Tawny kini sedang kerja kelompok di sebuah cafe bersama Yuqi Adit dan Hendra, di saat seriusnya Yuqi tiba-tiba bertanya.
"Eh Ny gue mau nanya sesuatu boleh gak?" tanya Yuqi.
"Lo dah nanya tuh."
"Ih bukan."
"Ya udah tanya aja."
"Tapi jangan tersinggung ya."
"Iya iya lebay."
"Risky punya pacar ya?" tanya Yuqi hati-hati, takut Tawny tersinggung.
"Punya," jawab Tawny singkat.
"HA?" Adit dan Yuqi kaget bersamaan.
"Lebay," cibir Hendra.
"Tau tuh, lebay," timpal Tawny.
"Trus lo gimana?" tanya Adit yang ikutan kepo.
"Lah emang gue kenapa?"
"Lo kan deket sama Riski," timpal Yuqi.
"Kalo deket emang kenapa?"
"Ihhhh Tawny bikin kesel tau gak. Lo tu kan dah deket banget sama Riski dah kayak pacaran eh Riski malah pacaran sama orang lain," ucap Yuqi.
"Kan gue dah bilang, gue sama Riski itu dah kayak saudara."
"Hmmmmm ...." Yuqi seolah tak percaya.
"Kalo gak percaya terserah lo," ucap Tawny.
"By the way pacar dia siapa?" tanya Adit.
"Lucya Adriella, sekelas dia," jawab Tawny dan mereka mengangguk.
"Berarti gue bisa dong dekatin lo Ny," ucap Adit percaya diri.
"Idih, Tawny mana mau sama lo," ejek Hendra.
"Emang sama lo mau?" balas Adit tak mau kalah.
"Berisik banget sih, buruan biar siap," ucap Tawny dan Yuqi bersamaan sehingga dua pria itu diam dan langsung melanjutkan tugasnya.
*****
Tak terasa 30 menit telah berlalu dan tugas mereka telah selesai karena semuanya serius bekerja.
"Akhirnyaaaaaa," ucap Adit.
"Main-main dulu kuy, masa langsung pulang," ucap Yuqi.
"Boleh tuh, lo wajib ikut Hen jangan mageran, lo juga Ny harus, gue yang traktir," ucap Adit.
"SERIUS?" tanya Tawny dan Yuqi heboh, biasalah.
"Serius dong," jawab Adit dengan tampang coolnya.
"Okeeeeeee," jawab Yuqi dan Tawny bersamaan dengan penuh semangat.
"Lo wajib ikut Hen," ucap Adit.
"Iya iya selo."
"Oke kuy," ucap Adit dan mereka pun pergi sekedar keliling-keliling mall. Mencoba berbagai makanan, main di time zone dan banyak lagi.
"Lo berdua makannya enak banget, nafsu makannya nular, nggak kayak cewek yang pernah gue temuin," ucap Hendra, kini mereka sedang makan di sebuah restoran khas Korea.
"Bener banget Hen, biasanya tuh cewek yang gue liat makannya dikit plus jaim banget, mungkin niatnya biar keliatan anggun gitu," timpal Adit.
"Kalo makan sama Lucas lo gini juga nggak Qi?" tanya Adit lagi.
"Ya gini lah, mau gimana lagi? Kita nggak ada jaim-jaimnya, yang ada bengek semua," ucap Yuqi.
"Bengek couple sih memang," ucap Hendra namun Yuqi tak peduli.
"Eh tapi pas PDKT an nggak gini kan?" Kini Hendra yang bertanya.
"Ya gini, kita terbuka dari awal, udah tau baik buruknya dari awal," ucap Yuqi membuat Hendra dan Adit kaget sekaligus kagum.
"Keren sih," ucap Adit.
"Emang lo berdua sukanya cewek yang kalo makan itu anggun, manis ya?" tanya Tawny.
"Nggak kok, aku sukanya Kamu," ucap Adit sambil tersenyum manis pada Tawny.
"Najis lo," ucap Tawny membuat yang lain tertawa, mereka pun asik berbincang hingga t tak terasa sudah sore.
"Eh dah sore, gue mesti balik nih," ucap Tawny.
"Ya udah aku antar ayok," ajak Hendra.
"Ya udah lo ngantar Tawny gue ngantar Yuqi," ucap Adit.
"Eh by the way pacar lo gak ngamuk kan gue ngantar lo?" tanya Adit pada Yuqi.
