Hendra mengatur sesi tertutup—bukan Arga melawan Dewa langsung, itu terlalu cepat dan terlalu berbahaya, tapi melawan salah satu sparring partner utama kubu Dewa, seorang petinju semi-pro bernama Ridho yang gaya bertarungnya dicetak meniru sang juara. Tujuannya satu: mengukur jarak. Seberapa jauh Arga dari level itu.
"Aku mau kamu kalah hari ini," kata Bima sebelum sesi, dan Arga menatapnya tak percaya.
"Apa?"
"Aku nggak mau kamu menang sok-sokan terus pulang ngerasa hebat. Aku mau kamu rasain seberapa jauh jaraknya. Karena di kepala, kamu pikir kamu udah dekat. Tubuhmu belum." Bima mengikat sarung Arga. "Hari ini tugasmu bukan menang. Tugasmu belajar. Rasain pukulan kelas atas, lihat seberapa cepat mereka, dan pulang bawa pelajaran—bukan luka harga diri."
Ridho menghancurkannya.
Bukan karena lebih kuat—Arga sudah cukup kuat. Tapi karena lebih cepat, lebih halus, lebih pengalaman. Setiap kali Arga melepas jab yang ia banggakan, Ridho sudah tak ada di sana, dan balasannya datang dari sudut yang tak Arga lihat. Footwork yang membuat Arga merasa raja di ring antarklub, di sini terasa kaku dan lambat. Tiga ronde, dan Arga pulang dengan bibir pecah, tulang rusuk berdenyut, dan ego yang remuk lebih parah dari tubuhnya.
Tapi Bima tidak menonton Arga.
Bima menonton Dewa, yang berdiri di sisi ring mengawasi sparring partner-nya, sesekali memberi komentar dengan nada bos. Bima membaca cara Dewa bergerak bahkan saat hanya berdiri—berat badan yang selalu ke depan, dagu yang sedikit terangkat karena terbiasa lawan-lawan yang tak berani memukulnya, dan satu hal lagi, hal kecil yang hanya bisa dilihat mata yang sudah dua puluh tahun di tinju: ketika Dewa mendemonstrasikan kombinasi pukulannya pada udara, ia selalu membuka pertahanan kirinya sepersekian detik setelah hook kanan. Karena tak ada yang pernah cukup lama bertahan untuk menghukumnya di celah itu. Dewa terlalu sering menang cepat untuk tahu kalau ia punya lubang.
"Coach," Hendra mendekat, mengikuti arah pandang Bima. "Kamu lihat sesuatu."
"Dia nggak pernah ke ronde-ronde akhir," gumam Bima pelan. "Lihat catatan tandingnya—berapa banyak yang sampai ronde lima, enam? Hampir nggak ada. Dia menang cepat, selalu. Itu artinya dia nggak pernah teruji waktu capek. Nggak pernah teruji waktu lawannya masih berdiri di menit-menit terakhir dan dia mulai panik." Bima menyilangkan tangan. "Dewa itu pelari cepat di lomba sprint. Tapi nasional itu maraton."
"Kamu mikir Arga bisa ke sana?"
Bima menatap muridnya yang sedang dikompres Maya di sudut, babak belur tapi—ia perhatikan—tidak mengeluh, hanya menatap kosong ke ring tempat ia baru saja diajari kerendahan hati. "Belum," kata Bima. "Tapi Arga punya sesuatu yang Dewa nggak punya. Arga tahu rasanya kalah. Arga udah jatuh berkali-kali sejak kecil. Dewa belum pernah benar-benar jatuh." Ia menatap sang juara yang tertawa di seberang ring, dikelilingi pemuja. "Orang yang belum pernah jatuh, paling takut sama lantai."
Di perjalanan pulang, Arga diam lama di motor butut yang dipinjamkan Pak Darto. Lalu ia berbicara, suaranya kecil. "Saya jauh banget, ya, Bang."
"Iya," jawab Bima jujur. "Jauh."
"Tapi bisa dideketin?"
Bima diam sejenak. Lalu, "Tiap pagi jam empat. Tiap ribu jab. Tiap kali kamu pilih berdiri waktu maunya rebah." Ia menatap jalanan di depan. "Jarak itu nggak diloncatin, Ga. Jarak itu dijalanin. Selangkah-selangkah. Dan kamu udah jalan lebih jauh dari yang kamu sadar."