Coach Hendra yang mengaturnya—sebuah sesi pengenalan di pusat latihan tim provinsi, tempat para atlet resmi berlatih di bawah lampu terang dengan peralatan yang bahkan Bima belum pernah punya. Bima datang membawa Arga, dan begitu mereka masuk, seluruh ruangan seakan menoleh.
Bukan untuk Arga. Untuk Bima.
"Itu dia," bisik seseorang. "Palu Garuda. Yang dulu—kamu tahu."
Bima berpura-pura tak dengar. Ia sudah terbiasa.
Lalu seorang pemuda melangkah dari kerumunan—tegap, tampan dengan cara yang sengaja dirawat, jaket bersponsor logo besar, dan senyum yang tahu betul kameranya selalu menyala. Bima mengenalinya seketika. Wajah ini ada di televisi malam itu, tiga tahun lalu, di sasana, ketika Bima masih jadi tukang pel. Dewa Pratama. Juara nasional kelas menengah saat ini. Dua puluh empat tahun, dan dunia di telapak tangannya.
"Jadi ini benar." Dewa berhenti beberapa langkah dari mereka, memandang Bima dari atas ke bawah dengan tatapan yang sengaja merendahkan. "Si Palu Garuda. Yang katanya kembali." Ia mendengus. "Aku pikir lebih besar. Ternyata cuma om-om yang udah lewat masanya."
Bima menatapnya datar, tak terpancing. "Kami cuma numpang latihan."
"Numpang." Dewa tertawa, menoleh ke pengikutnya yang ikut tertawa. "Dengar nggak? Numpang. Kamu tahu nggak, Pak Tua, tempat ini buat atlet beneran. Bukan buat pembunuh ring." Kata terakhir itu ia lemparkan seperti pisau. "Iya, aku tahu cerita kamu. Semua tahu. Kamu yang bikin temenmu mati di ring, terus sembunyi tiga tahun jadi tukang pel. Sekarang muncul lagi bawa—" Matanya bergeser ke Arga, menilai, lalu membuang. "Sampah jalanan? Ini muridmu? Anak gudang pelabuhan?"
Arga melangkah maju, rahang mengeras, amarah lama menyala di matanya. "Apa katamu—"
Bima menahan bahunya. Pegangan yang tenang, tapi tegas. "Jangan," gumamnya pada Arga. "Dia mau kamu marah di tempat orang. Itu kemenangan buat dia."
Arga gemetar menahan diri, tapi ia berhenti.
Dewa memperhatikan itu, dan senyumnya melebar. "Lihat? Bahkan muridmu udah panas. Bocah jalanan emang gitu—semua marah, nggak ada otak." Ia melangkah mundur, sudah bosan. "Saranku, Pak Tua: bawa pulang anak ini sebelum dia keinjak di ring beneran. Tinju resmi nggak kenal belas kasihan buat sampah."
Ia berbalik dan pergi, jaket sponsornya berkibar, kamera ponsel para pengikutnya mengikuti.
Arga gemetar marah. "Saya bisa kalahin dia, Bang. Saya sumpah saya bisa—"
"Belum," potong Bima pelan. Tapi matanya tak meninggalkan punggung Dewa yang menjauh, dan ada sesuatu yang baru di sana—bukan amarah, melainkan perhitungan. Ia sudah membaca lelaki muda itu dalam dua menit. "Tapi dengar baik-baik, Ga. Kamu lihat yang barusan? Cara dia ngomong, cara dia butuh semua orang lihat dia menang ngatain kita?" Bima menggeleng pelan. "Itu kelemahan. Orang yang butuh dunia ngakuin dia hebat, dia nggak sekuat yang dia kira. Kesombongan itu lubang, Ga. Dan suatu hari nanti, kamu yang bakal masuk lewat lubang itu."
Arga menatap pelatihnya. "Suatu hari nanti?"
Bima memandang ring resmi di tengah ruangan, lampu-lampu terang, panggung yang dulu jadi kuburan dan kini mungkin jadi penebusan. "Nasional," katanya. "Kalau kamu naik terus, ujungnya kamu ketemu dia. Di panggung paling terang." Ia menepuk pundak bocah itu. "Sampai saat itu, kita nggak balas omongan. Kita balas dengan jadi lebih baik. Diam-diam. Sabar. Sampai dia yang lihat ke atas, bukan ke bawah, waktu nyebut nama kamu."