Tiga hari berlalu seperti tiga tahun.
Bima berlatih dengan disiplin yang dingin, bukan untuk membangun otot baru — tiga hari tak cukup untuk itu — melainkan untuk menajamkan apa yang sudah ada. Pukul empat pagi ia lari di sepanjang dermaga, kaki menghantam tanah. *Tinju itu soal kaki, tenaga dari tanah.* Ia memukul samsak ribuan kali, jab demi jab, mengasah ritme. Ia tak tahu siapa lawannya, jadi ia berlatih untuk semua kemungkinan: yang lebih cepat, yang lebih besar, yang lebih kotor.
Maya, petugas medis muda dari klinik pelabuhan, datang ke sasana di malam kedua membawa map tebal. "Ini data tiga tahun terakhir," katanya, menaruhnya di meja. Wajahnya keras menahan emosi. "Nama-nama yang masuk klinikku dari ring Broto. Yang cacat. Yang lumpuh. Yang... nggak pulang." Ia menatap Bima. "Kalau kalian benar bisa membongkar tempat itu malam besok, aku ikut. Aku mau orang-orang ini punya keadilan."
Sinta menyusun rencana seperti merangkai berita: di mana kamera tersembunyi diletakkan, bagaimana rekaman dikirim langsung ke server cadangan, orang komisi mana yang Hendra hubungi, kapan aparat diberi tahu. Semua harus presisi. Satu kesalahan, dan mereka semua tenggelam.
Malam pertarungan tiba.
Gudang itu penuh sesak. Bukan kerumunan kasar biasa — malam ini ada bos-bos sindikat di balkon lantai dua, dikelilingi pengawal, dengan layar-layar yang menyiarkan ke jaringan gelap mereka. Taruhan mengalir deras. Bau uang, rokok, dan darah lama. Bima berdiri di sudut ring, dadanya telanjang, tangannya dibalut perban oleh Maya. Sinta berdiri di sudut, ponsel di tangan, ekspresi tenang menyembunyikan ketegangan. Hendra dan Gento di dekatnya. Arga — yang menolak ditinggal di sasana — berdiri pucat di belakang tali ring.
Lampu sorot menyala terang ke tengah ring. Broto naik ke atas matras, mikrofon di tangan, menikmati panggungnya seperti seorang impresario.
"Tuan-tuan yang terhormat!" suaranya menggema. "Malam ini, sebuah pertunjukan istimewa. Si Palu Garuda — sang juara yang membunuh di ring — kembali untuk bertarung demi seorang bocah!" Kerumunan bersorak serak. "Dan lawannya malam ini..." Broto berhenti, menikmati keheningan, menikmati kuasa. Matanya bertemu mata Bima, dan senyum di wajahnya melebar menjadi sesuatu yang sungguh kejam. "...adalah seseorang yang kalian semua kenal. Seseorang yang kembali dari kekalahannya. Sambutlah—Gento!"
Dunia berhenti.
Bima berputar. Di seberang ring, dari sisi gelap yang lain, sosok raksasa melangkah masuk ke cahaya. Gento. Tubuh penuh tato itu, mata yang—
Tapi mata itu tidak kosong seperti dulu. Mata itu penuh sesuatu yang Bima tak duga: penderitaan. Dan di belakang Gento, dua centeng menyeret sesuatu—seseorang. Seorang perempuan tua dan seorang anak kecil, terikat, mulut diplester, mata ketakutan.
"Gento punya keluarga," kata Broto ke mikrofon, suaranya manis beracun, dan kerumunan mendengus kasar. "Ibu dan keponakannya. Aku menjamu mereka sebagai tamuku malam ini. Selama Gento bertarung dengan baik — sungguh-sungguh bertarung, sampai salah satu dari mereka tumbang — tamuku akan aman." Ia menatap Bima dan Gento bergantian, menikmati kehancuran yang ia ciptakan. "Dua sekutu. Dua orang yang kupakai dulu. Sekarang saling hadap. Bukankah hidup penuh kejutan?"
Bima merasakan rencananya retak di tangannya seperti kaca. Ini kartu yang Broto sembunyikan. Bukan sekadar mengadu Bima dengan lawan asing — Broto mengadu Bima dengan satu-satunya sekutu yang mulai ia percaya, dengan menyandera orang-orang tak bersalah. Kalau Bima menang, Gento hancur dan keluarganya tetap dalam bahaya. Kalau Bima kalah, Arga jadi milik Broto. Apa pun yang terjadi di ring ini, Broto telah merancangnya agar Bima kalah secara moral.
Bima menatap Gento melintasi ring. Raksasa itu menatap balik, dan untuk pertama kalinya Bima melihat air mata di sudut mata seorang lelaki yang dulu membunuh dua orang tanpa berkedip.
"Maaf," bisik Gento, terlalu pelan untuk didengar Broto. Cukup keras untuk didengar Bima. "Aku nggak punya pilihan. Mereka punya ibuku."
Bima menelan kepahitan di tenggorokannya. Lampu sorot membakar punggungnya. Kerumunan meraung. Broto tersenyum dari sudut ring, dan Bang Sahrul mengamati dari balkon dengan ketertarikan dingin seorang penonton yang sudah tahu akhir cerita.
Dua orang yang patah. Berdiri saling berhadapan di ring kotor, dipaksa menghancurkan satu sama lain demi orang-orang yang mereka cintai. Bel berbunyi.