Najwa memarkir mobil di garasi. Segera berlalu melewati halaman yang dipenuhi bunga mawar menuju rumah mewah bertingkat dua pemberian papanya.
Mobil Pajero berwarna hitam telah terparkir di sebelah mobil Honda Brio berwarna merah milik Najwa tadi. Suaminya pasti sudah pulang. Betapa rindu hati Najwa ingin segera bertemu dengan lelaki tampan itu, sudah tiga hari ini perempuan bertubuh gemuk itu tak pulang karena menemani nenek Brian yang sedang sakit.
Rahang yang kuat dengan mata tajam dan alis tebal. Hidung mancung ditambah bibir tebalnya, rambut sedikit bergelombang membuat wajah Brian terlalu sempurna untuk dikatakan sebagai pria tampan.
Brian Syailendra adalah cinta pertama Najwa saat sekolah menengah atas. Pria yang selalu membelanya dari bully-an teman-teman lain. Dengan dalih ingin bertanggung jawab penuh pada pekerjaannya. Brian sering keluar kota. Meninggalkan Najwa hingga beberapa bulan. Najwa rela berjauhan dari sang suami demi pekerjaan dan rasa cintanya.
'Ah, aku merindukanmu sayang!' batin Najwa saat menatap ke lantai dua. Ke arah kamar mereka.
Najwa membuka pintu, melangkah dengan cepat menaiki anak tangga penghubung lantai atas. d**a Najwa berdebar membayangkan akan bertemu suami yang sudah tiga hari ini tak dijumpainya.
Pintu kamar tidur Najwa sedikit terbuka tak tertutup sempurna. Gadis bertubuh gemuk itu membuka lebih lebar pintu agar dapat masuk.
'Apa ini?' batin Najwa.
Kamar tidurnya sedikit acak-acakkan, nyaris berantakan. Selimut yang lusuh hampir terjatuh dari ranjang. Ada bekas pembungkus juga sisa makanan yang terjatuh di lantai. Dua gelas berisi minuman berwarna merah di atas nakas samping ranjang.
Ada beberapa pakaian tercecer di lantai. Najwa meraih kemeja putih, ya kemeja ditangannya itu adalah milik Brian yang sering dipakai untuk bekerja. Tergeletak di ujung ranjang. Saat gadis bertubuh gemuk itu menghidu ada bau tubuh yang sangat dikenalinya. Namun, ada yang aneh. Bau kemeja Brian bercampur dengan parfum lain. Bau yang berbeda, bukan parfum yang biasa Brian pakai. Parfum seorang wanita sepertinya, baunya lebih manis.
Sayup-sayup terdengar suara perempuan tertawa. Siapa itu? Najwa melangkah menuju kamar mandi. Dari depan pintu terdengar suara lelaki dan perempuan di dalam sana.
Suara dan langkah-langkah kaki itu mendekat, Najwa menengok ke kiri dan kanan. Ia mencari tempat persembuyian, teruru-buru masuk ke dalam lemari pakaian. Tak berapa lama terdengar suara pintu dibuka.
"Kau suka sekali menggodaku?"
Suara seorang perempuan terdengar. Tak berapa lama Najwa membelalakkan matanya. Muncul Airin, sekretaris pribadi Brian itu duduk di atas kasur. Hanya memakai handuk? Ia terus menyaksikkan adegan di hadapannya dari sela-sela lemari kayu.
"Karena aku tak bisa jika tak menggodamu!"
Sebuah suara yang sangat Najwa kenal terdengar mendekat. Brian muncul dengan kimono berbahan handuk. Matanya terbelalak lebih lebar. Jantung Najwa berdetak sangat cepat, sementara napasnya tersengal-sengal menahan amarah.
Gadis bertubuh gemuk itu menutup mulut, menahan isakan dan amarah yang mulai tak terbendung, pundaknya bergetar.
'Apa yang mereka lakukan? Teganya mereka berselingkuh di belakangku. Di atas ranjangku sendiri?' batin Najwa.
Mereka saling bertatapan penuh hasrat. Wajah Brian mendekat pada Airin. Pasangan tak halal itu saling berpagut sebentar.
"Kau harus membayar mahal untuk ini," ucap Airin. Wanita yang hanya mengenakan handuk itu menjauh, mengerling nakal. Seakan-akan menggoda Brian untuk menangkapnya.
Airin bersandar di depan lemari, Brian mendekat.
'Ya Tuhan, apa ini? Kenapa aku harus menyaksikan adegan m***m mereka tepat di depan kedua mataku?' Kembali Najwa bergumam dalam hatinya.
Pundaknya semakin bergetar menahan isakan. Air mata mulai menetes menganak sungai mengiringi adegan demi adegan yang mereka perlihatkan.
Kembali mereka saling berpagutan, Brian membuka dengan sengaja handuk yang dipakai oleh Airin hingga terjatuh di lantai.
Tangan Brian menjelajah dengan liar tiap lekuk tubuh Airin. Dan si w************n itu terlihat pasrah. Menikmati tiap sentuhan yang diberikan oleh Brian.
Suami Najwa meremas dua gundukan Airin yang berisi dengan penuh hasrat. Mereka masih terus berpagutan, meneruskan adegan panas itu. Keduanya mundur di tepi ranjang, lalu Brian melepas handuk kimononya.
