Amanda masih menggenggam tangan Lucas ketika pintu kamar terbuka. Lucia masuk membawa kantong sarapan, diikuti Callista dan Dave. Senyum Amanda melebar begitu melihat gadis yang sejak awal berada dalam rencananya.
Lucas mengikuti arah pandang ibunya. Ia mengetahui jawabannya bahkan sebelum Amanda mengucapkan nama itu. Dadanya terasa berat, tetapi ia telah memberikan janji. Menariknya kembali di depan wajah bahagia sang ibu akan terasa seperti mendorong Amanda kembali ke ranjang rumah sakit.
'Callista,' panggil Amanda.
Callista mendekat dengan senyum cemas. 'Bagaimana keadaan Anda, Nyonya?'
'Jauh lebih baik. Kemarilah.'
Callista meletakkan kantong makanan dan berdiri di sisi ranjang. Amanda meraih tangannya, menyatukannya dengan tangan Lucas yang belum sempat ditarik. Callista membeku. Lucas langsung melepaskan genggaman, tetapi gerakan itu justru membuat wajah Callista memanas.
'Mommy, jangan membuatnya terkejut,' ujar Lucia. Matanya berbinar seolah sudah memahami sesuatu.
'Aku baru saja mendapat kabar yang akan membuatku cepat sehat,' kata Amanda. 'Lucas bersedia menikah.'
Kantong kertas di tangan Dave berdesir. Lucia menutup mulut agar tidak berteriak. Callista menatap Lucas, mencoba membaca apakah perkataan itu benar. Lelaki tersebut hanya berdiri dengan wajah kaku dan cincin Carissa masih melingkar di jarinya.
'Selamat,' ucap Callista lirih. Kata itu melukai tenggorokannya sendiri. Ia bertanya-tanya perempuan mana yang cukup beruntung untuk dipilih Lucas.
Amanda mengusap punggung tangan Callista. 'Mommy memilihmu.'
Ruangan seketika kehilangan suara. Callista menoleh begitu cepat hingga rambutnya menyentuh pipi. Ia menunggu tawa yang menandakan kalimat itu sebuah lelucon. Tidak ada.
'Saya?'
'Ya. Kau perempuan yang kuinginkan menjadi istri Lucas.'
Lucia akhirnya memekik dan memeluk Callista dari samping. Dave tersenyum, meski tatapannya sesekali jatuh pada Lucas yang tidak menunjukkan kebahagiaan. Callista sendiri tidak mampu bergerak.
Mimpi yang pernah dianggap terlalu tinggi tiba-tiba diletakkan di tangannya. Namun cara Lucas menatap jendela, bukan dirinya, membuat mimpi itu terasa seperti sebuah kontrak yang belum dibaca.
'Mom, Callista belum mengatakan bersedia,' ujar Lucas.
Nada datarnya mengembalikan Callista pada kenyataan. Amanda hendak berbicara, tetapi Lucas melanjutkan.
'Dan ia tidak boleh menjawab hanya karena Mommy sedang sakit.'
Amanda terlihat kecewa, namun Dave mengangguk setuju. 'Lucas benar. Ini keputusan besar.'
Lucia melepas pelukannya. 'Tapi Callista menyukai—'
'Lucia,' potong Callista cepat.
Rahasia kekagumannya nyaris terucap di hadapan semua orang. Lucas mengangkat alis, sedangkan Lucia menutup mulut.
Amanda meminta mereka memberi ruang. Dokter juga telah menyuruhnya beristirahat. Lucas keluar lebih dahulu, disusul Dave dan Lucia. Callista hendak ikut, tetapi Amanda menahan tangannya.
'Maaf bila Mommy membuatmu tertekan,' kata Amanda. 'Aku menyukaimu bukan hanya karena kau pernah menolongku. Kau membuat Lucia nyaman, kau tidak mengejar uang Lucas, dan kau berani menjawabnya ketika ia bersikap buruk.'
'Anda belum lama mengenal saya.'
'Karena itu kenali Lucas lebih dahulu. Jangan katakan ya untukku.'
Callista menatap wajah pucat wanita tersebut. 'Apakah Tuan Lucas tahu sejak awal bahwa saya pilihan Anda?'
'Dia menduganya.'
'Dan dia tetap setuju?'
Amanda terdiam sesaat. 'Dia setuju menikahi siapa pun pilihanku.'
Jawaban jujur itu menumpahkan air dingin ke dalam dada Callista. Lucas bukan memilih dirinya. Ia hanya menyerahkan nama calon istri kepada ibunya.
Di koridor, Lucia berbicara dengan semangat kepada Dave. Lucas berdiri agak jauh sambil menelepon Ben. Ketika Callista keluar, Lucas mengakhiri panggilan dan menatapnya.
'Kita perlu bicara.'
