Jam empat pagi, sasana Garuda Mas sudah hidup.
Bima memutuskan: kalau Broto mau bermain lewat takut, maka jawabannya adalah membuat Arga terlalu besar untuk disentuh. Bukan dengan bersembunyi—bersembunyi hanya membuat mereka mangsa. Tapi dengan mendorong Arga ke depan, ke panggung yang lebih terang, ke turnamen tingkat provinsi yang akan membuat namanya tercatat di koran, di komisi, di mata banyak orang. Petinju anonim bisa hilang di pelabuhan dan disebut tenggelam. Petinju yang fotonya muncul di halaman olahraga tidak.
"Lari!" teriak Bima, dan Arga berlari mengelilingi lapangan dekat sasana dengan rompi pemberat membungkus tubuhnya. "Tinju itu soal kaki! Kalau kakimu mati di ronde tiga, semua teknikmu nggak ada artinya!"
Arga berlari sampai paru-parunya terbakar, sampai keringatnya menetes membentuk pola gelap di semen, sampai ia ingin muntah. Dan setiap kali ia melambat, suara itu datang—suara yang kini sudah ia hafal.
"Capek itu pilihan!" Bima berlari di sampingnya, lebih tua, lebih berat, tapi tak melambat. "Berdiri! Larimu yang nentuin kamu mati di ring provinsi atau pulang bawa nama!"
Setelah lari, ribuan jab. Bima memegang pad, dan Arga melepas jab demi jab sampai bahunya mati rasa. Bima mengoreksi tanpa henti—siku terlalu lebar, putar pinggulmu, jangan telegraf, tenaga dari tanah bukan dari bahu. Lalu footwork: maju, geser, mundur, putar, sampai kaki Arga bergerak tanpa pikir, sampai gerakan itu jadi insting seperti bernapas.
"Provinsi beda sama antarklub kemarin," kata Bima di sela istirahat singkat, menyodorkan botol air. "Lawanmu di sana udah bertahun-tahun. Ada yang pernah ke nasional. Mereka nggak akan kasih kamu ruang. Mereka bakal baca kamu sebelum kamu baca mereka."
"Terus gimana saya menang?"
"Kamu nggak menang dengan lebih kuat." Bima mengetuk pelipisnya sendiri. "Kamu menang dengan lebih sabar. Inget waktu aku lawan Gento? Dia dua kali beratku. Aku nggak lawan tenaganya—aku tunggu tenaganya habis. Tinju itu bukan siapa yang paling keras mukul. Tinju itu siapa yang masih berdiri di detik terakhir."
Gento muncul dari bayang sasana, tubuh raksasanya kini mengenakan sarung sparring usang. Sejak ia memilih sisi, lelaki besar itu jadi tinggal di gudang kecil belakang sasana, dan tiap pagi ia ada di sana, diam dan setia. "Saya siap," katanya datar.
Bima menatap Arga. "Kamu mau belajar lawan yang jauh lebih besar dari kamu? Ini gurunya. Orang yang aku sendiri nyaris kalah."
Arga menatap Gento yang menjulang, menelan ludah, lalu mengangguk. Ia masuk ring.
Gento tak memukul keras—ia tahu cara menahan, ia sudah belajar itu dari satu malam terbaik dalam hidupnya. Tapi tubuhnya saja sudah seperti tembok. Setiap kali Arga mendekat, ia merasa seperti memukul gerbang besi. Bima berteriak dari sudut: "Jangan lawan tembok! Cari celah! Tembok pun punya retakan—di kakinya, di napasnya! Baca dia, jangan tabrak dia!"
Berjam-jam berlalu. Arga jatuh, bangkit. Jatuh, bangkit. Pelan-pelan ia belajar bahwa melawan raksasa bukan soal mendorong balik, melainkan soal bergeser, mengelak, dan menyengat dari sudut yang tak terjangkau. Persis seperti Bima dulu.
Saat matahari akhirnya menembus jendela berdebu sasana, Arga ambruk telentang di matras, napasnya kasar, tubuhnya satu lautan nyeri. Tapi ia tersenyum.
Bima berdiri di atasnya, memandang turun, dan untuk sesaat ia melihat dirinya sendiri—bertahun-tahun lalu, di matras yang sama, di bawah pandangan pelatih yang sama kerasnya. Lingkaran yang berulang. Tapi kali ini, Bima bersumpah, lingkaran itu akan berakhir berbeda.
"Bagus, Ga," katanya pelan. "Kita bikin kamu terlalu terkenal buat dihilangkan. Itu perisaimu. Bukan ototmu—namamu."