Matahari mulai bersinar di ufuk timur. Sinarnya memancar ke seluruh penjuru bumi. Di pinggir sungai yang sangat lebar, tubuh Najwa tergolek tak berdaya di antara rerumputan.
Tiin!
Bunyi klakson panjang terdengar.
Sebuah mobil hampir menabrak kendaraan roda dua yang tiba-tiba berbelok. Di jalanan beraspal sekitar satu kilometer dari Najwa.
Najwa mulai mengerjapkan mata. Badannya terasa remuk redam. Sekujur tubuhnya mulai terasa perih. Beberapa luka sayatan terlihat di kulit kaki dan tangannya. Perjuangan menyelamatkan diri dari sungai dengan arus deras hingga ke tepi.
Entah benda apa saja yang melukainya ketika di dalam air. Belum terjal bebatuan yang ia pijak ketika malam.
"Arrgh … tolong!" gumam Najwa. Ia mulai terbangun dan kembali meminta tolong.
Nahwa menggeliat. Berusaha menggerakkan badannya. Baju basahnya menempel di tubuh. Kulit jemarinya mengeriput karena kedinginan.
"Tolong, selamatkan aku!"
Entah sudah kali ke berapa Najwa terus bergumam seorang diri. Meminta tolong pada siapa saja di sekitarnya. Kerongkongannya mulai kering, belum meminum seteguk air dari semalam.
Perlahan istri Brian itu mencoba bangun dari tidurnya. Terduduk di sela rerumputan dan menatap kosong ke sekitar, "Di mana aku?"
Pandangan Najwa mengarah ke tengah sungai. Matanya melebar melihat arah jembatan. Perempuan bertubuh gemuk itu teringat bagaimana mobilnya terjatuh ke dalam sungai. Ia hampir tenggelam dan kehabisan napas. Teringat bagaimana ia berusaha selamat dari mobilnya yang tenggelam.
"Mobilku?" Najwa menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Brian …," lirih Najwa memanggil suaminya.
Najwa memandang berkeliling. Menengok ke sekitar sungai. Ia dapat mendengar suara kendaraan dan lalu lintas di sekitarnya.
"Aku harus mencari pertolongan."
Najwa mencoba berdiri. Tanpa alas kaki ia berjalan di rerumputan. Pakaiannya yang basah melekat di badan. Ia berjalan mengikuti jalan setapak. Keluar dari pepohonan dengan wajah menyedihkan.
"Hei, awas kamu! Jangan berdiri di samping jalan."
Seorang pengendara motor melotot dan memaki pada Najwa yang muncul tiba-tiba di sisi jalan.
"To …." Belum sempat Najwa menyelesaikan kata-katanya. Pengendara tadi berlalu dan pergi.
Najwa tak patah semangat. Ia mencoba menghentikan kendaraan lain yang lewat. Namun, penumpang dalam tiap kendaraan memandang aneh pada Najwa. Dengan baju basah, rambut acak-acakan dan tanpa alas kaki. Mereka mengira Najwa orang gila yang sedang usil pada para pengendara.
"Tolong, tolong aku!"
"Tolong!"
Seorang bapak-bapak pengemudi mobil malah melambaikan tangan dan tersenyum. Ia mengira Najwa sedang mengerjainya apa?
'Kenapa? Kenapa tak ada yang menolongku? Apa karena penampilanku yang lusuh?' Batin Najwa.
Istri Brian itu mematung di tepi jalan raya. Tak lagi mencoba menghentikan kendaraan yang lewat.
Ia sadar jika usahanya akan percuma. Karena di dunia ini orang jelek sepertinya akan selalu diacuhkan. Bahkan suaminya sendiri memilih wanita cantik daripada membelanya.
"Apa salahku terlahir tak cantik dan bertubuh gemuk?"
"Apa orang jelek sepertiku tak layak mendapatkan cinta sejati?"
"Tuhan, kau sangat tidak adil padaku," ratap Najwa.
Buliran air mata terus menetes di pipi Najwa. Pundaknya bergetar seiring isakan kesedihan Najwa. Ia berjalan menyusuri tepi jalan raya. Tanpa dompet ia tak memiliki sepeser uang pun. Ponselnya juga ada di dalam mobil, ikut tenggelam.
"Arhhh …." Kaki Najwa tersandung batu. Ia meringis kesakitan. Tanpa alas kaki ia terus melangkah.
Melewati jalan yang lumayan ramai. Najwa menatap penjual es degan yang sedang melayani pembeli. Seketika ia menelan ludah membayangkan kesegaran minuman itu.
