suaranya naik, amarah lama yang familiar membakar dadanya. "Utang saya udah lunas! Bima menang! Ada suratnya!"
"Surat nggak berarti apa-apa buat orang macam Broto." Bima berjalan ke arah Arga, menahan bahu bocah itu sebelum amarahnya meledak jadi tindakan bodoh. "Dengar aku. Dia nggak nyentuh Rara hari ini. Dia cuma mau kamu marah. Dia mau kamu lari ke gudangnya malam ini dan teriak-teriak, biar kamu masuk lagi ke kandangnya sendiri. Itu jebakan."
Arga menggertakkan gigi, tapi ia tak bergerak. Ia sudah belajar, walau setengah hati, untuk mendengar.
"Broto nggak main lewat tinju," lanjut Bima, suaranya pelan tapi tegas. "Dia main lewat takut. Dia tahu dia nggak bisa kalahin aku di ring, jadi dia pukul yang lemah—orang-orang di sekitar kita." Ia menatap Rara yang masih gemetar. "Mulai malam ini, kamu nggak pulang sendiri. Arga yang antar. Nenekmu kita cek tiap hari."
"Kenapa nggak kita lapor polisi?" suara Sinta dari ambang pintu. Ia baru tiba, dan sudah mendengar separuh. Matanya tajam, tapi ada kekhawatiran di baliknya.
"Lapor apa? Bapak permen ngajak ngobrol di gang?" Bima menggeleng. "Broto pintar. Dia nggak pernah ninggalin bukti. Tiga tahun lebih dia jalanin ring maut itu, nggak satu pun yang nyentuh dia." Ia memandang ke luar jendela, ke arah pelabuhan yang lampunya berkelip jauh. "Tapi orang yang nggak pernah ninggalin bukti, biasanya karena dia menumpuk terlalu banyak. Cepat atau lambat, tumpukan itu jatuh."
Malam itu Arga mengantar Rara pulang, berjalan dua meter di depan dan di belakang seperti pengawal canggung. Di sasana, Bima duduk lama di bawah foto juara berdebu di dinding—foto dirinya muda, sabuk di pinggang, mata predator. Ia menatap foto itu, lalu menatap tangan kanannya.
Broto bisa menyentuh siapa saja, kapan saja. Kemenangan di ring tak membeli keamanan. Bima tahu itu sekarang. Menang melawan Gento hanya membuka satu pintu—dan di balik pintu itu, ternyata masih ada Broto, menunggu dengan senyum dan permen dan kesabaran seorang pemburu.
"Aku nggak akan kehilangan satu pun lagi," gumam Bima ke ruangan kosong. "Nggak satu pun."