Tawny menunduk malu sedangkan Riski menatap pancake buatan Tawny sambil menahan tawa. Bagaimana tidak, pancake tersebut bahkan tidak pantas disebut pancake karena bentuknya yang tak beraturan. Seharusnya Tawny bisa saja membuang pancake tersebut sehingga dia tak harus semalu sekarang ini jika dia langsung membuang pancake itu tapi Riski datang ketika ia hendak membuang pancake tersebut. Mereka cukup lama diam sampai akhirnya Tawny buka suara.
"Gak usah ketawa, aku tau itu bentuknya aneh banget, aku buang aja," ucap Tawny hendak berdiri tapi Riski langsung menahan tanganya. Ia menatap Tawny cukup lama sampai akhirnya pria itu tertawa keras.
"IH RISKIIIIIIIIIIIIIIII," teriak Tawny tak terima karena Riski menertawainya.
"HAHAHHHAHHA."
"RISKI ARANDRAAAAAA, BERHENTI GAK KETAWANYA! JANGAN NGESELIN!"
"Ahahahah, iya iya maaf maaf nggak lagi deh janji," ucap Riski sambil memegangi perutnya yang sakit karena terus tertawa.
"Nyebelin banget sih, aku tau aku gak bisa masak tapi gak gitu juga, mentang-mentang Kamu pintar masak," ucap Tawny kesal.
"Aduh-aduh jangan marah dong Sayang pleaseeeeeeeeeeeeeeeee."
"Apa sih! Kesel tau gak."
"Aduhhhhh, jangan marah dong yah yah yah," ucap Riski sambil menangkup wajah Tawny dan menatapnya dengan puppy eyesnya, kalo sudah begini pasti ujung ujungnya Tawny luluh. Ia paling lemah dengan tatapan Riski, paling nggak bisa dia.
"Iya iya, aku gak marah cuman kesel aja," ucap Tawny lalu memanyunkan bibirnya.
"Kok manyun-manyun? Minta dicium?"
"RISKI ARANDRAAAAAA." Riski menutup telinganya karena suara Tawny yang begitu melenting. Bisa-bisa anak telinga Riski pecah karena teriakan Tawny.
"Ahahahha maaf maaf, iya deh gak usil lagi. Kok Kamu tiba-tiba masak?"
"Pengen aja."
"Pengen aja atau pengen jadi istri yang baik?"
"Sotoy."
"Jujur aja deh."
"Kannnnn, tadi dah janji gak usil lagi nyebelin banget sih," rengek Tawny bahkan matanya mulai berlinang.
"Eh iya iya, maafin aku, jangan nangis ya," ucap Riski lalu memeluk dan mengelus lembut rambut Tawny.
"Maafin aku ya, aku usilnya berlebihan ya?" tanya Riski sambil menangkup wajah Tawny.
"Dah ah," ucap Tawny masih tampak ketus.
"Jangan marah dong."
"Aku gak marah Ki."
"Ya udah gimana kalo Kamu aku ajarin buat pancake, heum? Sebagai tanda permintaan maaf aku deh."
"Boleh."
"Ya udah ayo."
Dan Riski pun mengajari Tawny mulai dari bahan-bahan sampai mengaduk pancake.
"Sini aku bantu ngaduk," ucap Riski sambil membantu dari belakang Tawny hingga posisi mereka seperti sedang backhug. Ketika serius mengaduk adonan Tawny malah berbalik menghadap Riski lalu mengecup bibir pria itu.
"Heum?" tanya Riski sambil menaik turunkan alisnya dan Tawny hanya tersenyum.
"Pengen aja, abisnya kamu ngegemesin," ucap Tawny lalu mengecup kembali bibir Riski, pria itu malah menahan tengkuk Tawny dengan satu tangan dan satu tangannya lagi memeluk pinggang gadis itu hingga menghilangkan jarak diantara mereka. Riski menikmati bibir Tawny dengan sangat lembut membuat gadis itu mabuk. Lidah Riski mencari akses ke mulut Tawny dan gadis itu dengan senang hati membuka mulutnya sehingga Riski mengakses seluruh isi mulut Tawny dengan leluasa dan sangat detail. Tawny meremas rambut halus Riski untuk menyalurkan sensasi yang ia rasakan.
