Langit yang cerah, angin yang berhembus pelan, matahari yang tidak begitu terik. Rasanya hari ini sangat berpihak pada dua insan yang sedang dimabuk cinta itu.
"Aku bahagia banget hari ini Ki," ucap Lucya dengan senyum nya yang begitu manis lalu memeluk lengan Riski.
"Aku juga bahagia banget," balas Riski lalu mengacak rambut Lucya.
"Ice cream Ki," tunjuk Lucya pada toko ice cream di depan mereka.
"Ya udah ayo," ucap Riski lalu menggenggam tangan Lucya.
"Thank youuuuuuuu," ucap Lucya setelah menerima ice cream nya.
"Makan masih kayak anak kecil ya, gemes banget ih," ucap Riski lalu membersihkan bibir Lucya dengan jempolnya sehingga gadis itu menunduk malu. Dan mereka pun menghabiskan waktu seharian itu bersenang-senang layaknya pasangan yang sedang di mabuk cinta. Lain halnya dengan Tawny yang seharian ini sibuk dengan tugas-tugas lalu malamnya bekerja. Entah kenapa dari 3 dosennya yang mengajar hari ini semua memberi tugas yang sangat banyak sehingga Tawny langsung mengerjakannya, walaupun tak langsung siap setidaknya sudah ada yang dikerjakan pikirnya. Gadis itu sampai tak ingat makan seharian karena sibuk, ia hanya sarapan nasi goreng yang dibuatkan Riski, pria itu sudah membuatkannya bekal tapi gadis itu lupa untuk makan.
"Mau pesan apa mas?" tanya Tawny pada orang yang tadi memanggilnya.
"Pesan hati mbaknya aja boleh?" Tawny menggeleng dengan kelakuan pria tampan yang satu ini.
"Mas?" panggil Tawny, ia tak bisa melihat wajah pria itu karena ditutupi topi.
"Iya mbak, pesan hati mbak boleh ya," ucap pria itu sambil membuka topinya, ternyata itu Wira.
"Astaga Wira apa-apaan coba, lagian ngapain sih lo di sini?"
"Lah? Terserah gue dong, siapa aja kan boleh makan di sini."
"Iya, tapi dah jam 10 gini."
"Kalo gue lapar."
"Hhhhh terserah lo deh."
"Ciahhh ngambek."
"Hahaha apaan sih ada ada aja lo. Serius nih mau mesen apa."
"Dari tadi kan aku dah bilang."
"Apa?"
"Hati kamu."
Tawny menghela napas dengan jawaban Wira sehingga pria itu terkekeh.
"Gue pesen makan tapi lo temenin gue makan ya."
"Gue mesti kerja Wir, satu jam lagi baru siap."
"Gue bayar waktu lo yang satu jam," ucap Wira lalu bangkit mencari manager restoran itu.
Dan akhirnya memang Tawny menemani Wira makan.
"Kok sampe jam segini sih baru makan lo? Nanti sakit baru tau rasa."
"Dari tadi tuh gue mikir mau makan apa, gak nafsu. Tapi kalo makannya sambil ngeliatin lo nafsu makan gue jadi naik."
"Dih apa-apaan coba."
"Hahahah serius lo."
"Terserah lo deh."
Akhirnya Wira dan Tawny bincang-bincang sampai Wira selesai makan.
"Balik yok, lo gue antar," ucap Wira dan Tawny hanya mengangguk.
"Loh? Lo belum makan?" tanya Wira pada Tawny ketika di mobilnya, karena gadis itu membuka kotak makan.
"Udah, tapi gue lupa kalo gue bawa kotak makan, sayang gak dimakan," ucap Tawny bohong, padahal dia belum ada makan.
"Astaga lo ada-ada aja deh."
"Hehehe, lo mau gak?" tawar Tawny.
"Boleh, tapi suapin ya biar gue sambil nyetir."
"Ok," ucap Tawny lalu makan kemudian menyuapi Wira.
*****
"Makasih ya Wir," ucap Tawny begitu sampai di apartemennya.
"Makasih juga," balas Wira dengan senyum tampannya.
"Gue balik ya," ucap Wira lagi.
"Ok, hati-hati," ucap Tawny dan Wira pun pergi. Setelah Wira pergi Tawny pun memasuki apartemen dan mendapati Riski yang sudah sibuk dengan tugasnya.
"Hey," ucap Tawny lalu mengecup bibir Riski sekilas dan duduk di samping pria itu.
"Duduk sini," ucap Riski sambil menepuk pahanya dan Tawny pun menurut.
"Diantar sama siapa tadi?" tanya Riski sambil mengelus lembut rambut Tawny.
"Sama Wira, kebetulan dia ke tempat kerja aku tadi makan."