"Hust, pergi sana!" hardik sang penjual. Ia mengira Najwa seorang tukang minta-minta atau orang gila yang menginginkan jualannya tanpa mau membayar.
***Aku Bukan Pelakor***
Najwa mengendap-endap dibalik tembok pagar rumahnya sendiri. Ia menengok ke kiri dan kanan, tatapan ketakutan. Tak sengaja ia mendongak menatap atas pagar. Bendera kuning ditancap di sana. Hembusan angin membuat kain tipis berwarna kuning itu melambai-lambai.
"Siapa yang meninggal?" Alis Najwa mengernyit memikirkan tanda kematian di pagar itu.
Tepat saat Najwa sedang mengintip di balik dinding sebuah mobil masuk. Ia mengikuti mobil itu, berjalan agak cepat agar tak terlihat orang. Saat mobil berhenti di garasi. Ia sempat terheran karena tak biasanya ada banyak mobil di sana.
"Ada apa ini?" gumam Najwa. Ia segera mengendap di balik pepohonan taman. Ia akan mendekat ke rumahnya. Mengintip di jendela adalah jalan terbaik yang ia pikirkan.
Ia mendekat ke dinding rumah. Menempelkan wajah pada kaca jendela. Mata Najwa terbelalak lebar. Betapa terkejut Najwa, ada fotonya berkalung bunga.
"Aku belum mati!" geram Najwa. Tangannya mengepal dengan kuat melihat orang-orang menyangka ia telah meninggal."
Najwa melangkah dengan lebar ia akan masuk ke dalam rumahnya. Membantah kematiannya sendiri. Ia kembali mundur, bersembunyi di balik dinding. Ada beberapa tamu yang mendekat pada ibu mertuanya. Jika tak salah ingat itu adalah seorang tetangga Najwa. Ia berpakaian serba hitam dengan selendang panjang dari kain sutra sedang bersalaman dengan Ibu mertua Najwa.
"Kami turut berduka cita atas kematian Najwa, Bu."
"Terimakasih, mungkin sudah takdirnya."
"Kasihan, Brian masih muda dan tampan harus menjadi duda ditinggal mati istrinya!"
"Iya, Bu."
Najwa tak percaya pada apa yang didengarnya. Bagaimana mungkin baru beberapa hari ia tak pulang keluarga Brian menganggapnya mati.
"Ma, untung aja si sapi gemuk itu cepat ninggal ya, kita gak malu lagi punya anggota keluarga seperti dia."
Emosi di d**a Najwa kian mendidih. Mendengar adik iparnya memanggil sapi. Ia selalu ingat bagaimana adik iparnya itu selalu memerintahkan ia melakukan ini dan itu. Bahkan mencuci pakaian dalamnya.
"Iya, Sayang. Ini kesempatan bagus buat kakakmu. Mama senang ia sudah punya pacar baru yang cantik."
Brian bergabung dan ikut mendekat dengan obrolan mamanya, "Sebentar lagi Brian akan menikahi, Airin, Ma," ucap suami Najwa itu.
"Tolong restui kami, Ma," kata Airin menimpali ucapan Brian. Perempuan pelakor itu tersenyum penuh harap pada mertuanya.
"Tentu saja, menantu cantikku."
"Hussstt … ada tamu lagi," desis adik Brian sambil mengedipkan mata pada mama dan kakaknya. Takut orang lain mendengar percakapan mereka.
Brian yang sedang tertawa karena senang segera menurunkan kedua sudut bibirnya. Memasang muka seakan-akan sedih kehilangan istrinya.
"Saya sekeluarga turut berduka, Pak Brian," ucap salah satu bawahan di tempat kerjanya.
Brian bersalaman dan memeluk lelaki itu. Saat menghadap belakang ia tersenyum dan mengedipkan mata ke arah Airin.
Najwa menonton pertunjukkan di depannya tangisan. Hatinya terasa ditusuk dengan pisau tajam. Ia membalikkan tubuh berjalan dengan lemas melihat kenyataan yang ada di hadapannya.
Tak ada sedikitpun rasa sedih, mereka benar-benar orang yang jahat. Keluarga Brian memakai topeng selama ini. Berpura-pura baik hanya di depannya.
Percuma saja Najwa kembali dan menampakkan diri. Pada kenyataanya tak ada yang peduli ataupun mengkhawatirkannya.
"Bagaimana sekarang?"
"Apa yang harus kulakukan?"
"Tak ada orang yang benar-benar perduli dan menyayangiku. Seharusnya aku tenggelam saja di sungai, tak perlu repot-repot menyelamatkan diri karena dunia tak mau lagi melihatku!"
***Gendut Alasan Diselingkuhi Suami***
To Be Continued ....