'Aku belum menjawab apa pun.'
'Karena itu kita bicara sebelum kau menjawab.'
Mereka menuju ruang tunggu yang kosong. Lucas menutup pintu, tetapi tetap berdiri. Callista memeluk lengannya sendiri, sadar gaun pesta yang belum diganti membuat keadaan terasa semakin tidak nyata.
'Aku akan jujur,' ujar Lucas. 'Aku menyetujui pernikahan ini demi ibuku. Aku tidak mencari istri dan tidak berniat menggantikan Carissa.'
Nama itu kembali menjadi dinding di antara mereka. Callista menahan sakit dan mengangguk.
'Lalu apa yang kau harapkan dariku?'
'Pernikahan yang cukup meyakinkan untuk membuat ibuku tenang. Di luar itu kita menjalani hidup masing-masing.'
'Kau ingin aku menjadi istri untuk dipajang?'
'Kau akan memperoleh semua hak yang tercantum dalam perjanjian. Tempat tinggal, biaya, dan kebebasanmu akan dijamin.'
Callista tertawa hambar. 'Kau bahkan sudah berbicara seperti sedang membeli perusahaan.'
'Aku tidak membeli siapa pun.'
'Tapi kau kira tempat tinggal dan uang cukup menggantikan pernikahan yang sebenarnya.'
Lucas menatapnya dingin. 'Kalau itu tidak cukup, katakan tidak.'
Callista seharusnya pergi. Harga dirinya meminta demikian. Namun bagian dirinya yang telah lama memandang Lucas dari jauh bertanya apakah kedekatan dapat mengubah lelaki itu. Harapan tersebut terasa bodoh, tetapi hidupnya jarang memberinya kesempatan sebesar ini.
'Apakah kau akan tetap bersama perempuan lain setelah menikah?' tanyanya.
Lucas tidak segera menjawab. 'Kehidupan pribadi kita bukan urusan satu sama lain.'
'Itu berarti ya.'
'Aku tidak menjanjikan cinta atau kesetiaan yang tidak pernah kuminta.'
Callista mengepalkan tangan. Adegan yang belum terjadi seolah telah melintas di benaknya: sebuah pintu terbuka, suara perempuan lain, dan dirinya berdiri sebagai istri yang dianggap tidak berhak terluka.
'Kalau aku menerima, aku memiliki syarat,' katanya.
Lucas tampak tidak menduga. 'Katakan.'
'Jangan bohong kepadaku. Jangan mempermalukanku di depan keluargamu atau publik. Aku tetap bekerja dan mengelola uangku sendiri. Dan tidak ada seorang pun menyentuhku tanpa persetujuanku, termasuk kau.'
'Aku setuju.'
'Aku belum selesai. Aku juga tidak mau pernikahan ini menjadi alasanmu memperlakukan aku seperti pelayan.'
Rahang Lucas mengeras, mungkin teringat perkataannya tentang jalur Callista. 'Baik.'
'Aku akan membaca perjanjiannya dengan pengacara pilihanku, bukan orangmu.'
'Ben akan mengatur biaya penasihat independen.'
'Aku yang memilih orangnya.'
'Terserah.'
Callista menghela napas. 'Aku perlu waktu dua hari.'
Lucas membuka pintu. 'Ambil waktu sebanyak yang kau butuhkan. Jika kau menolak, aku akan menjelaskan kepada Mommy bahwa itu keputusanku juga.'
Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan dimulai, Callista melihat sesuatu selain dingin pada wajahnya. Bukan cinta, melainkan kesediaan melindunginya dari rasa bersalah. Hal kecil itu berbahaya karena dapat memberi makan harapannya.
Lucia langsung menghampiri ketika mereka kembali ke koridor. 'Bagaimana?'
'Aku akan berpikir,' jawab Callista.
Wajah Lucia turun, tetapi Dave menggenggam tangannya agar tidak mendesak. Lucas berjalan menuju kamar ibunya tanpa mengatakan apa pun.
Callista menatap punggung lelaki itu. Ia telah bermimpi membuat mata dingin tersebut menatap penuh cinta. Kini pintu menuju mimpi itu terbuka, tetapi di baliknya berdiri bayangan Carissa, perjanjian, dan seorang lelaki yang terang-terangan tidak menjanjikan kesetiaan.
Dua hari bukan waktu yang cukup untuk menilai seluruh hidup. Namun Callista tahu jawabannya tidak dapat lahir hanya dari cinta sepihak. Bila ia masuk ke pernikahan itu, ia harus masuk dengan mata terbuka dan kemampuan keluar.
Untuk pertama kalinya, pertanyaannya bukan apakah ia dapat membuat Lucas mencintainya. Pertanyaannya adalah apakah dirinya dapat tetap mencintai Callista ketika Lucas tidak melakukannya.