Lucas mengalami mimpi buruk pada minggu ketiga puluh lima. Dalam mimpi itu ia berdiri di rumah sakit lama, memegang dua gelang bayi dengan nama berbeda. Setiap kali memilih satu, pintu di belakang yang lain tertutup.
Ia terbangun dengan napas pendek dan berjalan ke kamar bayi. Kursi dari rumah lama berada di sudut, tempat tidur sudah terpasang, dan pakaian kecil tersusun dalam laci. Lucas duduk sampai pagi tanpa menyentuh apa pun.
Callista menemukannya ketika bangun. 'Apakah kau ingin bicara?'
'Aku bermimpi harus memilih anak mana yang boleh hidup.'
Callista menahan dorongan mengatakan itu hanya mimpi. 'Aku bisa duduk, tapi aku tidak tahu cara membawa ini sendirian bersamamu.'
'Aku tahu.'
Lucas menelepon Dr Helen dan meminta sesi tambahan. Ia juga menghubungi kelompok kehilangan kehamilan. Fasilitator mengatakan mendekati kelahiran baru sering membangunkan duka lama. Kegembiraan tidak mengusir trauma hanya karena kehamilan berjalan baik.
Dalam sesi, Lucas mengakui belum pernah melihat seluruh catatan medis Carissa. Bertahun-tahun ia menghindar, lalu arsip ditutup demi privasi. Kini ia ingin membaca untuk mencari tanda bahwa kejadian dapat berulang.
'Apakah catatan itu akan memberi informasi medis tentang kehamilan Callista?' tanya Dr Helen.
'Tidak.'
'Atau memberi ilusi bahwa memahami setiap detail dapat mengendalikan akhir?'
Lucas mengangguk. Ia memilih tidak membuka catatan. Informasi yang relevan harus datang dari dokter Callista dengan persetujuannya, bukan tubuh perempuan yang sudah meninggal dijadikan alat pengawasan.
Callista sendiri merasa bayang-bayang Carissa semakin dekat. Setiap kali Lucas diam setelah bayi menendang, ia bertanya-tanya apakah suaminya melihat dirinya atau masa lalu. Ia membawa ketakutan itu ke Miriam.
'Aku tidak ingin bersaing dengan perempuan mati,' katanya. 'Aku juga tidak ingin menuntut Lucas tidak merindukannya saat anak kami lahir.'
Miriam meminta mereka membuat ruang khusus bagi duka yang tidak masuk ke setiap momen kehamilan. Lucas memilih mengunjungi taman setiap Jumat pagi dan menghadiri kelompok tiap dua minggu. Bila kenangan muncul bersama Callista, ia akan menyebutnya tanpa menjadikan Callista bertanggung jawab menenangkan.
'Kadang saat kau memegang perutku, aku tidak tahu siapa yang kau pikirkan,' kata Callista.
'Aku memikirkan bayi kita. Lalu ketakutan kehilangan Carissa datang.'
'Katakan kalau itu terjadi. Diam membuatku mengisi sendiri.'
Mereka sepakat. Kejujuran tidak berarti Lucas menceritakan setiap gambar trauma; ia cukup mengatakan masa lalu sedang keras dan mengambil dukungan dari tempat yang tepat.
Amanda mengadakan acara kecil untuk calon bayi setelah mendapat izin. Bukan pesta pengungkapan atau hujan hadiah. Tamu diminta membawa buku anak atau menyumbang ke dana cuti pekerja. Callista dapat meninggalkan ruangan kapan saja.
Maribel mengirim buku tanpa hadir. Judulnya tentang seorang anak yang belajar nama pohon. Di halaman depan ia menulis bahwa buku itu untuk bayi, bukan pengampunan kepada keluarga Dixie. Lucas menyimpan kalimat tersebut tanpa menuntut arti lain.
Elias juga mengirim mainan kayu buatan tangan. Pengacaranya memastikan tidak ada kewajiban menampilkan. Lucas mengirim ucapan terima kasih singkat. Kamar bayi mulai berisi benda dari hubungan yang tidak sederhana, tetapi tidak satu pun dijadikan simbol bahwa sejarah telah selesai.
