"Sibuk banget ya?" tanya Tawny sambil duduk di samping Riski yang berkutat dengan laptopnya dan meletakkan teh untuk pria itu.
"Kebiasaan deh minum kopi, mana pekat banget lagi itu kopinya," ucap Riski tanpa memandang Tawny, Tawny hanya menyengir bodoh. Kihyun menghentikan aktivitasnya lalu memandang Tawny.
"Lo dah keseringan tau gak minum kopinya," ucap Riski sambil menatap Tawny intens sedangkan gadis itu hanya tersenyum.
"Gak kok."
"Kalo lo ada masalah cerita ke gue, bukan terus - terus nyiksa diri lo secara perlahan gini," ucap Riski, jadi memang ketika stress Tawny akan minum kopi masalahnya dia terlalu sering stress jadi berakhir dengan sering minum kopi padahal tak baik terus minum kopi terlebih lagi pencernaannya tak sebaik dulu lagi.
"Gue gak papa kok," jawab Tawny tersenyum berusaha meyakinkan Riski.
"Bohong lo, gue di sini buat lo tapi lo nanggung semua sendirian. Jadi guna gue apa coba?" Tawny tak menyahut pertanyaan Riski, ia hanya tersenyum lalu bangkit dari duduknya.
"I'm ok," ucap Tawny lalu mengecup bibir Riski sekilas dan langsung meninggalkan pria itu.
Riski menghela napas, ia tak mau memaksa gadis itu bercerita karena ia akan bercerita kalau ia mau. Riski memilih melanjutkan tugasnya walaupun sering kali ia menghela napas karena ia tak bisa fokus. Ia akhirnya mematikan laptopnya dan beranjak ke kamar Tawny yang memang tak pernah dikunci. Riski naik ke kasur dan masuk ke dalam selimut Tawny, ia langsung memeluk gadis itu dan mengelus lembut punggungnya. Dapat ia dengar isakan kecil Tawny.
*****
Tawny terbangun karena mendengat suara yang berasal dari dapur, ia melihat jam yang masih menunjukkan jam setengah enam. Ia berjalan dengan langkah gontai menuju dapur, sampai di dapur ia duduk dan kembali memejamkan mata.
"Pagi banget bangunnya, mau kemana?" tanya Tawny tanpa membuka matanya.
"Iya, gue ada janji hari ini," ucap Riski sambil tetap fokus memasak. Entah kenapa ada rasa cemburu di hati Tawny mendengar kata "janji" yang dilontarkan pria itu. Ia ingin tau lebih dalam tentang janji yang dimaksud Riski tapi gadis itu sadar dia bukan siapa - siapa bagi Riski.
"Cuci muka sana biar sarapan." ucap Riski sambil menata makanan.
"Nanti aja belum lapar."
"Gak ada, gak ada, yang ada lo gak makan. Buruan sana cuci muka atau gue yang nyuci muka lo."
"Hhhhh iya iya, cerewet." ucap Tawny lalu berjalan menuju kamar mandi.
*****
"Itu dah gue siapin buat makan malam lo, mungkin gue bakal lama pulan," ucap Riski yang sedang mengikat tali sepatunya.
"Emang lo kemana sih? Jauh ya?"
"Iya, kenapa? Takut rindu sama gue?" canda Riski.
"Iya rindu banget, at least lo cerita mana tau gue rindu banget bisa langsung nemuin lo," canda Tawny.
"Dah ya gue berangkat, jangan gak makan lo." ucap Riski lalu mengecup bibir Tawny lalu pergi. Tawny memperhatikan jam, masih jam tengah tujuh sedangkan dia ada kelas jam 9, akhirnya ia memilih beres - beres apartemen dulu.
Ia memasuki kamar Riski, bersih rapi dan wangi. 3 kata itu yang selalu terngiang ketika Tawny memasuki kamar pria itu, bahkan kamar Riski lebih rapi dibanding kamar Tawny. Tawny mengambil baju kotor Riski yang tersusun rapi di tempat pakaian kotor dan mencucinya. Gadis itu bersih - bersih mulai dari mencuci, menjemur dan merapikan rumah. Jam delapan Tawny pun bergegas mandi.
[Halo?]
[Ny, lo dimana?]
[Di rumah, kenapa?]
[Lo gak ke kampus?]
[Ke kampus, kenapa?]
[Gue jemput ya gak ada penolakan."]
[Iya iya gue siap - siap dulu ya.]
Pip
Tawny tersenyum setelah mengakhiri teleponnya tersebut. Mark, pria jurusan manajemen bisnis itu akhir - akhir ini sering menghubunginya. Ia pun segera siap-siap dengan tampilan kasualnya.
Ting tong
Tawny segera berlari ke arah pintu setelah mendengar bel tersebut.
