Beberapa jam sebelumnya ….
Di atas jembatan terlihat dua sosok manusia sedang mengawasi ke bawah jembatan. Menatap ledakan api dari bongkahan bangkai mobil Najwa. Kepulan asap tebal membumbung ke udara.
"Brian …," teriak Airin sambil menunjuk ke arah sungai.
Brian mengusap wajah dan rambutnya dengan kasar. Mengembuskan napas dengan cepat dan kasar.
"Dasar gila apa yang kau lakukan?!" Airin membelalakkan mata dan berteriak pada Brian.
"Aku tidak bermaksud membunuhnya! Bagaimana ini? Haruskah kita menelepon polisi? Bagaimana kalau Najwa meninggal?" gumam Brian.
Brian terlihat kebingungan. Ia menatap Airin dengan raut wajah panik dan ketakutan. Berjalan mondar mandir dari satu tepi jembatan ke tepi jembatan lain. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Setengah bagian mobil Najwa tenggelam, hanya terlihat besi penutupnya saja. Kepulan asap tipis berbau menyengat terhidu hingga tempat Brian dan Airin berdiri.
Najwa tak tahu jika setelah bertemu di restoran tadi mobil Brian dan Airin tak langsung pergi. Mobil itu menepi sampai saat mobil Najwa mendahului mereka. Mereka mengikutinya dari belakang.
Entah apa yang dipikirkan Brian hingga ia menancapkan gas penuh. Mendahului mobil Najwa. Sang istri yang kalut dalam prahara rumah tangganya terlalu sedih hingga tak menyadari mobil Brian menyalipnya.
Lelaki itu tahu Najwa tak punya tempat berlindung selain rumahnya. Dengan sengaja ia menunggu di depan rumah mereka. Ingin memaki dan segera mengeluarkan kata talak pada sang istri. Namun, lama menunggu Najwa belum datang.
"Kenapa Najwa, belum juga datang? Bagaimana jika kita kembali?!" Brian menoleh pada Airin yang duduk manis di sampingnya?"
"Apa lagi yang ingin kau lakukan?" Airin bertanya balik pada sang kekasih.
"Seharusnya saat di restoran tadi aku ikut turun dan langsung mengucapkan kata talak pada Najwa. Masalah ini tak perlu jadi panjang dan berlarut-larut seperti ini.!"
"Terserah kau saja," kata Airin dengan acuh tak acuh. Kekasih Brian itu menatap jemari tangan yang baru saja di manicure.
"Jika saja kamu adalah Najwa, aku takkan menceraikanmu bahkan berselingkuh dengan wanita lain."
"Benarkah?"
"Tentu," jawab Brian. Satu kecupan langsung mendarat di pipi Brian.
Airin tersenyum sangat manis mendengar pengakuan Brian. Wanita berambut sebahu itu terlihat senang atas gombalan kekasihnya. Mereka saling bertatapan penuh hasrat.
Padahal mereka tak tahu ada dzat yang maha membolak-balikkan rasa setiap manusia. Penguasa hati tiap insan, yang dapat merubah rasa semudah membalikkan telapak tangan.
Mobil Brian kembali menyusuri jalan menuju restoran. Saat mobil sampai di jembatan Brian tahu mobil Najwa akan melewati mereka. Ia sengaja membunyikan klakson dengan panjang, menerangkan nyala lampunya.
Sementara di dalam mobilnya Najwa terkesiap dan kaget. Membanting setir ke arah pembatas jembatan. Kecelakaan mobil yang dialami Najwa adalah kesengajaan Brian.
"Sayang, ayo, cepat kita pergi dari sini?!"
"Te-tetapi, bagaimana dengan, Najwa?"
"Bukankah ini yang kamu inginkan? Kamu muak, jijik, bahkan sudah tak ingin melihat Najwa lagi 'kan?" Airin mendekat ke arah Brian yang terlihat lemas. Menatap ke bangkai mobil Najwa, "Anggap saja Tuhan sedang menolong kita." Airin tersenyum di akhir kata-katanya.
Brian mengalihkan pandangannya dari bangkai mobil Najwa. Menatap sang kekasih dengan kedua alis hampir menyatu. Tak lama kedua mata Brian membesar, terlihat lebih ceria. Sepasang kekasih itu tersenyum satu sama lain. Mereka bergegas meninggalkan tempat kejadian. Melaju ke arah kota dengan kecepatan penuh.