"Ya nggak lah, Lucas gak segitunya juga kali."
"Bagus deh ya udah kuy berangkat," ucap Adit dan mereka pun pulang.
Selama di perjalanan Tawny dan Hendra sama-sama diam, maklum mereka berdua sama-sama tipe orang yang tak banyak bicara. Namun akhirnya Hendra buka suara.
"Eh Ny, lo diantar kemana?"
"Ha?" Tawny mendekatkan telinganya ke wajah Hendra, maklum mereka naik motor dan suara motor Hendra cukup berisik.
"Lo diantar kemana?" tanya Hendra lagi.
"Ke cafe "MX", gue kerja di sana," jawab Tawny.
"Ok," ucap Hendra dan tiba-tiba menambah kecepatan motornya sehingga Tawny otomatis memeluk pria itu.
*****
"Gila lo, gue hampir mati tau gak," omel Tawny begitu mereka tiba.
"Hahahhw sorry sorry, tenang aja gue gak bakal buat lo mati kok."
"Tapi gue takut goblok."
"Gak papa, buat latihan nanti kalo lo dah jadi pacar gue dah biasa deh naik motor gue."
"Ngawur."
"Gak ngawur kok."
"Hhhhh serah lo deh, makasih banyak ya."
"Sama-sama tuan putri, kalo gitu gue pergi dulu ya."
"Ok hati-hati," ucap Tawny dan Hendra pun pergi. Begitu Hendra pergi Tawny langsung memasuki cafe dan mulai bekerja.
*****
Ketika mulai malam begini cafe tempat Tawny bekerja akan sangat ramai, ia sangat sibuk ke sana kemari membawa pesanan pengunjung. Ketika sibuk ekor mata Tawny tak sengaja melihat Riski dan Lucya, ia pun memastikan apakah penglihatannya salah atau tidak namun penglihatannya tidak salah. Itu memang Riski dan Lucya, entah kenapa rasa sakit itu kembali muncul namun Tawny langsung cepat-cepat kembali bekerja agar lupa hal tersebut.
"Gue gak ngerti maksud lo apa Ki," lirih Tawny.
Tawny kembali sibuk bekerja sampai jam sudah menunjukkan pukul sepuluh yang artinya ia sudah bisa pulang. Begitu selesai beres-beres Tawny langsung keluar dari cafe dan langsung menuju halte bus, biasanya Riski yang menjemputnya tapi kali ini Riski bilang ia tak bisa. Tak lama kemudian sebuah motor hitam besar berhenti di hadapan Tawny, perawakan orang yang membawa motor tersebut berbadan besar dan memakai helm hitam membuat Tawny takut. Namun ia tetap berusaha tenang.
"Butuh ojek mbak?" tanya orang tersebut kemudian membuka helmnya dan tersenyum pada Tawny.
"Astaga Wira, lo nakutin gue tau gak," ucap Tawny tersenyum pada Wira.
"Lo ngapain sih di sini? Bahaya tau gak cewek malam-malam di sini," ucap Wira.
"Gue nunggu bus," jawab Tawny seadanya.
"Bahaya tau gak, lo kan bisa minta tolong sama gue."
"Gak papa kok," jawab Tawny tersenyum.
"Serah lo deh, sekarang ayo naik," ucap Wira dan Tawny pun menurut.
Baru lima menit perjalanan Wira merasa kalau di belakangnya makin berat dan ternyata Tawny tertidur.
"Pasti kecapean deh," ucap Wira dan ia pun memelankan motornya, untung rumah Wira tak jauh lagi.
*****
Begitu tiba di rumahnya, Wira turun dengan hati-hati dari motor kemudian menggendong Tawny ala bridal style ke kamarnya. Tiba di kamar Wira menidurkan Tawny dengan sangat pelan agar tak terbangun. Setelah itu ia langsung keluar kamar dan memilih tidur di ruang tamu.
*****
Sementara Riski yang baru tiba di apartemen langsung kalang kabut karena Tawny belum pulang padahal sudah pukul tengah dua belas malam. Ia berkali-kali menghubungi Tawny namum gadis itu tak mengangkat teleponnya sehingga Riski semakin khawatir. Ia sudah menghubungi teman-teman Tawny namun hasilnya nihil. Ia menghubungi tempat kerja Tawny namun mereka yang bilang Tawny sudah pulang sehingga Riski semakin khawatir.
"Tawny lo dimana sih." Riski terus mondar mandir dan tak bisa tidur.