Tawny terbangun karena sinar matahari yang menerobos kamar tersebut menyilaukan matanya.
"Anjirrr gue dimana?" Tawny langsung sadar dan memeriksa apakah bajunya masih lengkap.
"Syukur masih lengkap," ucap Tawny lalu memandangi seisi kamar tersebut.
"Kamar Wira?" monolog Tawny lagi.
Ia melangkah keluar kamar dan mendapati Wira yang sedang membuat sarapan.
"Pagi," sapa Tawny hingga Wira menoleh.
"Eh lo dah bangun?" tanya Wira sambil tersenyum dan Tawny pun mengangguk.
"Gue bantu ya," ucap Tawny hendak membantu Wira.
"Dengan senang hati," balas Wira dan mereka pun sibuk menyiapkan sarapan. Tawny yang memang tahan tutup mulut dalam waktu lama pun hanya diam hingga akhirnya Wira yang buka suara.
"Ny," panggil Wira sehingga Tawny menoleh.
"Eum?"
"Ngomong kek," kesal Wira karena Tawny hanya diam.
"Hahahhah mau ngomong apa?"
"Ya terserah."
"Lo aja deh yang ngomong, gue dengerin aja," ucap Tawny tertawa renyah.
"Hhhhh serah deh, ya udah ayo sarapan," ajak Wira dan mereka pun sarapan bersama.
"Eh Wira" panggil Tawny di sela - sela sarapannya.
"Eum?"
"Kok gue bisa tidur di kamar lo?"
"Lo semalam ketiduran di motor gue, gue gak tega ngantar ke apart lo soalnya masih jauh lebih dekat rumah gue. Tenang aja gue gak ada ngapa-ngapain lo kok, gue tidur di kamar sebelah kamar gue itu," jelas Wira sehingga Tawny mengangguk.
"Makasih banyak ya," ucap Tawny lengkap dengan senyumnya.
"Sama-sama," balas Wira yang ikut tersenyum.
Setelah sarapan mereka membereskan meja dan dapur lalu Wira pun mengantar Tawny pulang.
*****
"Makasih banyak ya Wir, gue jadi ngerepotin banget," ucap Tawny begitu mereka tiba di apartemen Tawny.
"Sama-sama, santai aja kali," ucap Wira lalu mengacak rambut Tawny.
"Kalo gitu gue balik ya," ucap Wira lagi.
"Sip, hati-hati ya," ucap Tawny dan Wira pun pergi. Begitu Wira pergi Tawny langsung memasuki apartemennya.
"Eh Ki, kok tidur di sofa?" tanya Tawny pelan sambil berjongkok hingga posisi wajahnya sama dengan posisi wajah Riski. Tawny terdiam untuk sepersekian detik, ia memandangi wajah Riski dengan sangat teliti.
"Gak usah gitu ngeliatnya, gue emang ganteng," ucap Riski sehingga Tawny tersentak kaget dan Riski langsung menangkup wajah Tawny serta menatapnya dengan sangat intens.
"Kok gak pulang sih? Trus telepon gue gak diangkat, lo kemana?" tanya Riski.
"Sorry, gue ketiduran di rumah temen."
"Kok gak ngabarin gue."
"Ya namanya gue ketiduran, apa sih."
"Lagian gue gak harus ngasih tau lo semuanya kan? Lo juga gak ngasih tau gue semuanya," ucap Tawny dalam hati.
"Iya iya gak usah langsung marah gitu dong."
"Aku gak marah kok lagi PMS aja," ucap Tawny asal, padahal dia mau PMS atau tidak tak pernah seperti itu.
"Gue ke kamar dulu ya, bangun lo atau kalau mau tidur lagi di kamar aja," ucap Tawny lalu ke kamarnya.
Begitu tiba di kamar Tawny langsung mandi.
Tak butuh waktu lama Tawny sudah selesai mandi, hari ini ia tak ada aktivitas jadi gadis itu memutuskan untuk sekadar bersantai di apartemen. Jarang-jarang ia bisa bersantai-santai. Kini gadis itu sedang tiduran di sofa sambil memakan cemilannya dan menonton.
"Gak ada kegiatan hari ini?" tanya Riski mengalihkan perhatian Tawny.
"Nggak, kenapa? Butuh sesuatu?"
"Gak kok."
"Lah? Aneh, lo mau kemana?"
"Ke kampus, abis itu ke tempat pemotretan."
"Ooooo ok ok semangat ya."
"Sip, by the way aku dah masak tuh jangan gak makan."
"Siap," ucap Tawny tersenyum.
"Ko belum pergi?" tanya Tawny lagi karena Riski tetap berdiri di tempatnya.
"Kayaknya gue kelupaan sesuatu deh."
"Apa?"
"Ini gue lagi ngingat, tapi gak ingat apa," ucap Riski, Tawny pun menghela napas begitu mengerti maksud Riski. Kini ia berdiri di hadapan Riski lalu menangkup wajah pria itu.
