Chup
Tawny tersentak kaget karena Riski yang entah datang darimana tiba - tiba mengecup pipinya.
"Ih, ngagetin aja deh," ucap Tawny lalu kembali fokus pada tugasnya.
"Hehehhe sensi banget, serius banget sih ngerjain tugasnya," ucap Riski yang kini sudah tidur di pangkuan Tawny karena gadis itu duduk dengan meluruskan kakinya dan menggunakan meja kecil untuk belajar sehingga Riski bisa dipangkuannya.
"Ya serius lah namanya juga ngerjain tugas. Kayaknya bahagia banget lo."
"Iya bahagia banget, lo tau, kayaknya Lucya ngasih lampu hijau buat gue, gue gak mau tau lo harus bantu gue besok malam buat nembak dia, ok?"
"Iya iya, buat lo apa sih yang nggak?"
"Ulu ulu, Tawny aku memang the best deh. Mau dimasakin apa sayang aku?"
"Sayang ndasmu."
"Apa aja boleh, serah lo deh."
"Ok, bentar ya," ucap Riski lalu bangkit dan mengecup bibir Tawny sekilas kemudian pergi ke dapur.
*****
"Tawny sini, ayo makan," panggil Riski dari dapur.
"Iya," ucap Tawny dan beranjak ke dapur.
"Selamat makan," ucap mereka berdua bersamaan.
"Lo udah yakin kan? Jangan ciut lo besok nembak dia, pokoknya harus jadi," ucap Tawny di sela - sela makan mereka, padahal hatinya meraung-meraung sedih. Tapi Tawny selalu menepis perasaan itu.
"Dari dulu dia udah gitu ngapain gue kayak nggak rela? Aneh-aneh aja," batin Aruna.
"Iya iya, gue gak bakal ciut, iya kali cogan ciut."
"Euwww, kok Lucya mau sih sama cowok modelan kayak lo jijik gue."
"Sok jijik lo."
*****
Seperti kesepakatan hari sebelumnya, malam ini Riski tengah bersiap-siap dan segala persiapan lainnya untuk menembak Lucya telah dibantu oleh Tawny sejak siang.
"Pokoknya harus dapat ya, aku gak mau tau. Sok bilang ganteng tapi jomblo," ucap Tawny sambil merapikan kerah baju Riski.
"Sok ngejek gue lo, lo aja yang jomblo terus," balas Riski tak mau kalah.
"Serah gue dong, lagian gue single bukan jomblo," ucap Tawny lalu menjulurkan lidahnya sehingga Riski langsung menangkup wajah gadis itu.
"Gemesin banget sih heum?" ucap Riski lalu memainkan bibir Tawny dengan agak liar sehingga perempuan itu kaget, untung ia bisa mengimbangi Riski.
"Gila lo, mau buat gue mati lo hah hah hah." Tawny mengomel setelah ia berhasil mendorong paksa Riski.
"Hahahah, makanya jangan gemes-gemes banget."
"Nanti anak orang tau batasan lo, nanti makin kecil juga dia."
"Hahahh iya iya, bawel banget sih."
"Ya udah sana, berangkat lo jangan sampai cewek yang nungguin lo."
"Iya iya byeeee."
Setelah Riski pergi Tawny berbaring di karpet ruang tamu sambil menatap nanar langit-langit ruangan itu.
"Gue yang bodoh atau lo yang jahat atau gimana sih Ki? Gak ngerti gue, sesak tau gak," ucap Tawny, tanpa ia sadari air matanya sudah mengalir.
[Halo?]
[Halo Ma, apa kabar?] ucap Tawny begitu Sang Ibu mengangkat teleponnya.
[Sehat Sayang, kamu sehat kan?]
[Puji Tuhan sehat juga Ma, Mama lagi ngapain?"
[Ini lagi masak.]
[Masak apa?]
[Gulai.]
[Hyaaaa enak banget.]
[Hahahh sabar aja Sayang nanti pas pulang puasin deh.]
[Iya iya ma.]
[Kalo gitu nanti lanjut ya, Mama nanggung nih masaknya.]
[Ok ma.]
[MANA MAKANNYA, LAMA!!!]
[Ya bentar, ini lagi masak.]
[YANG LAMAAN.]
