Tawny Nayyara Anjelita, perempuan dengan kepribadian hangat yang selalu melambangkan kehormatan dan kebahagiaan. Ya di hadapan orang-orang Tawny memang pribadi yang seperti itu, pribadi yang hangat, murah senyum dan selalu memancarkan kebahagiaan. Namun tak ada yang tau bagaimana sakit yang dialami Tawny, ia hanya selalu menampilkan bahagianya, tak ada yang tau sakitnya Tawny. Hanya seorang Riski Arandra yang tau bagaimana sifat Tawny yang sepenuhnya, hanya ia yang tau Tawny yang sering menangis di pelukannya. Riski yang selalu ada untuk Tawny di saat perempuan itu sedih maupun bahagia. Dan begitu juga sebaliknya, Tawny yang selalu ada untuk Riski, Tawny yang selalu mendengar cerita Riski tentang perempuan yang disukai pria itu.
Sebenarnya hubungan Riski sama Tawny itu undecsribeable banget, iya dari zaman embrio udah sama-sama tapi ya gitu, gitu aja terus gak jelas. Ngakunya sama orang-orang ya cuman temen yang udah kayak saudara. Tapi nempel terus kayak surat sama perangko, bahkan lebih-lebih dari yang pacaran.
"Bangun nyet, kebo banget lo." ucap Riski sambil membuka tirai kamar Tawny. Pria itu sudah rapi dan wangi berbanding terbalik dengan Tawny yang masih terkapar di kasur queen sizenya.
"Lo sirik banget sih liat orang tenang, pergi sana!" usir Tawny sambil melempar bantal ke arah Riski.
"Gue bukan sirik g****k, udah jam delapan juga, kalo lo nggak mau kuliah ya nggak papa." Tawny langsung bangun dan melihat jam yang ternyata benar-benar sudah jam delapan.
"NJIRRR KIKI (Kiki Itu panggilan Tawny untuk Riski, hanya ia yang memanggil Riski dengan panggilan tersebut), KENAPA GAK BANGUNIN GUE DARI TADI." Tawny langsung mengambil langkah seribu menuju kamar mandi, Riski hanya menggelengkan kepala melihat perempuan itu.
"Untung sayang," gumam Riski lalu membereskan tempat tidur Tawny, dia bukannya sering membereskan kasur perempuannya itu hanya saja Riski adalah tipe orang yang tak bisa melihat sesuatu berantakan makanya ia langsung membereskannya.
"Udah ya Ki gue duluan bye," ucap Tawny sambil berlari keluar tapi Riski langsung menahannya.
"Apa lagi? Gue buru-buru Ki nanti telat," ucap Tawny dengan wajah panik membayangkan wajah dosen killer yang masuk di jam pertamanya hari ini.
"Sarapan," ucap Riski sambil memberi kotak bekal untuk Tawny membuat perempuan itu tersenyum.
"Thank you," ucap Tawny lalu mengecup pipi Riski.
"Gue duluan byeeee," ucap Tawny lalu berlari.
"Little girl," ucap Riski sambil memandangi Tawny yang berlari semakin jauh, baginya Tawny adalah gadis kecil yang harus selalu ia lindungi.
*****
"Hah hah hah." Tawny duduk di bangkunya dengan napas yang belum tenang.
"Abis ikut lomba lari lo?" tanya Hendra yang duduk di samping Tawny, gadis itu hanya mengangguk lalu meraih minuman Hendra dan menghabiskannya dalam sekali teguk.
"NJIRRRRR, Starbucks gue woy lo lenyapin gitu aja belum juga gue minum." Hendra kesal bukan main ya karena bagi pria itu Starbucks for lyfeu.
"Nanti gue ganti Ndra pelit amat," ucap Tawny walaupun sebenarnya gadis itu tak akan menggantinya, lagian Hendra tak masalah sih hanya saja tadi belum juga dia minum udah lenyap aja Starbucks dia.
"Ny pacar lo nyari lo tu." teriak Adit pada Tawny yang lagi asik ngobrol sama temen - temen ceweknya.
