Kabar itu menyebar lebih cepat dari yang Bima bayangkan.
Sinta menulisnya jadi sebuah cerita pendek — bukan berita sensasi, melainkan kisah seorang petinju tua yang sasananya hampir mati, dan seorang murid yang lolos dari jerat utang. Ia memuatnya di portal tempatnya bekerja, lalu membagikannya ke grup-grup komunitas tinju. Judulnya sederhana: *Garuda Mas Belum Mati.*
Tiga hari kemudian, sasana tua itu lebih ramai dari yang pernah Bima lihat dalam tiga tahun.
Datang dulu mantan-mantan murid Pak Darto — lelaki-lelaki paruh baya yang dulu belajar tinju di matras yang sama, kini berperut buncit dan beruban, tapi mata mereka berbinar mengingat masa muda. Mereka menyumbang seadanya, ada yang membawa amplop tipis, ada yang membawa cat untuk dinding, ada yang membawa samsak bekas yang masih layak.
Datang juga pelatih-pelatih dari klub lain, beberapa yang dulu rival Pak Darto. Salah satunya, lelaki kurus berkumis bernama Pak Yusuf, berdiri di tengah sasana sambil memandangi foto juara berdebu Bima di dinding. "Aku dulu benci kamu, tahu," katanya pada Bima sambil terkekeh. "Murid-muridku selalu kalah sama Garuda Mas. Sekarang lihat, aku malah datang bantu." Ia menaruh amplop di meja. "Tinju itu keluarga. Kadang kita lupa."
Bima tak tahu harus berkata apa. Ia hanya mengangguk, tenggorokannya tercekat.
Yang paling tak terduga datang sore hari, ketika matahari menggantung rendah dan bayangan gudang pelabuhan memanjang. Sosok raksasa muncul di ambang pintu sasana, menutupi cahaya. Seketika seluruh ruangan hening. Otot-otot yang penuh tato, bekas luka melintang di alis, mata yang dulu kosong.
Gento.
Beberapa murid lama mundur. Arga, yang sedang membersihkan ring, langsung berdiri tegang, kepalan terkepal. Ia masih ingat lelaki itu — lelaki yang nyaris membunuh gurunya di gudang Broto.
Tapi Gento tidak datang dengan tinju. Tangannya menggenggam sesuatu — amplop lusuh, dilipat dua. Ia berjalan canggung di antara matras, tubuh besar itu terlihat janggal di ruang yang tak dirancang untuknya. Ia berhenti di depan Bima.
"Dengar kabar," kata Gento. Suaranya berat, parau, seperti batu digesek. "Bapak tua itu sakit."
Bima tak bergerak. "Iya."
Gento menyodorkan amplop itu. Bima tak mengambilnya. Gento menaruhnya saja di atas meja, di samping amplop-amplop lain. "Broto buang aku setelah kalah," katanya. "Tapi aku masih punya simpanan. Nggak banyak." Ia menatap Bima lama, dengan ekspresi yang sama seperti malam itu di ring — pertanyaan yang tak terjawab. "Kau tahan pukulanmu malam itu. Kau bisa bunuh aku. Kau nggak."
Sasana sunyi. Hanya suara samsak yang berayun pelan tertiup angin dari pintu.
"Aku nggak ke sini buat berterima kasih," lanjut Gento, rahangnya mengeras. "Aku ke sini buat ngerti. Kenapa?"
Bima menatap mata lelaki raksasa itu — dan untuk pertama kalinya melihat bukan monster, melainkan manusia yang sama-sama dijadikan alat. "Karena aku pernah membunuh dengan tangan ini," jawab Bima pelan. "Dan aku nggak mau lagi. Bukan kamu yang harus mati malam itu. Kita berdua cuma dipakai."
Gento diam lama. Lalu, perlahan, ia mengangguk — satu anggukan kecil, tapi sesuatu bergeser di wajahnya. Beban yang sama yang Bima kenal.
Arga masih berdiri waspada di sudut ring, belum mau melepas kewaspadaannya. Tapi Bima menoleh padanya. "Arga. Ambilkan air buat tamu kita."
Bocah itu ragu sejenak, lalu turun dari ring dan mengambil gelas. Ketika ia menyodorkannya pada Gento, tangannya sedikit gemetar. Gento menerimanya, menatap bocah kurus itu, lalu berkata, "Pukulanmu malam itu di gudang... jelek. Kuda-kudamu salah." Sudut bibirnya yang penuh bekas luka sedikit terangkat. "Tapi nyalimu nggak."
Untuk pertama kalinya sejak Gento masuk, Arga hampir tersenyum.
Malam itu, ketika orang-orang pulang, Bima menghitung uang yang terkumpul bersama Sinta di bawah lampu neon. Belum cukup untuk operasi penuh. Tapi cukup untuk uang muka. Cukup untuk membuat dokter mulai menjadwalkan.
Sinta menatap tumpukan amplop, lalu menatap Bima. "Lihat kan? Cara jujur juga bisa."
Bima memandang sasana yang malam itu terasa hidup — berbeda dari sarang keputusasaan yang ditinggalinya selama tiga tahun. Ia menatap amplop lusuh milik Gento di antara yang lain, dan merasakan sesuatu yang aneh menghangat di dadanya.
Tapi jauh di seberang dermaga, di lantai dua gudang yang gelap, seseorang mengawasi cahaya sasana yang baru menyala itu — dan tidak suka.