"Ooooo, udah makan kan?"
"Udah dong."
"Good girl," ucap Riski lalu menikmati bibir Tawny. Gadis itu cukup kaget dengan aksi Riski tapi ia dapat dengan cepat mengimbangi Riski, lidahnya dengan liar mengabsen semua isi mulut Riski. Tangannya meremas rambut Riski sedangkan Riski mengeratkan pelukan pada pinggang Tawny sehingga badan mereka berdempetan tanpa jarak.
"Eummphhh .... Eungghh." Tawny mendorong Riski sehingga tautan bibir mereka terlepas.
"Aku capek," ucap Tawny lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Riski.
"Mandi dulu, abis itu istirahat," ucap Riski sambil mengelus lembut rambut Tawny.
"Mandi sana, apa perlu aku yang mandiin?" goda Riski sehingga Tawny langsung menatapnya dengan tatapan mematikan.
"Hahahah becanda, mandi sana."
"Gendong ke kamar, badan aku capek," pinta Tawny dan Riski pun menurutinya.
"By the way gimana tadi ngedatenya?" tanya Tawny sembari mereka ke kamarnya.
"Lancar, gemesin banget dianya."
"Ada kiss?"
"Cuman pipi, aku takut dia gak suka buru-buru karena kita kan baru jadian."
"Pokoknya jaga dia baik-baik ya jangan sampe sedih apalagi nangis gara-gara kamu."
"Siap bosque."
"Thank you," ucap Tawny lalu mengecup bibir Riski sekilas.
"Mandi sana, jangan sampe aku yang mandiin," ucap Riski sambil mendudukkan Tawny di kasur.
"Penuh noda banget sih otaknya," ucap Tawny lalu menjentikkan jarinya di dahi Riski sedangkan pria itu hanya terkekeh.
"Aku tinggal dulu ya," ucap Riski lalu keluar kamar Tawny, begitu Riski keluar Tawny pun langsung mandi.
Sekitar 20 menit akhirnya Tawny selesai mandi, namun ia merasa aneh dengan perutnya. Sakitnya kambuh lagi karena telat makan.
"Arghh ...." Tawny meringis dan langsung tiduran, ia meremas perutnya dan berguling ke sana kemari dan terus meringis.
Riski yang sejak tadi mengerjakan tugasnya heran kenapa Tawny tak kunjung keluar kamar. Biasanya gadis itu akan keluar kamar untuk menemani Riski mengerjakan tugas atau bahkan mengerjakan tugas di samping Riski. Karena menunggu terlalu lama Riski pun memutuskan untuk masuk kamar Tawny.
"Tawny lo belum siap man---- Astaga Tawny lo kenapa?" Riski langsung memegang perut Tawny sedangkan gadis itu hanya terus meringis dan bahkan menangis karena sakit.
"Pasti telat makan kan, kebiasaan deh," ucap Riski sambil mengelus dengan pelan perut Tawny.
"Jujur lo gak makan kan? Bekal yang gue buat gak lo makan kan?" tanya Riski lagi.
"Gue makan kok."
"Tapi gak tepat waktu kan? Jujur aja deh."
"Maaf, gue banyak tugas sampe gak ingat makan," ucap Tawny jujur dan menundukkan kepala, Riski menghela napas lalu duduk di tepi ranjang Tawny lalu menangkup wajah gadis itu.
"Berapa kali lagi sih gue bilangin, jangan lupa makan. Gue gak bisa terus ngingatin lo makan, kalo gue gak ada gimana? Gue gak selamanya bisa sama lo kan?"
"Gue gak selamanya bisa sama lo kan?" entah kenapa hati Tawny sakit mendengar kata itu. Memang Riski sudah punya pacar tapi dia yang bilang bakal terus ngejaga Tawny kan? Tapi kenapa dia bilang gitu? Sama aja dia ngegantungin Tawny.
"Iya gue tau gue salah, maaf," ucap Tawny singkat tanpa menatap mata Riski, kali ini dia kesal dengan pria tersebut, kesal dengan perasaannya yang dengan tak tau diri selalu menganggap Riski miliknya padahal pria itu ada yang punya.
"Gak masalah, lain kali jangan gini lagi ya," pinta Riski sambil tangannya yang sudah kembali mengelus lembut perut Tawny agar gadis itu merasa lebih baik.
"Iya iya, sekarang aku mau istirahat aku capek banget," ucap Tawny lalu langsung berbaring membelakangi Riski. Riski ikut tidur dan memeluk Tawny dari belakang.
"Maksud lo apa sih giniin gue? Rasanya percuma pengakuan gue, gue tau lo milik orang lain. Mendingan gak usah giniin gue, sakit tau gak," ucap Tawny dalam hati.