Hari ini liburan Tawny sudah habis dan ia akan kembali ke apartemennya. Kalau kalian bertanya Tawny liburan kemana ya ke ladang? Dia kan anak petani jadi kalau libur itu ya ke ladang. Kali ini Tawny memilih pulang naik kereta.
"Aku pulang ya Ma," ucap Tawny lalu mencium tangan sang ibu kemudian memeluk sang ibu dengan sangat erat, tanpa seijin perempuan itu air matanya pun mengalir. Tawny memang tipe orang yang sangat gampang menangis.
"Belajar yang bagus ya, ingat mama sama papa juga adek-adek kamu, jangan rusak kepercayaan mama sama papa."
"Pasti Mama," ucap Tawny sambil tersenyum namun air matanya masih mengalir.
"Eh ngapain nangis sih, kayak anak SMP aja."
"Mama yang kuat ya, ingat kami ya Ma."
"Tenang aja, kamu cukup belajar yang bagus aja udah. Gak usah dipikirin yang lain," ucap sang ibu dan Tawny mengangguk.
"Ya udah pamit sana sama papa Kamu," suruh sang ibu dan Tawny pun menurut.
"Pa, aku pergi ya," pamit Tawny.
"Iya hati-hati," ucap sang ayah.
"See you kakkkkkkkk," ucap kedua adik Tawny dan ia pun membalas lambaian tangan adiknya. Setelah itu ia pun naik ke kereta dan tak lama kemudian kereta pun berangkat.
*****
Selama di perjalanan Tawny memandangi pemandangan pedesaan yang ia lewati, ia sangat suka hal semacam ini karena ini membuat pikirannnya sedikit lebih baik. Dia selalu dilema setiap pulang ke rumah, ia sangat merindukan rumahnya, ia sangat ingin berlama-lama dengan keluarganya tapi ia selalu ribut dengan sang ayah, ia selalu berusaha menahan emosinya namun kadang ia tak bisa mengontrolnya hingga ia pun ribut dengan sang ayah. Kadang ibunya marah pada Tawny yang tak bisa mengontrol emosinya. Tanpa Tawny sadari kini air matanya mengalir deras, untung orang di sampingnya sedang tidur jadi tak ada yang memperhatikannya menangis. Tawny memejamkan mata untuk menenangkan hati dan pikirannnya.
Drrrtttt drrrrrtttt drrtttttt
Tawny langsung menghapus air matanya kala mendapat panggilan dari Riski.
[Halo?]
[Akhirnyaaaaaaaaa, dua minggu ini kemana sih? Rindu banget tau gak.]
[Kan tau sendiri jaringan susah.]
[Tapi gak segitunya juga sih.]
[Iya iya.]
[Lo gak papa kan?]
[Gak papa, lo ada-ada aja deh.]
[Sok banget deh.]
[Trust me.]
[Iya deh iya.]
[By the way lo kayaknya lagi di kereta ya?]
[Iya.]
[Kok naik kereta?]
[Gak papa, pengen aja.]
[Dah lama berangkatnya?]
[Barusan.]
[Sorry ya aku gak bisa jemput di stasiun, aku full hari ini.]
[Gak papa, aku bisa sendiri kok.]
[Sorry ya.]
[Gak papa ih, lebay banget tau gak.]
[Hehehe, iya deh iya dah ya aku mau ada kelas ini.]
[Ok semangat.]
[Makasih, hati-hati.]
Pip
Tawny menyimpan ponselnya lalu kembali memandangi alam sekitar sampai tak terasa akhirnya ia tertidur.
*****
Setelah sepuluh jam perjalanan akhirnya Tawny sampai, ia langsung bergegas menuju apartemennya. Tak butuh waktu lama akhirnya ia tiba di apartemen, Tawny langsung membereskan barang-barangnya lalu mandi.
Kini Tawny sedang beristirahat setelah mandi, jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan sedang hujan deras.
"Kayaknya dia gak pulang deh," monolog Tawny lalu meminum teh.
Ting tong
Tawny langsung bergegas membuka pintu dan kaget karena mendapati Riski yang basah kuyup.
"Eh Ki? Kok basah kuyup?" tanya Tawny kaget tapi Riski tak menjawab namun malah langsung memeluk Tawny.
"Gue rindu banget tau gak," ucap Riski sambil memeluk Tawny erat.
"Ihhhh basah tau gak lo nyeb-"
Chup
Tawny terdiam karena Riski yang langsung mengecup bibirnya.
"Cerewet banget sih," ucap Riski tersenyum sambil menangkup wajah Tawny.
"Nakal banget ih," ucap Tawny lalu mencubit hidung Riski.
"Kok basah kuyup sih? Nanti masuk angin," ucap Tawny lalu membuka baju Riski hingga pria itu topless.
