Najwa menatap nanar pada Airin, perempuan jalang yang telah berani menggoda suaminya. Ia melangkah mendekat padanya, meraih rambut wanita itu, "Dasar wanita gak tau diri," umpat Najwa dengan suara parau.
"Aaargh," teriak Airin saat tangan Najwa menarik rambut berwarna kecokelatan dari kepalanya. Mukanya meringis menahan rasa sakit.
"Sayang, sakit!" Airinz berteriak memanggil Brian dengan kata sayang.
Brian mendekat pada Airin, dipeluknya perempuan licik itu. Di balik punggung Brian, Airin tersenyum menyeringai pada Najwa. Apa? Lihatlah, perempuan itu masih bisa tersenyum setelah apa yang dilakukannya pada Najwa? Apa dia tak merasa bersalah atas apa yang dilakukannya?Ia sengaja.
Sakit, hati Najwa terasa sangat sakit melihat mereka berpelukan. Kembali perempuan bertubuh gemuk itu mendekat, menarik rambut Airin.
"Lepaskan Najwa!" Brian membentak istri sahnya.
Najwa menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya apa yang didengarnya. Brian membantaknya dan membela perempuan lain.
"Aku ini istrimu, perempuan yang kami nikahi selama lima tahun. Apa aku tak ada artinya buatmu?"
Brian tersenyum. Satu sudut bibirnya terangkat naik. Alisnya mengernyit, ekspresi wajahnya semakin melukai Najwa.
Amarah semakin merasuk di d**a Najwa, "Awas kau ...." Ia mengangkat tangan kanannya, akan menampar pipi Airin. Wanita gatal itu memejamkan mata.
Brian menahan tangan Najwa, "Hentikan!"
"Kenapa?"
Najwa menatapnya dengan air mata berlinangan. Sakit, hatinya hancur berantakan. Kenapa orang yang sangat dicintainya malah membela wanita lain, daripada dirinya, istri sahnya?
"Lepaskan ...." Najwa berteriak kesal. Air mata mengalir menuruni pipi chubbynya.
Brian menatap tajam pada Najwa, "Cukup, hentikan semua ini!"
"Berani-beraninya kalian berselingkuh di ranjangku, di depan kedua mataku? Kurang ajar kalian," sembur Najwa lagi.
"Ayo kita bercerai," ucap Brian. Dengan ekspresi santai. Seolah-olah pernikahan mereka tak ada harganya, dengan mudah dia mengucapkan cerai.
'Kenapa? Ada apa ini? Seharusnya aku yang meminta cerai. Aku yang berada pada posisi tersakiti,' batin Najwa.
"Sayang, jangan tinggalkan aku!"
Najwa memelas pada suaminya sendiri. Berharap lelaki itu tak menceraikannya. Hanya dia satu-satunya lelaki yang dimiliki perempuan bertubuh gemuk itu, Brian adalah cinta pertamanya. Najwa kembali mencoba meraih tangan Brian. Namun, sang suami menghempaskan tangan Najwa dengan keras, seakan-akan jijik.
"Aku ingin kita bercerai," ulang Brian lagi.
"Tidak … tidak, Sayang jangan lakukan itu. kita sudah menikah selama lima tahun. Sudah tiga belas tahun kita saling mengenal. Kenapa tiba-tiba sekarang kau berubah?" Bibir Najwa bergetar mengucapkan kata-kata itu, dadanya serasa remuk redam mendengar Brian --suami tersayangnya-- mengucapkan kata cerai.
"Aku sudah muak, tak tahan hidup bersamamu lagi," ucap Brian pada Najwa.
Kaki Najwa terasa lemas tanpa daya, kepalanya terasa berat kemudian pandangan matanya berputar.
"Apa salahku?" Lirih Najwa berucap. Brian tak menjawab. Ia malah membuang muka, mendekat pada Airin.
Seisi ruangan terasa berputar, kepala Najwa semakin terasa pusing. Seketika, semua terasa gelap. Perempuan itu ambruk ke lantai.
***
Najwa mengerjapkan mata beberapa kali memperjelas pandangan. Menatap sekeliling ruangan, dia sudah berada di atas ranjang. Entah sudah berapa lama ia tertidur.
Kamar sudah tertata rapi, hanya ada Najwa seorang di dalam kamar itu.
"Kemana Airin dan suamiku pergi?"
"Apa Brian yang sudah menggotongku ke tempat tidur?"
"Ah, kepalaku masih terasa pusing dan berat."
Najwa berbicara seorang diri di atas ranjang.
Perlahan ia berusaha bangun dan bersandar pada tepi ranjang, menatap berkeliling.
Perempuan itu teringat kembali adegan ranjang yang dilakukan Brian di hadapannya tadi. Seketika ia merasa jijik dan marah pada dirinya sendiri.
Najwa menatap ke arah kaca di meja riasnya. Pantulan wajahnya terlihat jelas di sana.
"Apa karena tubuh gemuk ini? Apa karena wajah tak cantik ini?"
"Aaarrgh …."
Najwa berteriak sekeras mungkin. Meluapkan semua rasa sesak dan sakit di d**a. Setelah semua yang dilakukannya untuk Brian, inikah balasan yang didapatnya.
Najwalah yang membiayai Brian kuliah di luar negeri. Bahkan rumah yang mereka tempati ini adalah warisan dari ayahnya, perusahaan tempat Brian bekerja juga milik Najwa. Tega-teganya dia berselingkuh setelah semua yang dilakukan Najwa padanya.
"Nyonya, apa nyonya baik-baik saja?"
