Arga mendengar semuanya dari balik pintu gudang penyimpanan sasana.
Ia tak bermaksud menguping. Ia hanya sedang menyimpan pad latihan ketika suara Bima dan Sinta menembus dinding tipis itu. Kontrak palsu. Lisensi dibekukan. Jalur resmi tersendat. Dan kalimat yang menusuknya paling dalam, diucapkan Bima dengan suara rendah yang penuh beban:
*"Selama Broto masih bisa menyentuh anak itu, dia nggak akan pernah benar-benar bebas. Dan aku nggak tahu sampai kapan aku bisa melindunginya."*
Arga berdiri di kegelapan gudang, jantungnya berdebar. Beban itu — beban dirinya — menghimpit dadanya. Semua ini terjadi karena dia. Karena utang bapaknya. Karena ia datang ke sasana ini di malam hujan tiga bulan lalu dan menyeret Bima ke dalam neraka Broto.
Pak Darto sakit. Lisensi Bima terancam. Sinta menghabiskan hari-harinya melawan pengacara. Sasana yang baru saja bangkit kini terancam runtuh lagi. Semua, semua, karena dirinya.
Arga teringat kata-kata Bima yang diulang berkali-kali: *Kamu bukan bapakmu, kamu bebas.* Tapi malam ini, di kegelapan gudang itu, kata-kata itu terasa seperti bohong yang baik hati. Ia tidak bebas. Ia adalah rantai. Selama ia ada di sini, semua orang yang ia sayang terseret jatuh bersamanya.
Ada satu cara menghentikan ini. Satu cara saja.
Kalau Broto mau Arga — Arga yang dia incar sejak awal — maka biar Arga yang datang. Bukan Bima. Bukan Pak Darto. Bukan Sinta. Kalau Arga menyerahkan diri, kalau Arga kembali ke ring bawah tanah dan membayar utang itu dengan tubuhnya sendiri, mungkin Broto akan melepas yang lain. Mungkin Bima bisa dapat lisensinya kembali. Mungkin Pak Darto bisa sembuh dengan tenang.
Itulah yang dipikirkan bocah tujuh belas tahun itu di kegelapan. Pikiran yang salah. Pikiran yang lahir dari rasa bersalah, sama persis seperti rasa bersalah yang dulu mengubur Bima hidup-hidup selama tiga tahun. Murid mewarisi luka gurunya tanpa sadar.
Malam itu Arga menunggu sampai sasana sepi. Sampai lampu neon dimatikan dan Bima pulang ke kamarnya yang sempit di belakang. Ia menulis surat dengan tulisan tangan yang berantakan, meletakkannya di atas ring — tempat ia tahu Bima akan menemukannya saat subuh.
Lalu ia mengambil tas kecilnya dan menyelinap keluar ke jalanan basah pelabuhan.
***
Bima terbangun jam empat pagi. Selalu jam empat. Kebiasaan yang tak pernah mati.
Ia keluar ke ruang latihan, hendak memulai rutinitas seperti biasa — dan langsung tahu ada yang salah. Sasana terasa terlalu sunyi. Tas Arga tak ada di sudut tempat biasanya. Lalu matanya menangkap secarik kertas di atas matras ring, putih di bawah cahaya remang lampu jalan yang masuk dari jendela.
Tangannya gemetar saat mengambilnya.
*Coach Bima. Maaf. Semua ini gara-gara aku. Utang itu utangku, bukan utangmu. Aku nggak mau Pak Darto, Mbak Sinta, sama Coach jatuh gara-gara aku. Aku balik ke Broto. Aku bayar pakai caraku sendiri. Jangan cari aku. Terima kasih udah ngajarin aku tinju. Itu hal paling baik yang pernah ada di hidupku. — Arga.*
Surat itu terlepas dari tangan Bima.
Selama tiga detik ia tak bisa bernapas. Lalu sesuatu yang dingin dan tajam menusuk dadanya — ketakutan yang ia kenal terlalu baik. Ketakutan kehilangan satu nyawa lagi. Wajah Reza melintas, lalu wajah Arga, bertumpuk, tak terpisahkan.
"Tidak," bisik Bima. Lalu lebih keras, suaranya pecah di sasana kosong. "TIDAK."
Ia menyambar jaket, sarung tinju lamanya, kunci. Tangannya bergerak otomatis, didorong panik yang sama yang dulu membekukan tubuhnya di ring nasional tiga tahun lalu. Tapi kali ini ia tidak akan membeku. Kali ini ia tidak akan terlambat.
Ia menelepon Sinta sambil berlari ke jalan. "Arga pergi ke Broto. Aku ke gudang sekarang."
"Bima, tunggu—jangan sendirian—" suara Sinta panik di seberang.
Tapi Bima sudah memutus sambungan. Hujan tipis turun lagi, membasahi wajahnya saat ia berlari menembus subuh menuju dermaga. Lampu-lampu gudang pelabuhan menyala kuning kusam di kejauhan, seperti mata-mata yang menunggu.
Tidak ada lagi yang jatuh, batinnya, kaki menghantam aspal basah. Tidak ada lagi. Tidak akan kubiarkan.