"Gue rindu parah," ucap Riski kembali memeluk Tawny.
"Idih, baru juga dua minggu. Lagian lo ada pacar."
"Beda," jawab Riski singkat.
"Dah ah mandi sana nanti masuk angin," dorong Tawny.
"Siap bos," ucap Riski lalu mengecup bibir Tawny lagi.
Sembari Kihyun mandi Tawny mengganti bajunya karena basah lalu menyiapkan sup dan teh untuk Riski.
Kira-kira lima belas menit Riski keluar dari kamarnya dan langsung memeluk Tawny yang sedang menyiapkan sup.
"Ngagetin aja deh," ucap Tawny sedangkan Riski hanya diam dan mendusel di leher Tawny.
"Rindu parah," ucap Riski singkat lalu menciumi wajah gadis itu.
"Duduk sini," ucap Tawny dan Riski pun menurut.
"Ini sup buatan mama, katanya buat Riski Arandra yang udah kayak anaknya sendiri," ucap Tawny.
"Aku gak mau jadi anak mama."
"Ha?"
"Aku maunya jadi menantu mama."
"Adik gue masih kecil."
"Aku kan sama kamu."
"Hhhhh jangan ngawur, mending makan nanti kamu masuk angin."
"Iya iya," ucap Riski lalu makan.
"Kamu gak makan?"
"Aku masih kenyang," jawab Tawny lalu meminum tehnya.
"Ooooo, by the way gimana liburannya?"
"Ya gimana? Kayak biasa, ke ladang," jawab Tawny singkat.
"Kok kayak gak semangat gitu?" tanya Riski menghentikan acara makannya.
Tawny langsung tersenyum kemudian berdiri di samping Riski dan memeluk pria itu.
"Gue gak papa kok, makan yang banyak ya," ucap Tawny lalu mencium kening Riski.
"Gue gak bakal makan kalo lo gak cerita, cerita sama gue lo pasti ada masalah kan?"
Tawny kembali tersenyum dan bahkan duduk di pangkuan Riski.
"Gue gak papa serius deh, lo makan ya lo pasti capek. Gue suapin ya," ucap Tawny lalu menyuapi Riski. Ia sebenarnya sudah tak enak melakukan ini pada Riski mengingat pria itu sudah ada yang punya namun ia tak ingin Riski tau bagaimana keadaan hatinya sekarang.
Setelah selesai makan Tawny langsung membereskan meja makan.
"Gue ke kamar dulu ya, gue capek. Lo juga pasti capek kan, istirahat ya," ucap Tawny lalu langsung ke kamar, Riski hanya diam tak menjawab dan terus melihat Tawny yang masuk ke kamar.
Begitu tiba di kamar Tawny langsung mengunci pintu dan duduk di balkon kamarnya menatap langit malam yang mendung karena baru saja hujan.
"Hobi banget nyiksa diri sendiri," ucap Riski dari balkon kamarnya membuyarkan lamunan Tawny.
"Gak papa kok," jawab Tawny tersenyum.
"Gak usah bohong," ucap Riski lalu langsung melompat ke balkon Tawny.
"Jangan di simpen sendiri, nanti depresi trus gila. Emang lo mau gila?" canda Riski sehingga Tawny sedikit tersenyum.
"Nah gitu dong kan makin cantik," ucap Riski lalu mencubit pelan pipi Tawny.
"Cerita coba, lo kenapa? Ayah lagi?" tanya Riski dan Tawny mengangguk, Riski sontak memeluk gadis itu dan mengelus lembut rambut Tawny.
"Yang kuat ya, mama aja kuat masa kamu nggak?" tanya Riski yang tak berhenti mengelus rambut Tawny.
"Eum," jawab Tawny singkat, ia menenggelamkan wajahnya di d**a Riski dan memeluk erat pria itu.
"Ki," lirih Tawny.
"Apa sayang?"
"Aku capek Ki gini terus, aku gak sanggup liat mama terus kayak gitu."
"Yang kuat dong, mama aja kuat, Kamu harus kuat dan ingat aku selalu ada buat Kamu."
"Aku takut."
"Takut kenapa heum?"
"Gak selamanya Kamu bakal ada sama aku, ingat Lucya Ki."
Riski terdiam, ia tak tau harus menjawab apa. Ia sangat mencintai Lucya tapi ia juga tak bisa melepas Tawny.
"Tapi makasih udah ada buat gue selama ini," ucap Tawny menatap dalam manik mata Riski.
"No need," ucap Riski tersenyum lalu mengecup kening Tawny.
Tawny kembali menenggelamkan wajahnya di pelukan Riski dan malah menangis.
"Eh kok malah nangis? Ih dasar dedek bayi," ejek Riski tapi Tawny malah terus menangis sehingga Riski membiarkannya dan setia mengelus rambut serta punggung Tawny bergantian.