Bi Inem asisten rumah tangga yang telah bekerja pada keluarga Najwa sejak ia berseragam putih biru datang. Ia berlari tergopoh menuju Najwa, wajahnya terlihat panik dan khawatir.
"Bik, apa Bibik tau tentang perselingkuhan Tuan Brian?" cerca Najwa saat Bi Inem sudah berada di samping ranjang.
Bik Inem terdiam, tak berani menjawab, "Katakan padaku Bik!? Apa mereka sudah pernah datang seperti ini saat aku tidak ada?"
Bik Inem masih tetap menunduk, seakan-akan ada banyak rahasia yang telah lama ia simpan. "Katakan, Bik!"
Perlahan wanita yang hampir berumur sekitar setengah abad itu bercerita.
"Sudah lama, Nya." Ia tak berani menatap mata Najwa, nada bicaranya sangat pelan. Takut jika majikannya marah mungkin.
"Tuan, mengancam akan memecat saya jika saya memberitahukannya pada, Nyonya."
'Bagus semua orang bersekongkol di belakangku. Dunia sedang berlaku jahat padaku,' batin Najwa.
Najwa tertawa, beberapa detik kemudian raut wajahnya kembali sedih. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Jahaaat … kenapa kalian semua jahat!?" Najwa berteriak sekeras mungkin. Meluapkan emosi di dadanya.
Merasa sudah lebih baik, Najwa mencoba berdiri dari ranjang, berjalan dengan cepat menuju ruang belajar. Di sana tersimpan beberapa surat-surat berharga. Teringat akan akta rumah yang telah dialihkannya atas nama Brian.
Perempuan bertubuh gemuk itu menggeleng beberapa kali, "Tidak, semua itu milikku!" gumamnya.
"Kenapa?! Aku sebodoh ini!"
Najwa keluar dari kamar, berlari pelan menuju ruang belajar. Membuka nakas, mengambil beberapa map. Membuka dan meneliti isi map itu satu persatu. "Ah, tidak. Kenapa akta rumah dan tanah tidak ada?" ucapnya pada diri sendiri.
"Dimana kutaruh map berisi akta tanah dan rumah ini?" gumam Najwa lagi. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Nakas." Ia menatap nakas, berlari ke sana.
Membuka laci besi paling atas, mengeluarkan semua barang yang ada di dalamnya. Ia mengambil satu per satu berkas, kemudian membaca dan menelitinya. Namun, akta tanah juga surat rumah tak ia temukan di sana.
Beberapa jam setelah menggeledah isi nakas, Najwa tetap tak menemukan apa yang ia cari. Najwa duduk bersandar pada dinding, menangis tersedu atas semua yang terjadi.
'Setega itukah Brian padaku? Bukan hanya berselingkuh dengan wanita lain. Ia juga mengambil akta tanah juga surat rumah ini?' monolog Najwa.
Apa salah Najwa padanya? Semua telah ia lakukan untuknya. Apa yang ia minta selalu dituruti Najwa. Kenapa ia masih saja menganggap istrinya itu tak ada.
"Bukankah dulu dia yang datang padaku, menebar pesona dan mencari perhatian. Lalu seiring berjalannya waktu aku simpati pada kebaikannya. Perlahan mulai jatuh cinta pada Brian. Ia yang selalu menolongku saat siswa di sekolah membully." Najwa berbicara seorang diri. Matanya menerawang kembali memasuki ingatan saat ia masih duduk di bangku SMA.
Tujuh tahun yang lalu ….
"Hentikan, siapa kalian berani menghina Najwa?" Hardik Brian pada adik kelas yang melempari Najwa saat itu dengan kapur tulis.
Najwa tak berhenti menatap wajah tampan Brian, terpesona oleh ketampanan dan sikap pelindung yang Brian miliki.
Pada kenaikan kelas dua, beberapa siswi perempuan menyeret Najwa ke dalam kamar mandi. Di sana mereka membully, menghina bahkan menyiram seember air pada gadis bertubuh gendut itu.
"Dasar gendut, jelek, berani-beraninya mengambil Brian. Dia itu milikku," ucap salah seorang dari mereka.
"Gak tau malu." Gadis berambut panjang ikut mengolok-olok Najwa.
"Ngaca dong," ucap yang lainnya.
Tak berapa lama, Brian kembali datang. Mengusir siswa perempuan dari kelas lain yang melakukan bully pada Najwa.
Najwa pikir Brian membelanya karena benar-benar menyayanginya. Ternyata Najwa salah, ada udang di balik batu. Ada niat yang terselubung rapi dalam hati Brian.
Perlahan rasa simpati yang dirasa atas semua kebaikan Brian berubah menjadi cinta. Wajah tampan dan perhatian lelaki bertubuh atletis itu pada Najwa membuatnya mampu melakukan apa saja demi melihat Brian bahagia.
Kisah beauty and the beast dalam cerita dongeng terjadi dalam dunia nyata, pada kisah cinta Najwa.
Selepas lulus SMA Brian melamar Najwa. Sebuah pesta pernikahan digelar secara sederhana, tak ingin menghabiskan uang Papa Najwa kilah Brian.
Padahal ia tak ingin publik bahkan banyak orang tahu perihal pernikahan mereka.
Saat Brian ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri, Najwa adalah orang pertama yang mendukung keputusannya. Meminta Papa Najwa untuk membiayai semua kebutuhan Brian.
"Jahat kamu, Brian!" pekik Najwa. Ia membuang bantal ke lantai.
***Najwa Revenge***