***Aku Bukan Pelakor***
Keesokan harinya Brian sengaja datang ke kantor polisi. Memberi laporan hilang atas istrinya. Pihak kepolisian menerima laporan dan segera memberikan pengumuman ke polisi sektor terdekat lainnya. Berita hilangnya Najwa juga diumumkan di televisi.
"Permisi, selamat pagi. Saya ingin melaporkan berita kehilangan istri saya." Brian memasang wajah sedih dan kehilangan.
"Silakan duduk dulu, Pak. Coba terangkan kronologis kejadian sebelum istri anda menghilang?" Seorang lelaki berbadan tegap dengan seragam berwarna kecokelatan bertanya mengenai perihal laporan Brian.
Setelah membuat laporan Brian segera pulang. Ia tak ingin menyiakan kesempatan. Lelaki tampan itu menyuruh asisten rumah tangganya menancapkan bendera kuning di atas pagar. Berita lelayu kematian istrinya menyebar dengan cepat ke sekitar komplek perumahan mereka.
"Bik Inem, siapkan acara selamatan untuk Najwa."
"Te-tetapi Den, mayat Non Najwa, 'kan belum diketemukan?"
Bik Inem berkata dengan takut-takut dan menunduk. Tak berani membantah perintah sang majikan.
Bola mata Brian berputar, "Taruh foto Najwa yang berukuran besar di tengah ruang tamu. Beri tahu tetangga kita sedang melakukan selamatan melepas kepergian almarhum."
"Ba-baiik, Den." Bik Inem berkata dengan ragu-ragu. Segera menuju kamar tidur Najwa. Melepas satu foto berbingkai kayu terbesar milik Najwa.
Asisten rumah tangga berumur hampir setengah abad itu membawa foto Najwa ke lantai dasar. Menaruhnya di ruang tamu. Mengalungkan karangan bunga di foto Najwa.
Para tetangga dan keluarga dari pihak Brian dan Najwa mulai berdatangan beberapa jam setelah berita kematian Najwa disebar.
Bergantian tamu yang datang mengucapkan bela sungkawa dan memberi semangat menguatkan Brian.
Keluarga Brian yang hadir tampak biasa saja. Tak ada raut sedih apalagi tetesan air mata di wajah mereka.
"Kami turut berduka cita atas kematian Najwa, Bu."
Seorang tetangga berpakaian serba hitam dan selendang panjang dari kain sutra bersalaman dengan Ibu mertua Najwa.
"Terimakasih, mungkin sudah takdirnya."
"Kasihan, Brian masih muda dan tampan harus menjadi duda ditinggal mati istrinya!"
"Iya, Bu."
Setelah berbicara sebentar tamu tadi berpamitan. Saat tamu tadi sudah jauh dari ruang tamu adik Brian yang baru saja lulus sekolah mendekat pada Ibunya.
"Ma, untung aja si sapi gemuk itu cepat ninggal ya, kita gak malu lagi punya anggota keluarga seperti dia."
"Iya, Sayang. Ini kesempatan bagus buat kakakmu. Mama senang ia sudah punya pacar baru yang cantik."
Brian bergabung dan ikut mendekat dengan obrolan mamanya, "Sebentar lagi Brian akan menikahi, Airin, Ma," ucap suami Najwa itu.
Perempuan bertubuh ramping dengan kaki jenjang berbalut high heels di sebelah Brian tersenyum puas, "Tolong restui kami, Ma," kata Airin menimpali ucapan Brian.
"Tentu saja, menantu cantikku."
Brian, Airin juga keluarganya terlihat tertawa bersama-sama. Sesekali mereka malah masih mengungkit kebencian mereka pada Najwa.
Sungguh keluarga yang tak tahu malu. Selama ini Brian juga keluarganya hidup bergantung pada kekayaan Najwa. Baru kemarin mobil Najwa terjatuh ke sungai Brian sudah berencana menikahi Airin.
"Hussstt … ada tamu lagi," desis adik Brian sambil mengedipkan mata pada mama dan kakaknya. Takut orang lain mendengar percakapan mereka.
Brian yang sedang tertawa karena senang segera menurunkan kedua sudut bibirnya. Memasang muka seakan-akan sedih kehilangan istrinya.
"Saya sekeluarga turut berduka, Pak Brian," ucap salah satu bawahan di tempat kerjanya.
Brian bersalaman dan memeluk lelaki itu. Saat menghadap belakang ia tersenyum dan mengedipkan mata ke arah Airin.
***Gendut Alasan Diselingkuhi Suami***