Najwa memukul-mukul dadanya. Ia melihat perselingkuhan terjadi di depan kedua matanya sendiri. Orang yang sangat dia sayangi tega menusukkan pisau belati ke dalam jantungnya. Pasti sangat sakit.
Airin telentang di atas ranjang sementara Brian di atasnya, bersiap memasukkan alat k*********a, menuntaskan syahwat.
'Cukup!' Batin Najwa sudah tak sanggup.
Istri sah Brian tak dapat lagi menahan diri. Ia tak mau melihat keduanya berhubungan intim lebih jauh.
"Cukup!" Najwa berteriak dengan lantang sambil membuka pintu lemari kayu dengan keras, hingga menabrak sisi lainnya. Menimbulkan suara dentuman keras.
Brakgh.
Keduanya terlihat kaget. Mata mereka membelalak lebar ketika wanita berbadan gemuk itu muncul dari dalam lemari.
"Tega-teganya kalian?" Pekik Najwa.
Brian dengan cepat menyambar handuk kimononya di tepi ranjang. Memakainya dengan asal. Menyeka peluh di wajah lalu berjalan mendekati istrinya.
"Dasar kurang ajar, pengkhianat, bajingan." Najwa berteriak kesetanan. Umpatan, serta sumpah serapah keluar dari mulutnya.
"Biar aku jelaskan dulu, Najwa!" Brian berkata dengan napas yang masih memburu. Najwa menepis tangan Brian saat akan meraih jemarinya.
Najwa menghindar dari lelaki yang sudah menikahinya selama lima tahun itu. Jijik, benci, kesal juga marah tersirat di wajahnya. Najwa ingin meledak, mengamuk, memporak porandakan dunia yang terlalu kejam ini.
"Sayang, denger dulu!" Lagi Brian berkata, mendekat pada Najwa.
Setelah semua yang diperbuat Brian dengan Airin, bisa-bisanya ia masih memanggil Najwa dengan kata sayang?
Airin dengan santai meraih selimut untuk menutupi tubuh moleknya. Seakan-akan tak merasa bersalah pada istri sah Brian.
Tatapan mata Najwa dan Airin bertemu. Pelakor itu malah tersenyum menyeringai penuh kemenangan, satu sudut bibir Airin terangkat naik.
Dada Najwa terlihat turun naik dengan cepat. Sepertinya ia akan meledak.
'Sakit. Sungguh sakit,' batin Najwa.
'Tuhan … tolong aku,'' desahnya dalam hati.
Air mata mulai menuruni pipi Najwa.
"Mari kita bercerai." Brian menatap serius pada Najwa.
"Apa? Ke-kenapa? Apa salahku?"
Kedua suami istri itu saling menatap. Suasana semakin menegangkan. Namun, Airin duduk dengan manis di tepi ranjang. Wanita tak tahu diri itu merasa menang. Ia akan menikahi sang CEO.
"Aku muak denganmu!" ungkap Brian dengan lantang.
Najwa mengangkat tangannya, menutupi mulut. Tak menyangka jika lima tahun pernikahannya adalah hal memuakkan bagi Brian.
Dua belas tahun saling mengenal, nyatanya tak membuat Najwa benar-benar memahami sang suami.
Padahal sejak Najwa dan Brian bertemu semasa sekolah menengah atas dulu. Najwa sangat menyukai suaminya itu.
Betapa beruntungnya Najwa menjadi seorang anak dari CEO sebuah perusahaan electronic terkemuka. Sedari kecil apapun yang diinginkannya selalu terkabul. Makanan enak, baju mahal mainan canggih. Dan semua kelebihan lainnya yang memanjakan membuat dirinya merasa menikmati hidup. Dan akhirnya panah timbangan selalu miring ke kanan.
200 kilogram. Badan Najwa dipenuhi dengan tumpukan lemak yang membuatnya terlihat lebih tua sejak ia kecil. Karena berat badannya ini juga Najwa sering mengalami bully dari teman sekolah. Beruntung dia bertemu Brian, seorang lelaki tampan yang selalu membela dari gangguan anak-anak nakal di sekolah.
Namun, ternyata Brian adalah b******n. Ia sengaja mengincar harta Najwa sejak dulu. Kini, Najwa tahu sifat Asli Brian.
"Aku tak ingin bercerai, aku akan melupakan perselingkuhanmu. Mari kita mulai dari awal lagi." Najwa memohon pada sang suami. Ia berusaha meraih tangan suaminya.
Brian menghempaskan tangan Najwa, "Sudah kubilang, aku muak dan jijik hanya dengan melihatmu. Kau tak tahu betapa malunya aku setiap kali para pemimpin perusahaan lain datang membawa istri cantik mereka ke setiap acara pertemuan?"
Lelaki itu mengernyitkan alisnya, menatap Najwa dari atas hingga bawah. Menyiratkan rasa muak dan jijik.
"Kenapa? Kenapa kau menikahiku jika tak mencintaiku?"
"Tentu saja, karena hartamu!" Sebuah pengakuan dari mulut Brian meluncur dengan begitu ringan. Ia bahkan tersenyum di akhir kalimatnya.
Mata Najwa kian terasa panas. Dadanya makin sesak. Tak kuat menahan rasa nyeri dan sakit yang menusuk ulu hatinya.
***Gendut Alasan Suami Selingkuh***