Pak Broto tidak meninju. Itu yang membuatnya berbahaya.
Ia duduk di balik meja kayu jati di ruang kantornya di atas gudang, jari-jari bercincin emas menari pelan di permukaan map cokelat. Di seberangnya, Jagur berdiri dengan kepala plontosnya menunduk, tangan terlipat di depan tubuh.
"Si tukang pel bikin sasananya hidup lagi," kata Broto, suaranya selembut beludru. "Orang-orang menyumbang. Wartawan menulis. Bahkan Gento — Gento yang kubuang — datang ke tempatnya." Ia tersenyum, tapi senyum itu tak menyentuh matanya. "Aku rugi taruhan besar gara-gara dia, Jagur. Sindikat menertawakanku. Dan sekarang dia membangun panggung kebaikan di depan mataku."
"Mau saya kirim orang, Bos?" tanya Jagur. "Bikin sedikit kekacauan?"
Broto mengangkat tangan, menghentikannya. "Kekerasan itu bahasa orang bodoh, Jagur. Kau pukul orang, dia jadi pahlawan. Korban. Wartawan menulis lagi, makin banyak orang menyumbang." Ia membuka map cokelat itu, mengeluarkan beberapa lembar kertas. "Tidak. Kita main di tempat yang tak bisa mereka pukul kembali. Di atas kertas."
Jagur memicingkan mata, tak mengerti.
Broto menggeser kertas-kertas itu. Surat perjanjian. Kop palsu, tanda tangan dipalsukan, cap basah yang ia buat dari notaris gelap langganannya. "Surat kontrak. Tanggalnya kuatur mundur. Isinya: Bima Aditya terikat kontrak eksklusif sebagai petarung di sirkuit ringku selama lima tahun. Ia menerima uang muka. Ia melanggar dengan ikut sirkuit lain." Broto mengetuk kertas itu. "Secara hukum, dia masih milikku."
"Tapi itu palsu, Bos."
"Tentu palsu." Broto terkekeh pelan. "Tapi membuktikan palsu butuh waktu, butuh pengacara, butuh uang. Sementara si tukang pel itu mengurus surat lisensi pelatih resminya, surat ini akan muncul di meja komisi tinju. Komisi tak akan memberi lisensi pada orang yang masih terikat kontrak ring ilegal. Lisensi Bima dibekukan. Jalur amatir bocahnya — Arga — ikut tersendat, karena pelatihnya bermasalah." Ia menyandarkan punggung, puas. "Aku tak perlu memukul mereka, Jagur. Cukup kubuat dunia resmi yang menendang mereka keluar. Lalu satu-satunya ring yang tersisa untuk mereka... adalah ringku."
Jagur menatap surat-surat itu, lalu menatap bosnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun bekerja pada Broto, ada sesuatu yang terasa berbeda di dadanya — sesuatu yang ia kenali sebagai rasa tidak nyaman. Ia teringat malam di ring, ketika Bima menahan pukulan yang bisa membunuh Gento. Lelaki itu punya sesuatu yang tak dimiliki siapa pun di gudang ini.
Tapi Jagur hanya mengangguk. "Baik, Bos."
***
Dua hari kemudian, surat panggilan kedua dari Komisi Tinju Daerah tiba di sasana Garuda Mas. Bima membacanya di bawah lampu neon, wajahnya mengeras seiring matanya bergerak turun. Sinta merebut surat itu dari tangannya, membacanya cepat.
"Kontrak eksklusif?" Sinta mengernyit. "Kamu nggak pernah tanda tangan apa pun dengan Broto."
"Nggak pernah," kata Bima rendah. "Dia memalsukannya."
"Ini..." Sinta membaca ulang, jari-jarinya gemetar menahan amarah. "Ini licik. Dia tahu kita nggak punya uang buat lawan pengacaranya. Dia tahu komisi akan main aman dan bekukan lisensimu dulu, baru tanya belakangan." Ia menurunkan surat itu, menatap Bima. "Kalau lisensimu beku, Arga nggak bisa lanjut ke amatir resmi di bawah namamu. Dan kalau Arga keluar dari jalur resmi..."
"...dia jadi rentan lagi," Bima menyelesaikan. "Cuma ada satu ring yang tersisa buat anak kayak Arga kalau pintu resmi ditutup."
Mereka berpandangan. Mengerti betul jebakannya. Broto tidak menyerang dengan sentuhan. Ia menyerang dengan kertas, dengan stempel, dengan sistem yang lambat dan kaku.
Sinta melipat surat itu, memasukkannya ke tasnya, rahangnya mengeras. "Dia mau main di atas kertas." Mata jurnalisnya menyala. "Baik. Aku juga punya kertas. Dan aku punya pembaca."
Di luar, hujan mulai turun pelan, menderap di atap seng sasana. Bima menatap foto juaranya yang berdebu di dinding. Dulu ia mengira pertarungan paling sulit adalah yang terjadi di dalam ring. Sekarang ia mulai mengerti — pertarungan yang paling kotor justru terjadi di luar tali ring, di tempat tinjunya tak berguna.