[KAMU JANGAN GITU YA, SALING BANTU LAH, AKU JUGA KERJA. JANGAN NUNTUT MAKAN AJA TAUNYA.]
Tawny menghela napas mendengar keributan yang selalu terjadi hanya karena ayahnya yang mempermasalahkan soal makan. Ibunya tak tau kalau Tawny belum memutuskan sambungan telepon mereka. Gadis itu dengan lemas memutuskan sambungan teleponnya.
Drrttt drrrttt drttt
Baru saja ia memutuskan sambungan telepon kini ada yang meneleponnya.
[Halo?]
[Tawny lo dimana?]
[Di apartemen, kenapa Wir]
[Sibuk gak?]
[Gak sih.]
[Temenin gue makan ya, gue males makan sendirian.]
[Eh? Ada-ada aja deh.]
[Temenin ya, males gue makan sendiri lo mau apa aja gue turuti deh.]
[Hhhh iya iya.]
[YES, gitu dong Princess. Bentar ya gue jemput lo.]
[Ok.]
*****
Tak butuh waktu lama kini Wira dan Tawny pun tiba di sebuah restoran.
"Gilak, lo mau makan malam mesti ke restoran mewah gitu?"
"Hehheh kan makannya sama Princess."
" Hahaha bacot anda saudara," ucap Tawny dan Wira pun tertawa kecil lalu menggandeng Tawny masuk. Saat masuk Tawny tak sengaja melihat sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara, ya siapa lagi kalau bukan Riski dan Lucya. Entah kenapa Tawny merasa sakit melihat kemesraan pasangan itu.
"Heh liatin apa sih?" tanya Wira membuyarkan lamunan Tawny.
"Eh nggak ada kok, ya udah duduk yok," ucap Tawny dan mereka pun duduk.
"Lo mau mesan apa?" tanya Wira sambil melihat - lihat menu.
"Wine."
"Ha?"
"Wine."
"Maksud lo apa sih Ny?"
"Ya gue mau wine aja Wira, gue dah makan tadi."
"Gak gak, ngapain lo tiba-tiba mau minum? Lo pasti ada masalah iya kan?"
"Heeeeee sok tau."
"Gak ada wine, lo makan."
"Gue gak mau, nyebelin banget sih lo gue tinggal juga baru tau rasa lo."
"Eh eh eh seram banget sih."
"Makanya gue mau wine."
"Gak Tawny, nggak."
"Kalo gitu gue balik," ucap Tawny hendak meninggalkan Wira.
"Hah, ok ok, tapi jangan di sini," ucap Wira dan ia pun membawa Tawny ke sebuah tempat.
*****
"Eh? Kok ke rumah lo sih?" tanya Tawny keheranan.
"Selow, gue gak bakalan ngapa-ngapain lo. Gue tinggal sendiri di sini, lo bisa minum sepuas lo di rooftop ayo," ucap Wira dan Tawny pun menurut.
Setelah tiba di rooftop Wira sudah menyediakan satu botol wine dengan kadar alkohol paling rendah dan air putih serta cemilan untuk Tawny.
"Ni diminum, kalo lo mau cerita gue siap dengerin," ucap Wira sambil mengemil snack.
"Makasih banyak ya, sorry lo jadi batal makan."
"Gak papa kok, liat kamu aja aku dah kenyang."
"Halah, keseringan bacot deh."
"Hahahh masa sih," ucap Wira dan Tawny lebih memilih diam daripada menanggapi laki-laki itu. Wira mulai membuka pembicaraan sehingga Tawny malah keasikan dan tak jadi minum wine.
"Syukur deh dia gak jadi minum," monolog Wira dalam hati.
"Eh dah jam 11 nih Wir, nanti terlalu larut gue baliknya."
"Ok deh, ayo gue antar," ucap Wira.
*****
"Ki," panggil Tawny saat memasuki apartemennya namun ia tak mendapati apa - apa.
"Ki? Lo mana? Jangan ngeprank deh Ki," ucap Tawny namun hasilnya sama saja.
[Gue pulang agak larut tapi mungkin gak pulang soalnya di sini hujan.]
Tawny menghela napas membaca pesan Riski, ia bersandar di sofa bertarung dengan segala hal di pikirannya.
"Sumpah gue bener-bener nggak ngerti Ki."