Mereka bertemu lagi tiga malam kemudian, di ruangan yang lebih besar di lantai dua gudang. Kali ini ada saksi.
Para bos sindikat duduk berbaris di kursi-kursi mahal yang janggal di ruang berkarat itu — lelaki-lelaki berpakaian rapi dengan mata dingin, jam tangan mahal, dan rokok cerutu. Mereka adalah dunia yang tak terlihat di balik ring pelabuhan, jaringan uang yang mengalir dari taruhan darah. Di antara mereka, Bima mengenali satu wajah yang membuat perutnya mengejang: Bang Sahrul, duduk di ujung, kaki disilangkan, tersenyum tipis. Lelaki yang dulu menawarinya jalan keluar di rumah sakit. Lelaki yang ia tolak.
Sahrul mengangkat gelasnya pada Bima, gestur sopan yang terasa seperti ancaman.
Broto berdiri di tengah, menikmati panggungnya. Di atas meja terbentang kontrak — kali ini sungguhan, disaksikan, ditandatangani. Sinta berdiri di sisi Bima, blazer rapi, wajah tegang tapi tangannya stabil memegang ponsel yang merekam diam-diam. Hendra ikut datang, berdiri dengan lengan bersilang, rahang mengeras. Gento berdiri di belakang, raksasa diam yang kehadirannya membuat beberapa centeng gelisah.
"Mari kita bacakan syaratnya, supaya semua jelas," kata Broto, suaranya mengalir seperti madu beracun. "Bima Aditya akan bertarung satu kali di ringku. Lawan rahasia. Identitasnya kuumumkan saat malam pertarungan — itu bagian dari pertunjukan." Ia tersenyum pada para bos sindikat, yang terkekeh pelan. "Pertarungan disiarkan secara tertutup ke jaringan kami. Taruhan dibuka. Tanpa ronde, tanpa wasit yang adil, tanpa aturan kelas berat. Selesai saat satu orang tak bisa berdiri."
Sinta mengeras di samping Bima. "Itu bukan tinju. Itu pembantaian."
"Itu hiburan, Nona," kata salah satu bos sindikat, menghisap cerutunya. "Dan hiburan menghasilkan uang."
Broto melanjutkan, menikmati setiap kata. "Jika Bima menang: utang Arga dihapus total, disaksikan kalian semua. Kontrak yang mengikat Bima kurobek. Surat ke komisi kutarik. Dan semua... dokumen... yang dikumpulkan pihak Bima soal ringku, kami anggap tak pernah ada — kami berdamai. Bisnis berjalan, masing-masing tak ganggu." Ia berhenti, matanya menyipit. "Tapi jika Bima kalah: Arga menjadi milik penuh ringku, untuk bertarung sampai utang lunas atau mati. Dan reputasi Bima — beserta semua tuduhan pihaknya — hancur, karena dunia akan tahu Palu Garuda kembali ke ring gelap atas kemauannya sendiri."
Hening menggantung di ruangan.
Bima menatap kontrak itu. Otaknya bekerja seperti di ring — bukan melihat pukulan, melainkan melihat strategi besar. Ini bukan sekadar pertarungan. Ini cara Broto menyelesaikan semuanya sekaligus: menghancurkan reputasi Bima, mengamankan Arga, dan membungkam bukti yang dikumpulkan Sinta dan Maya. Broto tidak peduli Bima menang atau kalah secara fisik. Apa pun hasilnya, Broto menang — kecuali Bima bisa mengubah aturannya.
Karena yang Broto tidak tahu: Bima dan Sinta sudah hampir cukup mengumpulkan bukti. Daftar korban dari klinik Maya. Kesaksian beberapa petarung lama. Dan kalau Bima bisa membuat pertarungan ini disiarkan — direkam — dengan para bos sindikat berkumpul di satu tempat, di satu malam...
Bima mengangkat pandangan, menatap Sinta. Sebuah pesan tanpa kata mengalir di antara mereka. Sinta mengerti. Mata jurnalisnya menyala tipis.
Kalah-menang harus diubah jadi jebakan balik, batin Bima. Biar mereka kira ini panggung mereka. Padahal ini panggung kita.
"Aku tanda tangan," kata Bima, mengambil pena.
"Bima—" Hendra melangkah maju, tapi Bima mengangkat tangan.
Ia menandatangani kontrak iblis itu, tinta hitam tergores di kertas putih di bawah tatapan dingin para bandar judi. Broto tersenyum penuh kemenangan, mengambil kontrak itu, meniupnya agar kering.
"Kau membuat keputusan yang sangat menarik, Bima," kata Broto pelan. "Tiga hari lagi. Tengah malam. Di sini." Ia menjabat tangan Bima — tangan yang halus, dingin, bercincin. "Aku menantikan pertarungan terbaikmu."
Saat Bima berbalik pergi bersama rombongannya, Bang Sahrul memanggil dari kursinya. "Bima." Suaranya santai. "Tawaranku dulu masih berlaku, lho. Andai kau berubah pikiran soal... siapa yang kau bela." Senyum tipis. "Pikirkan baik-baik di ring nanti."
Bima tidak menjawab. Ia keluar ke malam, ke udara pelabuhan yang asin.
Di luar, Sinta menyentuh lengannya. "Kamu punya rencana. Aku lihat dari matamu. Apa rencananya?"
Bima menatap gudang gelap di belakangnya, tempat tiga hari lagi ia harus bertarung melawan lawan yang tak ia kenal, di hadapan musuh yang tak ia percaya. "Kita rekam semuanya," katanya pelan. "Pertarungan, taruhan, semua bos itu di satu tempat. Maya bawa data korban. Hendra hubungi orang komisi yang bersih. Kita ubah malam itu jadi malam mereka tertangkap." Ia menarik napas. "Tapi aku harus menang dulu. Atau setidaknya bertahan cukup lama."
Yang tak ia ketahui — yang Broto sengaja sembunyikan — adalah siapa lawan rahasianya. Dan kartu terakhir Broto, yang akan membalik semua rencana matang Bima menjadi reruntuhan.