"Astaga Tawny lo kenapa?" tanya Riski kaget dan khawatir mendapati keadaan Tawny yang sudah sangat berantakan, mata sembab, rambut kusut dan baju yang sudah basah karena sepertinya ketumpahan wine.
"Lo kenapa?" tanya Riski sambil menangkup wajah Tawny. Gadis itu hanya menggeleng dan tersenyum. Tawny menarik Riski sehingga pria itu terduduk di sofa, Riski bingung tapi ia hanya diam melihat apa yang akan dilakukan Tawny. Tawny langsung duduk di pangkuan Riski dan menangkup wajah pria itu dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
"Akhirnya lo balik, gue rindu tau gak," ucap Tawny sambil tersenyum bodoh, aroma wine sangat menyengat dari tubuh dan nafas gadis itu.
"Akkkk, hahahah sorry." Tawny bersendawa dan tertawa seperti orang yang sudah putus asa. Riski masih bingung dan terus membiarkan Tawny melakukan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
"Uppsss sorry, lo ternyata dah ada yang punya ya. Nanti dia marah lagi, maaf ya hahahaha." Tawny benar-benar seperti orang stress, ia lalu turun dari pangkuan Riski kemudian berjalan sempoyongan ke kamarnya. Riski langsung menggendongnya ala bridal style.
"Eh? Ngapain? Hahahha turunin nanti pacar kamu marah, hahahah." Tawny tampaknya sudah sangat mabuk.
"Lo kenapa sih?" tanya Riski yang kini sudah mendudukkan Tawny di meja belajarnya.
"Lah emang gue kenapa? Hahahah, panas banget sih," ucap Tawny lalu membuka bajunya dan melemparnya kesembarang arah.
"Geser Ki, gue mau mandi gerah banget," ucap Tawny namun Riski malah mendekapnya sehingga menghilangkan jarak di antara mereka.
"Kamu kenapa Tawny? Cerita sama aku," pinta Riski dengan lembut dan mengelus rambut panjang Tawny. Dia bahkan sudah memanggil Tawny dengan panggilan "Kamu".
"Kamu yakin mau tau aku kenapa? Hahahh, gak usah Ki. Mau kamu tau juga gak ada guna, aku bodoh Ki. Aku gak ngerti perasaan aku sendiri sampe-sampe aku kehilangan orang yang aku sayang." Tawny diam lalu mengelus lembut bibir Riski.
"Bibir ini, ini dulu milik aku tapi sekarang udah punya orang karena aku gak bisa jaga dengan baik baik. Aku rindu banget sama bibir ini, sama pemilik bibir ini, semua tentang orang yang dihadapan aku sekarang," ucap Tawny lalu secara babibu melahap bibir Riski dengan kasar, awalnya Riski hanya diam membiarkan Tawny melakukan apa pun yang ia tapi akhirnya dia yang mengendalikan Tawny. Ia menangkup wajah Tawny dan mengajak lidahnya berperang dengan sangat kuat sampai Tawny memukul lengannya karena kehabisan napas. Riski lalu menyatukan kening mereka.
"Maafin aku, aku sampe lupain Kamu padahal aku di sini buat jagain kamu, tapi aku malah buat Kamu terluka," ucap Riski sambil mengelus lembut punggung polos Tawny.
"Kamu gak salah, aku yang salah. Sampe-sampe sekarang Kamu udah jadi milik orang lain. Aku terlalu bodoh buat nyadarin fakta kalo aku cinta sama Kamu, aku butuh Kamu, hati aku butuh Kamu." Riski tersenyum mendengar ucapan Tawny lalu membisikkan sesuatu di telinga Tawny.
"Aku juga cinta banget sama Kamu, aku sayang banget sama Kamu," bisik Riski lalu memainkan daun telinga Tawny, Tawny tersenyum bahagia lalu memeluk Riski dengan sangat erat. Ciuman Riski perlahan turun ke leher Tawny, ia mencium dan bahkan melakuka aksi yang lebih jauh namun tak membuat tanda kepemilikan di sana. Sepertinya laki-laki itu lupa kalau ia punya satu wanita lain yang harus ia jaga hatinya.
Tak puas dengan leher Tawny ciuman Riski makin turun ke tulang selangka sampai ke dua gunung kembar gadis itu. Tangan Riski dengan gesit melepas penutup raga bagian atasnya Tawny sehingga setengah tubuh gadis itu sudah polos. Tawny juga tak mau kalah, tangan sudah sibuk membuka kancing baju sejak tadi. Ia menelusuri tiap inci perut Riski dengan jari lentiknya.