"Pacar ndasmu." ucap Tawny ketika melewati Adit dan pria itu hanya tertawa.
"Kalo gitu gue aja yang jadi pacar lo," goda Adit dan Tawny hanya memilih menulikan telinga dengan omong kosong pria tampan itu, sebenarnya itu bukan omong kosong. Adit sering mengungkapkan perasaannya pada Tawny namun Tawny hanya tertawa menanggapinya karena ia terlalu malas berurusan dengan hal semacam itu. Dan bukan hanya Adit, ada banyak pria yang mengungkapkan perasaannya pada Tawny namun perempuan itu tak pernah menanggapi.
"Ngurus diri sendiri aja belum bisa jadi nggak usah ngurus yang lain-lain." Itu prinsip yang selalu Tawny pegang makanya ia selalu tertawa menanggapi hal tersebut.
"Makalah lo tinggal, itu otak udah tua banget ya sampe gak berfungsi," ucap Riski sambil menyerahkan makalah pada Tawny.
"Eh? Hampir aja, gue lupa banget lo Ki, makasih banyak ya."
"Iya iya, jangan gak makan lo hobi banget masuk rumah sakit."
"Selow dong gak segitunya juga kali."
"Serah lo, gue cabut ya."
"Yo, ati-ati," ucap Tawny, setelah itu Riski pergi.
"Cieeeee enak banget ya punya pacar perhatiannya pake banget," ucap Yuqi, sebenarnya ia tau bagaimana hubungan Tawny dengan Riski hanya saja mengusili Tawny adalah hal yang menyenangkan bagi Yuqi.
"Apaan dah, situ kok yang punya pacar," ucap Tawny yang kini sudah bergabung dengan temannya lagi.
"Ya tapi Lucas gak seperhatiaan itu coy."
"Iya, Bimo aja gak seperhatiaan Riski Ny." timpal Sela.
"Lah? Ngapa malah bilangin ke gue coba? Bilang gitu sama cowok-cowok lu pada lah." ucap Tawny.
"Eh tapi lo sama Riski gimana sih? Heran gue, pacaran aja gak sedekat itu eh kalian malah dekat pake banget," ucap Sela.
"Kita udah dekat dari zaman embrio," jawab Tawny asal.
"LO KIRA KEMBAR BEGO," teriak teman Tawny bersamaan.
*****
Kalo soal menantu idaman Tawny itu istilahnya udah 50% lah jadi menantu idaman, soalnya dia itu rajin banget kalo soal bersih - bersih dan beres - beres. Kenapa cuman 50%? Karena ya cuman itu, dia itu malas banget masak. Buat diri sendiri aja malas banget masak dan berakhir dengan sering masuk rumah sakit gara-gara sakit perut perkara jarang makan. Terlebih lagi dia itu tinggal di apartemen sendiri jadi makannya ya berantakan banget. Makanya setelah 3 kali berturut-turut dalam seminggu masuk rumah sakit akhirnya Riski mutusin tinggal di apartemen Tawny buat ngurus anak itu. Mereka udah kenal sejak kecil dan orang tua mereka juga, mereka udah kayak saudara kembar gitu makanya orang tua mereka gak keberatan bahkan orang tua Tawny bersyukur banget sama keputusan Riski. Kayak sekarang ini, Riski lagi masak, sedangkan Tawny? Cewek itu cuman liatin Riski masak.
"Lo makin ganteng deh Ki kalo lagi masak, beruntung banget nanti istri lo," ucap Tawny sambil mengemil.
"Ada-ada aja lo, nggak jelas tau nggak. Sampe kapan lo mau kayak gini? At least lo coba masak, gue tau lo bisa masak tapi lo malah ngebesarin rasa malas lo itu."
"Entah lah, malas aja."
"Kalo gue gak ada gimana coba?"
"Ya gue juga gak ada." jawab Tawny santai.
"Mulutnya ya." ucap Riski sambil menyumpal mulut Tawny dengan bakwan yang dia buat, untung gak panas.
"KIKIIIIIIIIIIIIII." teriak Tawny tapi Riski tak peduli.