Keesokan harinya ….
Di sebuah restoran mewah. Najwa menatap wajah wanita cantik di hadapannya. Rambut sebahu, hidung mancung, bibir tipis dan badannya yang berbody seperti gitar spanyol. Semua yang ada padanya membuat Najwa iri sebagai wanita.
Wanita dengan pendidikan tinggi yang ternyata tak memiliki hati. Tega berselingkuh dengan atasannya yang jelas-jelas telah beristri. Selepas tertangkap basah nyaris berhubungan intim tadi, tak ada rasa bersalah atau pun malu. Wajah Airin tetap terlihat tenang.
Najwa menangis sejadi-jadinya. Menatap marah pada suaminya. Memukul-mukul d**a Brian, iya lelaki itu hanya terdiam. Tak ada penjelasan apalagi kata maaf. Suaminya malah ingin menggugat cerai Najwa.
Di sanalah mereka berada sekarang, sebuah restoran mewah tempat yang dipilih Najwa untuk berbicara dengan Airin. Ia ingin berbicara serius dengannya, sebagai sesama wanita.
"Tolong, jauhi suamiku!" ucap Najwa parau dan sedikit serak karena sedari tadi menangis.
Wanita bertubuh gemuk itu menatap manik mata Airin, mengiba padanya. Sedang dadanya terasa remuk redam, sakit bagai ditusuk-tusuk pisau tajam. Teringat bagaimana mereka bermesraan, berpagutan, dan nyaris berhubungan intim tadi, di depan matanya sendiri. Di atas ranjang tempat Najwa dan Brian bersama selama lima tahun ini. Seakan-akan tak ada tempat lain.
"Apa kamu gak pernah ngaca?" kata Airin pada Najwa, wanita itu tersenyum menyeringai.
"Apa?" Najwa balik bertanya, tak mengerti apa maksud kata-kata Airin.
"Kamu harusnya kasihan sama Brian, bagaimana mungkin seorang lelaki tampan dan sukses sepertinya memiliki istri sepertimu? Sudah gendut Jelek lagi!" Satu sudut bibir Airin terangkat naik saat mencemooh Najwa. Pandangan matanya menyiratkan kebencian juga jijik pada wanita bertubuh gemuk di hadapannya.
Najwa meremas jemari tangan di atas pangkuan. Dia tak menyangka Airin tega berkata seperti itu padanya. Dia adalah istri sah Brian, Airin yang seharusnya meminta maaf karena telah merusak rumah tangganya. Dia yang harusnya sadar diri dan pergi dari kehidupan Najwa dan Brian.
"Pergilah, sudah lama Brian muak padamu!" ucap Airin lagi dengan nada tinggi.
Entah setan apa yang merasuki, atau memang ini sifat aslinya. Tak punya perikemanusiaan. Jelas-jelas ia yang bersalah, tapi bersembunyi dibalik semua kekurangan yang dimiliki Najwa. menjadikan semua kekurangan itu senjata untuk menyudutkan Najwa. Membuat gadis bertubuh gemuk itu merasa tak pantas memiliki suaminya sendiri.
"Sudah lima tahun aku menikah dengan Brian. Bahkan akulah yang membiayai dia kuliah di luar negeri. Aku selalu melayani Ayah dan Ibu mertuaku sebaik mungkin. Apa kamu tahu semua yang kulewati untuk bertahan sejauh ini?" Nada suara Najwa bergetar. Mengingat semua yang telah dia lalui untuk bertahan hingga sekarang.
Setiap pagi dia harus memasak, membersihkan rumah, bahkan mencuci dan mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Bayangan setumpuk piring terlintas di depannya. Ibu Mertua dan kedua adik perempuan Brian hanya berpangku tangan. Mereka sering menyuruhnya melakukan semua pekerjaan rumah atau lebih tepatnya menganggapnya sebagai pembantu.
Belum sifat Brian yang akhir-akhir ini cuek terkesan tak menganggap Najwa sebagai istrinya.
"Aku tak ingin tahu, semua itu sudah nasibmu. Kamu hanya dianggap sebagai pembantu, dan aku akan menggantikanmu menjadi ratu di rumah itu. Sudah dua tahun ini kami berhubungan, Brian akan segera menceraikanmu dan menikah denganku!" Airin memotong kata-kata Najwa.
Mata Najwa membelalak lebar. Betapa kagetnya istri Brian itu, ternyata hubungan mereka sudah selama itu? Sudah sejauh itukah?
"Tolonglah ...," kata Najwa lagi. Kali ini dengan nada yang lebih merendah.
"Kamu masih muda dan cantik, kamu bisa mendapatkan lelaki manapun yang kamu mau. Jangan suamiku, dia segalanya bagiku!" ucap istri sah Brian itu. Air mata jatuh berlinangan saat dia memohon belas kasihan dari wanita di hadapannya itu.
Brian adalah cinta pertama Najwa, sudah 13 tahun ia mengenalnya. Brian telah jadi suaminya selama lima tahun, Najwa merasa sangat mengenal sifatnya. Tak mungkin ia berselingkuh jika tak digoda lebih dulu. Sesenggukan ia menahan tangis. Sakit, rasanya sakit sekali.
"Sudahlah, harusnya kamu yang sadar diri dan pergi dari kehidupan Brian. Kamu tak pantas bersanding dengannya." Airin berdiri dan melangkah menuju pintu keluar restoran. Meninggalkan Najwa sendiri dengan semua rasa sakit yang mereka goreskan.
