Surat itu datang diantar bocah suruhan, dilipat rapi, beraroma rokok mahal. Tak ada amplop, tak ada perangko. Hanya kertas dengan tulisan tangan rapi yang anehnya sopan, dan di bawahnya kop sederhana: sebuah nama perusahaan jasa keuangan yang Bima tahu hanya kedok.
Bima membacanya di bawah cahaya lampu sasana, Sinta di sampingnya membaca dari balik bahunya.
*Saudara Arga yth. Berdasarkan perjanjian utang almarhum ayah Saudara, perlu kami sampaikan rincian sebagai berikut: pokok pinjaman Rp70.000.000 telah diselesaikan melalui pertarungan tanggal lalu. Namun, perjanjian mencakup pula biaya administrasi, denda keterlambatan terakumulasi selama tiga tahun, serta bunga berjalan, dengan total kewajiban tersisa Rp48.500.000. Mohon penyelesaian dalam tujuh hari. Hormat kami, Manajemen.*
Arga merebut kertas itu, membacanya, lalu meremasnya. "Ini bohong! Bima menang! Broto sendiri yang bilang di depan semua orang, utang saya LUNAS!"
"Dia bilang pokoknya lunas." Bima mengambil kembali kertas remasan itu, meluruskannya pelan-pelan di atas meja. Suaranya tenang, tapi rahangnya keras. "Inget syarat tambahan yang dia selipin waktu bikin surat? Yang aku paksa dia tulis hitam di atas putih, tapi dia tetap sisipin satu klausul kecil di bawah?" Ia menunjuk satu baris di kertas Broto. "Di sini. 'Pokok'. Dia memang sengaja cuma sebut pokok."
Sinta mengerutkan kening, matanya bergerak cepat menyusuri kalimat-kalimat itu, otak jurnalisnya bekerja. "Ini dirancang," katanya pelan. "Dari awal. Dia kasih kalian rasa menang, biar kalian lengah, biar kalian berhenti melawan. Lalu setelah beberapa minggu, dia munculin tagihan kedua. Angkanya pun dihitung—cukup besar buat bikin panik, tapi cukup 'masuk akal' biar kelihatan seperti urusan administrasi biasa, bukan pemerasan."
"Empat puluh delapan juta," kata Arga, suaranya pecah. "Saya nggak punya. Bapak saya udah mati. Saya cuma punya—" Ia berhenti, dan tangannya mengepal. "Saya cuma punya tinju."
"Dan itu persis yang dia mau kamu pikir." Bima menatap bocah itu lurus. "Dia mau kamu sampai pada kalimat itu sendiri: 'Saya cuma punya tinju.' Biar kamu balik ke ringnya dengan sukarela. Biar kamu nawarin diri. Itu lebih murah buat dia daripada nyeret kamu paksa."
Arga terdiam. Kebenaran itu menamparnya.
Bima duduk di bangku reyot, kelelahan yang bukan dari tubuh. Ia teringat sesuatu yang pernah dikatakan ayahnya sendiri dulu, jauh sebelum tinju, jauh sebelum semuanya—bahwa ada orang yang menjual jeratan dengan senyum, dan utang pada orang seperti itu tak pernah dirancang untuk lunas. Utang itu dirancang untuk jadi rantai. Broto tak mau uang Arga. Broto mau Arga.
"Jadi gimana, Bang?" Arga bertanya, dan untuk pertama kalinya sejak lama, suaranya bukan suara pemberontak melainkan suara anak yang takut. "Kita lawan gimana? Saya nggak bisa kalahin dia di ring lagi—dia nggak bakal naik ring sendiri. Dia cuma duduk di atas, ngitung uang."
Bima mengangkat wajahnya. Dan di mata itu, sesuatu yang baru menyala—bukan amarah petarung, tapi perhitungan dingin seorang yang akhirnya memahami medannya.
"Kamu benar," katanya. "Aku nggak bisa lawan Broto pakai tinju. Karena masalahnya bukan di ring." Ia memandang Sinta, lalu kembali ke Arga. "Selama ini aku mikir cara nyelametin kamu adalah menang berkelahi. Padahal Broto bukan lawan tinju. Dia lawan yang harus dirobohkan dengan cara lain—dengan ngumpulin semua dosa yang dia tumpuk, dan dijatuhin ke atas kepalanya sendiri."
Sinta mengangguk pelan, mata tajamnya berbinar. "Bukti," katanya. "Kita butuh bukti."
"Klinik di pelabuhan," kata Bima. "Maya pernah bilang dia nambal korban-korban ring Broto bertahun-tahun. Ada catatan. Ada nama. Ada yang mati." Ia menatap surat tagihan di atas meja, kertas licik yang dirancang untuk menjerat. "Broto ngira utang Arga nggak akan pernah lunas. Mari kita buktiin justru utang Broto yang nggak akan pernah lunas. Dan kali ini, yang nagih kita."