"Mmmhh ...." Tawny mendorong tubuh Riski sehingga tautan bibir mereka terlepas lalu Riski mengecup sekilas leher gadis itu. Keduanya pun meraup oksigen sebanyak mungkin.
"Makanya jangan mancing," ucap Riski tersenyum miring.
"Terserah aku dong," ucap Tawny ikut tersenyum lalu mencium pipi Riski kemudian memeluk pria itu dengan sangat erat seolah takut pria itu akan hilang.
"Gue gak tau Ki sampe kapan kita bakal terus gini, tapi selama masih bisa mungkin gue bakal manfaatin waktu ini sebaik mungkin, gue tau gue egois tapi gue juga nggak sanggup tanpa lo," lirih Tawny dalam hati, di satu sisi ia merasa bersalah melakukan ini tapi di satu sisi ia juga sangat membutuhkan Riski.
"Lanjut masak yok," ajak Tawny dengan mata yang mulai memerah.
"Loh? Kok mata kamu merah? Kok nangis sih? Ada masalah apa? Cerita ayo, jangan tanggung semuanya sendirian," ucap Riski khawatir dan lembut namun Tawny menggeleng sambil tersenyum, ia kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Riski dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh pria itu yang selalu menjadi candunya.
"Gak papa kok, mungkin karena pesona kamu terlalu kuat," ucap Tawny sambil terus mendusel-dusel di leher Riski membuat pria itu merasa geli, namun ia tersenyum sambil mengelus rambut Tawny dan sesekali menciuminya.
"Ada-ada aja deh, Kamu lucu banget tau nggak," ucap Riski lalu mereka pun kembali memasak serius memasak.
Drrrtt drttt drttt
Drttttt drtttttt drttttt
Drttttt drtttttt drttttt
"HP kamu tuh," ucap Riski karena ponsel Tawny dari tadi terus berbunyi tapi gadis itu tak mengangkat ponselnya.
"Bentar lagi," jawab Tawny yang sedang asik membuat pancake, ia tampak sangat serius sehingga tak ada yang bisa menganggunya.
Drrtttt drttt drtttt
"Mama loh," ucap Riski dan akhirnya Tawny mengangkat ponselnya.
[Halo Ma?]
[Halo.]
[Maaf Pa aku lagi kuliah, nanti aja ya,] ucap Tawny lalu langsung mematikan ponselnya dan wajahnya langsung berubah suram. Suasana hatinya pun langsung berubah, moodnya langsung hancur seketika.
"Kok dimatiin?" tanya Riski heran.
"Gak papa," jawab Tawny dingin membuat Riski menghela napas.
"Kenapa? Masih marah sama papa?"
"Ya gimana Ki, aku males tau gak, capek stress.," ucap Tawny, kini gadis itu terlihat sangat lemah dan rapuh sehingga Riski langsung memeluk dan mengelus lembut rambut Tawny.
"Aku males ngomong sama Papa, yang ada aku nambah dosa trus tambah stres," ucap Tawny yang sudah memeluk Riski dengan sangat erat.
"Sampe kapan bakal gini Ki? Hiks, hiks, hiks, gue juga pengen punya keluarga yang harmonis kayak orang lain, gue iri Ki, iri hiks hiks hiks." Tawny malah terus menangis di pelukan Riski.
"Cup cup cup, udah ya. Semua perlu waktu, semua perlu proses, Kamu harus bertahan, oke?"
"Sejak gue kecil Ki, gini terus capek."
"Kamu punya aku kan? Aku bakal selalu ada buat Kamu kok," ucap Riski sehingga Tawny menatap pria itu dengan sangat intens lalu menggeleng kemudian menangis lagi, kali ini ia bahkan terisak.
"Gak Ki, kamu sendiri yang pernah bilang kalo kamu gak bisa selamanya sama aku. Lagian kamu dah ada yang punya Ki. Aku tau diri kok, aku mesti berjuang sendiri buat ini."
"Hey, jangan ngomongin gitu, aku di sini buat kamu," ucap Riski namun Tawny menggeleng dan tetap menangis.
"Udah dong Sayang jangan nangis lagi," ucap Riski tapi Tawny tak peduli dan terus menangis. Riski pun akhirnya menggendongnya ke kamar agak tak kelelahan terus berdiri. Ia terus memeluk Tawny membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.