Entah kenapa sejak Riski jadian dengan Lucya laki-laki itu jadi kurang berkomunikaisi dengan Tawny padahal mereka tinggal di satu atap. Dia bahkan tak pernah memasak untuk Tawny lagi, ia lebih sering menghabiskan waktu bersama Lucya, Karena hal itu Tawny kadang malas pulang ke apartemennya. Tapi di satu sisi wajar juga sih, namanya juga Riski sekarang punya pacar, jelaslah dia lebih perhatian pada Lucya. Tawny juga sudah sering menegaskan hal tersebut pada dirinya sendiri tapi tetap aja dia rada gimana gitu, kayak susah nerima kenyataan.
"Qi, gue nginap di kosan lo ya malam ini," ucap Tawny pada Yuqi ketika mereka hendak pulang dari tempat mereka bekerja.
"Napa dah?"
"Lagi malas aja, boleh kan?"
"Iya iya, buat lo apa sih yang nggak?"
"Ulu ulu, makasih Yuqi sayang."
"Ewwww, gue masih normal dan gue juga punya pacar."
"Ihh, mentang-mentang gue jomblo."
"Hahahha udah ayo," ucap Yuqi dan mereka pun pulang.
*****
"Lo ada masalah sama Riski?" tanya Yuqi, kini mereka sudah duduk santai di balkon kamar Yuqi, gadis itu satu-satunya yang tau kalau Tawny satu apartemen dengan Riski karena Tawny selalu cerita pada Yuqi dan begitu juga sebaliknya. Tawny satu-satunya orang yang tau banyak tentang Yuqi.
"Gak ada sih, cuman gak tau deh lagi malas aja. Sejak dia pacaran sama Lucya jadi aneh gitu, udah bukan kayak Riski yang gue kenal. Gue tau sih gue bukan siapa-siapanya dia dan wajar kalo waktu dia lebih banyak buat Lucya yang notabenenya pacar dia. Tapi nggak tau kenapa kayak sesak gitu lo Qi, gue juga nggak ngerti sama diri gue sendiri.
"Coba deh omongin ke dia, by the way dia pernah bawa Lucya ke apartemen kalian?"
"Pernah, tapi kalo aku gak di apartemen. Gue belum pernah ketemu Lucya secara langsung, gue cuman pernah liat foto dia."
"Kira-kira dia tau gak kalo lo sama Riski tinggal berdua?"
"Entah, bodo amat sih. Lagian kita cuman tinggal satu atap kok gak lebih."
Plakkkk
"Arrrghhh apa-apaan sih Qi, main nampol-nampol aja," ringis Tawny karena Yuqi tiba-tiba memukul kepalanya.
"Lo g****k atau gimana sih? Dari cara lo ngomong, dari tatapan lo ke dia, lo itu butuh banget sama Riski. Bukan sekedar butuh, tapi hati lo butuh dia."
"HAHAHAH apa-apaan sih lo, ada-ada aja deh."
"Yang gue bilang ini bener Tawny."
"Hahah udah deh Qi, kita cuman temen."
"Mulut lo bilang gitu tapi hati lo nggak."
"Ya ya ya, kalaupun yang lo bilang itu bener, kalau ya. Gak ada guna Qi, dia ada yang punya. Lagian gak bener sih yang lo bilang, gue ga ada apa-apa sama dia."
"Mata lo cerita semuanya ke gue."
"Hahahha udah deh, ngawur lo. Belum ditelepon Lucas lo ya?"
"Gak usah sok ngalihin omongan deh Tawny yang pintar tapi gobloknya gak ketulungan."
"Iya, iya capek gue tidur aja kuy."
"Hhhhhhhh serah lo deh yang penting gue dah kasih tau lo ya," ucap Yuqi yang memilih mengalah, Tawny sangat batu kalo soal perasannya pada Riski.
"Iya iya good night."
"Good night."
*****
"Ny." Tawny dan Yuqi sama-sama menoleh kala mendengar suara tersebut.
"Eh gue baru ingat mau nemuin Lucas, gue duluan ya," ucap Yuqi begitu mengetahui yang memanggil Tawny itu adalah Riski. Mereka butuh waktu berdua, pikir Yuqi.