"Gak usah sok ngode-ngode, jijik," ucap Tawny lalu langsung mempertemukan dengan lembut bibir mereka. Riski tersenyum lalu memeluk erat pinggang Tawny seolah tak ingin gadis itu pergi. Riski tak melakukan apa-apa, ia membiarkan Tawny menguasai bibir dan mulutnya sampai akhirnya Tawny melepas tautan bibir mereka. Riski lalu menangkup wajah Tawny dan memandang lekat wajah gadis itu dan menciumi seluruh wajahnya.
"Makasih banyak ya," ucap Riski.
"No need," ucap Tawny tersenyum.
Setelah Riski pergi Tawny pun kembali tiduran di sofa.
"Kita ini ngapain sih Ki? Gue serasa jadi pelakor tau nggak," batin Tawny.
Ting tong
Tawny menghela napas karena suara bel tersebut.
"Siapa sih? Ganggu aja," gerutu Tawny tapi ia tetap membukakan pintu.
"Ki aku dat- eh?" Ternyata yang datang itu Lucya dan ia kaget melihat Tawny.
"Eh kenalin, Tawny Nayyara Anjelita, saudara Riski," ucap Tawny kikuk.
"Oooo kamu ya Tawny, Riski sering cerita kok. Kenalin nama aku Lucya Adriella, Kamu bisa panggil aku Lucya, eummmm.... Pacarnya Riski," ucap Lucya lengkap dengan senyumnya.
"Cantik banget, pantes Riski cinta banget," ucap Tawny dalam hati.
"Oh ya Riskinya ada nggak?" tanya Lucya membuyarkan lamunan Tawny.
"Lagi gak ada, barusan aja pergi."
"Oooooo, aku rencananya mau masakin makanan buat Riski boleh gak?"
"Boleh kok, gak usah sungkan-sungkan, anggap aja kayak rumah sendiri. Kalo butuh apa-apa bilang aja ya," ucap Tawny tersenyum.
"Ah iya makasih banyak ya," ucap Lucya lalu ke dapur.
*****
Tak lama kemudian Lucya datang menemui Tawny ke ruang tengah.
"Kenapa Lucya? Ada yang bisa aku bantu?" tanya Tawny.
"Ah nggak Ny, itu udah ada makanan nanti kalo aku masak malah mubazir dong."
"Gak papa ih, Riski pasti senang banget kalo kamu masak buat dia."
"Iya ya? Aku khawatir aja heheheh."
"Gak papa ih."
"Oke deh kalo gitu aku bakal tetap masak deh."
"Iya, kalo kamu butuh apa-apa bilang aja ya."
"Iya, makasih banyak ya Tawny."
"Sama-sama," ucap Tawny tersenyum.
Setelah Lucya ke dapur Tawny hanya berdiam diri di sofa, pikirannya kosong saat ini. Ia jadi tak tau mau melakukan apa, entah apa yang merasuki gadis itu. Akhirnya Tawny ke dapur untuk membasahi tenggorokannya yang basah.
"Kamu pintar masak ya ternyata, dari depan aja kecium wanginya," ucap Tawny sambil mengambil air minum.
"Hehheheh gak ah, biasa aja," balas Lucya.
"Oh ya kamu tinggal di sini?" tanya Lucya hati-hati. Tawny terdiam cukup lama, ia bingung harus menjawabnya apa.
"Eung, iya pas kita tau masuk di universitas yang sama orang tua kita mutusin buat kita tinggal di satu rumah. Lumayan buat ngehemat biaya heheheh," jawab Tawny bohong, ia sebenarnya bukan tipe gadis yang suka berbohong hanya saja ia tak mungkin menceritakan yang sebenarnya. Ia tak ingin hubungan Riski dan Lucya rusak karena dirinya.
"Ooooo, oh ya aku boleh nanya sesuatu gak?" tanya Lucya.
"Kalo aku tau aku pasti jawab," jawab Tawny dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Eummmm, kalo menurut kamu Riski itu gimana sih?"
"Riski itu orang nya baik, baik banget malahan. Perhatian, pintar masak, dewasa, rapi, perfectionis, pengertian, adem tapi ya itu kalo cerewetnya keluar bakal ngomel sampe berjam-jam," jelas Tawny membuat Lucya tersenyum.
"Kamu setuju gak aku sama Riski?" entah apa yang membuat Lucya menanyakan hal semacam itu.
"Kalo gue egois ya gue gak setuju lah, gue dah sama Riski sejak gue dilahirin ke dunia ini. Gue gak pengen kehilangan dia, tapi gue gak bisa apa-apa," lirih Tawny dalam hati, rasanya hati gadis itu perih dengan kenyataan yang ia hadapi.
"Hahhaha, itu mah terserah Riski, kan dia yang jalanin. Aku mah fine-fine aja," ucap Tawny lalu tertawa padahal hatinya menangis.
Lama kelamaan kedua gadis itu asik mengobrol dan bisa akrab dalam waktu yang cukup singkat.