"Eummphhhh nghhhh." Tawny langsung mendorong Riski agar menghentikan aksinya. Riski pun pengertian dan langsung memeluk Tawny dan mengelus lembut rambut panjang gadis itu.
"Maafin aku," ucap Tawny yang masih di dekapan Riski. Pria itu pun menangkup wajah Tawny dan menciuminya.
"Jangan minta maaf, aku yang salah nggak mengerti perasaan Kamu," ucap Riski lalu mengecup bibir Tawny sekilas.
"We're official now," ucap Riski membuat Tawny kaget, dia bukannya tak senang tapi dia juga masih punya hati dan perasaan. Jika dia menerima Riski, bagaimana dengan Lucya?
"Gak Ki, jangan lupa kamu punya Lucya," ucap Tawny membuat Riski terdiam, ia juga sebenarnya masih ragu dan bingung dengan perasaannya pada Lucya, sepertinya ia terlalu cepat memantapkan hatinya pada perempuan itu.
Riski hanya diam, ia malah kembali memeluk Tawny dan menyembunyikan wajahnya di leher gadis itu.
"Mending kita tidur aja," ucap Riski lalu menggendong Tawny ala koala. Mereka pun tidur dengan keadaan half naked.
*****
Sinar matahari yang menerobos ke kamar itu membuat Tawny terpaksa membuka matanya, ia tidak kaget dengan keadaannya yang half naked karena ia masih bisa mengingat apa yang terjadi tadi malam walaupun kini kepalanya terasa sangat berat. Ia bahkan merasa lega sudah mengutarakan perasaannya pada Riski. Ia hendak bangun untuk membasahi tenggorokannya yang sangat kering namun Riski memeluknya dengan sangat erat.
"Mau kemana sih? Masih pagi," ucap Riski sambil menggesek-gesekan wajahnya di d**a Tawny.
"Udah jam 9 bodoh, lagian gue mau minum kepala gue berat banget."
"Siapa suruh sok kuat minum."
"Terserah gue lah."
"Iya terserah kamu Sayang."
"Sayang?"
Hati Tawny terasa di sayat - sayat mendengar itu, Riski memang mengatakan bahwa ia juga punya perasaan yang sama dengan Tawny masalahnya dia sudah punya Lucya. Tawny juga tak sejahat dan seegois itu, dia juga punya perasaan.
"Ya udah lepas dulu Ki, aku mau minum."
"Bentar lagi ih, tau gak cuddling itu bisa ngilangin pusing akibat mabuk lo," goda Riski, walaupun mereka tinggal di satu atap mereka tak pernah melakukan hal yang lebih dari cuddling. Tawny dan Riski sama-sama menjaga, Tawny sangat menjaga mahkotanya dengan baik.
"Bacot lo, awas ah."
"Cium dulu ih," pinta Riski tapi malah ia yang langsung melahap bibir Tawny dengan rakus, tangannya dengan gila memainkan gunung kembar gadis itu. Tawny meremas rambut Riski dan mengeratkan kakinya di pinggang pria itu.
"Eumphh .... Nghh ...." Tawny langsung mendorong Riski, pria itu tak keberatan tapi lidahnya langsung bergerak liar ke perut dan gunung kembar Tawny dan membuat banyak tanda kepemilikan di sana. Riski tak pernah membuat tanda di leher Tawny karena gadis itu akan marah-marah.
"Eunghhhh .... Kihhhhh ...." Riski tersenyum penuh kemenangan mendengar rintihan Tawny karena dia terus menyusu di bukit kembar Tawny dan memainkan yang satu lagi dengan kuat.
"Hah .... Hah .... Hah .... " Tawny terkapar karena baru pagi sudah di cuddle Riski, pria itu menindih dan menciumi wajah Tawny.
"Makasih banyak ya," ucap Riski sambil mengelus rambut Tawny.
"Makasih juga," balas Tawny tersenyum.
"Soal tadi malam, gak peduli aku milik siapa sekarang tapi kamu juga pemilik hati dan diri aku."
"Ki?"
"Mungkin kamu mikir soal Lucya ya? Aku yang bakal mikirin dia yang pasti aku gak bakal nyakitin dia kok, tenang aja," ucap Riski karena Tawny selalu bilang pada pria itu agar tak menyakiti perempuan.
"Makasih buat semuanya Ki."
"Aku yang lebih berterima kasih sama kamu, makasih buat semuanya," ucap Riski, Tawny hanya tersenyum lalu mengecup bibir Riski sekilas.
"Kamu mandi ya, biar aku masak dulu," ucap Riski lagi dan Tawny mengangguk. Pria itu pun menggendong Tawny ke kamar mandi lalu ia ke dapur.