Pada pemeriksaan berikutnya, dokter menemukan bayi berada dalam posisi sungsang. Masih ada waktu berubah. Dokter menjelaskan latihan posisi, tindakan memutar dari luar dengan risiko dan tingkat keberhasilan, serta kemungkinan operasi bila posisi bertahan.
Lucas membeku. Callista bertanya satu demi satu dan memilih menunggu dua minggu sambil mencoba gerakan aman. Ia tidak menjanjikan persalinan normal sebagai ukuran keberhasilan.
'Kalau operasi diperlukan?' tanya Lucas di mobil.
'Aku akan membahasnya dengan dokter.'
'Aku takut.'
'Aku juga. Jangan membuatku harus menenangkanmu sebelum aku boleh takut.'
Lucas meminta maaf. Ia menelepon kelompok dukungan dan berbicara dengan Lucia sebagai calon pendamping cadangan. Lucia meminta dirinya menghafal pilihan Callista, bukan hanya risiko bayi.
Dua minggu kemudian bayi telah berputar dengan kepala di bawah. Kelegaan datang, tetapi dokter mengingatkan posisi serta rencana tetap dapat berubah. Callista menambahkan satu kalimat pada rencana kelahiran: perubahan cara melahirkan bukan kegagalan.
Lucas menempel salinan di dalam tas rumah sakit. Di sampingnya ada kartu untuk dirinya sendiri: dengarkan Callista, tanyakan dokter, jangan mengambil alih, minta bantuan bila trauma muncul.
Mereka juga mewawancarai pendamping kelahiran bernama Nia. Sebelum menerima, Nia menegaskan klien utamanya adalah Callista. Jika Lucas panik, Nia dapat membantunya mengatur napas, tetapi tidak akan meninggalkan Callista untuk mengelola emosi Lucas. Callista menyukai batas itu.
Nia berlatih bersama mereka menghadapi tiga skenario: persalinan berjalan sesuai harapan, tindakan mendadak diperlukan, atau Lucas harus keluar sementara karena trauma. Lucia menyimpan nomor Nia dan bersedia masuk bila dipanggil. Tidak satu skenario menganggap keberadaan suami lebih penting daripada rasa aman orang yang melahirkan.
Lucas sempat tersinggung membayangkan dirinya diminta keluar. Dalam terapi ia menerima bahwa pendamping yang baik bukan pendamping yang bertahan dengan segala harga. Ia berjanji mengatakan bila mulai kehilangan kemampuan mendengar, bukan menyembunyikannya sampai semua orang harus merawat dirinya.
Malam itu mereka menyelesaikan kamar. Callista melipat selimut, Lucas memasang lampu redup. Ia mengeluarkan mobil mainan Lucio dan bertanya apakah boleh menaruhnya di rak tinggi.
'Mengapa di sini?' tanya Callista.
'Bukan agar anak kita memikul nama Lucio. Aku ingin satu benda keluarga yang mengingatkanku cinta dapat diteruskan tanpa tugas memperbaiki kematian.'
Callista menyetujui. Mobil diletakkan tanpa label memorial.
Mereka akhirnya memilih nama depan untuk disimpan sampai lahir: Alina, berarti cahaya bagi mereka bukan karena ramalan, hanya karena bunyinya disukai. Nama keluarga tetap belum diputuskan. Bayi boleh lahir sebelum dokumen selesai.
Lucas duduk di kursi tua dan Callista berdiri di pintu. Kamar itu tidak pernah dimasuki Carissa. Bayi yang hilang tidak pernah tidur di ranjang tersebut. Mengakui dua fakta itu terasa kejam dan membebaskan.
'Aku mencintai mereka,' kata Lucas.
'Aku tahu.'
'Aku mencintaimu dan Alina.'
'Aku tahu itu juga.'
Tidak ada cinta yang diminta pergi agar cinta lain mendapat tempat. Kamar tersebut cukup menampung kursi lama, mainan Lucio, buku dari Maribel, dan ranjang bagi anak baru yang belum berutang penyembuhan kepada siapa pun. Ketika Lucas mematikan lampu, ia tidak menutup masa lalu. Ia hanya membiarkan kamar menunggu penghuninya sendiri.