"Eh Qi." Tawny hanya pasrah saat Yuqi pergi dan mencoba bersifat biasa saat Riski menemuinya.
"Kok gak balik semalam? Malah gak ngabarin gue lagi, gue khawatir tau gak."
"Bacot lo, sok khawatir," ucap Tawny dalam hati.
"Gue ada kerja kelompok sama Yuqi semalam, banyak banget, gak sempat gue mau megang hp," jawab Tawny asal, ia benar-benar sedang tidak ingin bertemu Riski sekarang.
"Lain kali kabari gue ya, khawatir gue tau gak."
"Bacot lo sok khawatir padahal gak ada ngehubungi gue," batin Tawny lagi.
"Iya iya, gue duluan ya gue ada kelas ni," ucap Tawny.
"Nanti pulang sama gue, gak mau tau."
"Lucya mau lo kemanain bego?"
"Dia gak masuk hari ini."
"Ooooo ya udah gue duluan," ucap Tawny dan langsung meninggalkan Riski.
*****
Seperti yang diucapkan Riski, dia sudah di depan kelas Tawny begitu gadis itu keluar kelas. Raut wajah Tawny jadi cemberut, entah kenapa ia sedang tak ingin melihat Riski saat ini. Rasanya begitu sakit dan sesak jika melihat Riski dan menyadari kenyataan yang sedang terjadi.
"Napa sih lo? Temuin sana," suruh Yuqi dan Tawny dengan terpaksa menurut.
"Gak ada kelas lagi lo?" tanya Tawny begitu bertemu Riski.
"Gak, ya udah ayo balik," ucap Riski langsung menggenggam tangan Tawny.
Ketika di perjalanan pulang Tawny hanya diam membuat Riski heran, tak biasanya Tawny seperti ini jika sedang bersama Riski.
"Lo kenapa? Lapar?" ucap Riski berusaha mencairkan suasana dengan bercanda. Tawny hanya membalasnya dengan senyuman dan gelengan.
Riski pun akhirnya diam dan mempercepat laju mobilnya.
*****
Tak butuh waktu lama kini mereka tiba di apartemen.
"Mau dimasakin apa?" tanya Kihyun.
"Nanti aja deh, gue mau tidur dulu."
"Gak gak, lo belum makan, dari pagi lo pasti belum makan."
"Sok tau lo."
"Gue bukannya sok tau Tawny."
"Dah ah mau tidur gue," ucap Tawny lalu langsung meninggalkan Riski membuat pria itu menghela napas.
Entah kenapa Tawny sedang tak ingin melihat atau bahkan mengingat Riski untuk saat ini, ia pun tak tau kenapa. Ia langsung tengkurap dan memejamkan mata. Tak lama kemudian Riski masuk ke kamarnya, Riski memperbaiki posisi tidur Tawny lalu memeluk gadis itu sembari mengelus lembut rambut panjangnya. Tawny yang belum sepenuhnya tidur mempererat pelukannya pada Riski, mulutnya memang selalu bilang kalau ia biasa saja pada Riski, namun nyatanya saat ini ia sangat merindukan pria dengan senyum indah dan suara merdu itu.
*****
Tawny terbangun sekitar jam dua belas malam karena perutnya yang ribut minta diisi. Wajahnya langsung masam melihat Riski tak lagi disampingnya.
[Gue ada urusan bentar keluar, gue agak larut pulang. Gue udah masak, makan yang banyak ya, lo kurusan parah.]
Tawny tersenyum kecut membaca dari Riski dan tak membalasnya. Nafsu makannya jadi tiba-tiba hilang, rasanya akhir-akhir ini semua masalahnya sedang bertumpuk, mulai dari masalah kuliah, keluarga sampai dengan hal-hal yang tak penting sangat mengganggu pikiran Tawny. Gadis itu sangat hopeless sekarang, ia mengambil dua botol wine dari kulkas dan menghidupkan televisi, ia memandang kosong televisi dan terus meneguk winenya. Tanpa ia sadari air matanya sudah mengalir deras.
Ceklek
Riski memasuki apartemen dan sangat kaget mendapati keadaan Tawny.