"Eh hy, bentar ya," ucap Tawny lalu langsung mengambil tasnya.
Tak lama kemudian Tawny keluar dengan banyak buku di pelukannya.
"Banyak banget bukunya," ucap Mark.
"Hehehhe iya, mau balikin ke perpustakaan."
"Ya udah ayo," ucap Mark dan mereka pun berangkat.
"Nanti lo abis kelas jam berapa?" tanya Mark.
"Cepat sih jam 12, kenapa?"
"Abis itu sibuk gak?"
"Gak, gue kerja sore kok jam enam, mau ditemenin ke suatu tempat?" Mark tersenyum mendengar pertanyaan Tawny.
"Peka banget sih," ucap Mark sambil tersenyum.
"Iya dong," canda Tawny.
"Abis lo kuliah temenin gue cari buku dong."
"Siap bosque."
"Eh btw liat deh bangku belakang," ucap Mark dan Tawny menurut.
"Coklat?"
"Buat lo."
"Uwu uwu, baik banget sih anak manajemen bisnis ini."
"Iya dong," balas Mark
Tak terasa mereka kini sudah tiba di kampus dan dengan cekatan Mark membukakan pintu untuk Tawny.
"Makasih," ucap Tawny.
Ketika mereka berjalan banyak yang melihat mereka terutama para perempuan yang memandang Tawny dengan tatapan tidak suka. Bagaimana tidak, bukan cuman Riski yang populernya gak ketulungan digaet sama Tawny tapi Mark sang President of University aja bisa dekat sama dia. Ya cemburulah para cewek - cewek, apalagi diva - diva kampus yang notabenenya jauh lebih populer dibanding Tawny.
"Gue duluan ya, makasih buat tumpangannya," ucap Tawny begitu tiba di kelasnya.
"Sama - sama, jangan lupa nanti ya," ucap Mark dan Tawny mengangguk tersenyum.
"Bye," ucap Mark tersenyum dan berlalu dari hadapan Tawny.
"Cieeeee, sejak kapan lo dekat sama Mark? Gila lo, semua digaet," ucap Yuqi yang tiba - tiba muncul.
"Eh? Ngagetin tau gak," ucap Tawny tanpa menjawab pertanyaan Yuqi.
"Ih dijawab dong," paksa Yuqi.
"Kepo mbaknya."
"Heh, tapi emang Riski gak marah?"
"Ngapain dia marah coba?"
"Diakan pacar lo."
"Pacar ndasmu."
"Serius ih."
"Kita gak pacaran lo."
"Gak percaya."
"Bodo amat."
*****
Kini Tawny sedang berada di tempat kerjanya. Dia bekerja mulai jam enam sampai jam 10, Riski akan selalu menjemputnya walaupun sebenarnya Tawny selalu menolak tapi Kihyun bersikeras, dia bilang bahaya perempuan jalan sendiri.
Tawny kini sedang bersiap - siap untuk pulang.
"Ny ada yang nyariin tuh," ucap Yuqi yang merupakan teman Tawny yang berkerja di tempat yang sama dengannya.
"Ok thank you," ucap Tawny dan pergi ke luar restoran.
"Eh Mark?"
"Hy."
"Masih kerja?"
"Gak lagi, ini siap - siap mau pulang."
"Aku antar ya?"
"Ha?"
"Aku antar pulang lo Tawny Nayyara Anjelita."
"Eh, gimana ya?" Tawny bingung pasalnya Riski yang selalu menjemputnya tapi berkali - kali dia coba menelpon pria itu tapi tak kunjung diangkat.
"Ayo lah, aku datang ke sini cuman buat jemput Kamu lo."
"Iya deh iya," ucap Tawny karena ia pikir Riski sudah di apartemen dan tak sempat menjemputnya karena kelelahan padahal Riski tak pernah seperti itu.
*****
"Thanks ya," ucap Tawny begitu tiba di apartemennya, lebih tepatnya apartemennya bersama Riski.
"Sama-sama emang gue pengen banget kok bisa ngantar lo, kalo bisa mah tiap hari, tiap lo pengen kemana-mana."
"Hahah bisa aja."
"Serius lo Ny."
"Ahahah iya iya terserah lo."
"Ya udah, gue balik ya."
"Ok hati - hati," ucap Tawny lalu masuk ke area apartemennya, ia sengaja tak mengajak Mark masuk karena ia tak ingin ada yang tau kalau dia tinggal bersama pria, ia terlalu malas menjawab pertanyaan-pertanyaan orang.
Tawny kaget ketika mendapati mobil Riski belum ada di garasi apartemen.
"Loh? Masa belum pulang sih?" monolog Tawny, ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Riski namun ia sangat kaget mendapati banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari pria itu.