Seketika semakin deras air mata berlinangan. Tak lagi sesenggukan, kini Najwa terisak. Pundaknya bergetar hebat.
Sedari tadi dadanya serasa ingin meledak. Ia memukul-mukul d**a, melampiaskan rasa kesal, sesak, dan sakit. Beberapa tamu yang melihatnya menangis memandang dengan sorot iba. Namun tak ada dari mereka yang mendekat atau sekedar bertanya.
Dari kejauhan Najwa melihat Brian membukakan pintu mobil. Airin masuk perlahan, mobil berwarna hitam itu mulai menjauh.
***Najwa Revenge***
Najwa menangis sejadi-jadinya di dalam mobil yang dikendarainya. Sungguh tega suami yang dia cintai lebih dari nyawanya sendiri itu memilih wanita selingkuhannya dari istri sendiri.
Jika Brian tak mencintainya kenapa memacari Najwa saat SMA. Jika tak punya rasa pada wanita bertubuh gemuk itu apa artinya pernikahan selama lima tahun ini? Sandiwarakah?
"Muak?" gumam Najwa menatap kaca mobil.
Apakah tubuh gendutnya itu yang membuat Brian muak, dan berpaling pada wanita lain?
13 tahun mengenalnya ternyata belum membuat Najwa benar-benar mengerti akan sifat asli Brian. Gadis bertubuh gemuk itu memejamkan mata, berusaha melupakan bayangan Brian bermesraan dengan Airin tadi.
"Argh," pekik Najwa.
Saat Najwa membuka mata sebuah mobil mendekat dari arah berlawanan, hampir menabrak mobilnya. Rupanya kemudi yang dikenudikannya mengarah ke jalur satunya saat memejamkan mata tadi. Segera ia mengarahkan kemudi pada sisi lain jalan. Sial!
"Bruakhg!"
Mobil yang dikendarai Najwa menabrak pembatas jalan. Kepalanya terantuk kemudi dengan keras. Tak terasa darah menetes di keningnya. Badannya terpental beberapa kali hingga akhirnya mobil meluncur, terbang bebas menuju sungai di bawah jembatan.
"Tolong … tolong!" Berulang kali Najwa berteriak meminta tolong.
Kejadiannya begitu cepat mobil yang dikendarai Najwa sudah meluncur dari pembatas jalan, terguling beberapa kali menabrak bebatuan lalu masuk sungai, terendam air. Dengan sisa kesadaran dan kekuatan yang ada. Najwa berusaha keluar, membuka pintu mobil.
Dia berenang menuju tepian. Dingin, air di sungai itu terasa begitu dingin. Beberapa luka yang didapatkan Najwa karena tabrakan tadi terasa sangat perih saat terkena air. Gadis bertubuh gemuk itu merasa sangat lelah untuk bertahan.
'Apa sebaiknya aku ikut tenggelam saja di dalam mobil.' Pikir Najwa.
Walaupun dia selamat, tak akan ada Brian yang datang untuk mengobati luka-luka di badan apa lagi dihatinya.
'Haruskah aku mati saja agar tak merasakan semua sakit di hati?' Pikir Najwa kemudian memejamkan matanya. Ia akan pasrah pada takdir.
Beberapa saat ia menahan napas dan matanya terpejam. Najwa Ingin menyerah, berhenti bergerak, menenggelamkan dirinya di sungai,.
Namun, kembali ia membuka mata. Sekuat tenaga Najwa menggerakkan kaki dan tangan. Mencoba berenang kembali, menuju tepian. Masih banyak yang harus dilakukannya. Jika ia mati sekarang Brian akan hidup dengan senang bersama Airin.
'Tidak, aku harus hidup!'
'Aku masih ingin hidup.'
Dengan sisa tenaga yang ada Najwa mencoba berenang lagi. Menggerakkan tangan dan kaki. Mengarah pada bebatuan di tepi sungai.
Pelan namun pasti, Najwa mendekat ke tepian, "Ya Tuhan …," teriak Najwa, merasa lega bisa keluar dari air.
Badan Najwa tergolek telentang menatap langit. Dia terlihat sangat lemas dan tak ada tenaga. Gadis itu kelelahan. Dadanya terlihat turun naik. Ia mencoba mengatur napas yang tersengal-sengal.
Najwa mencoba merangkak di atas rerumputan pinggir sungai. Mencoba mencari bantuan, atau setidaknya Najwa berharap ditemukan seseorang.
"Tolong … toloong," rintihnya pelan.
Entah seberapa jauh Najwa ikut terhanyut terbawa sungai tadi. Di tempatnya berdiri hanya gelap, jauh dari jalan raya. Tak ada seseorang yang lewat di sekitarnya.
Kedinginan. Dengan baju basah dan tanpa alas kaki, Najwa melangkah. Tangannya pucat dan keriput. Bibirnya membiru dan bergetar. Ia mulai merasakan rasa perih di kening, akibat terantuk bagian mobil saat tabrakan tadi.
"Tolong, aku!"
Najwa berharap Tuhan akan datang atau setidaknya mengirimkan malaikat untuk menolongnya.
Tak berapa lama badannya terjatuh. Najwa terpejam di atas rerumputan.
Bagaimana keadaan Najwa? Apakah ia meninggal? Benarkah itu akhir dari hidupnya?
***Najwa Revenge***