Pada minggu kedua puluh delapan, kaki Callista membengkak setelah berdiri tiga jam dalam pelatihan. Ia menyelesaikan sesi, lalu hampir jatuh saat turun dari panggung kecil. Rina menangkap lengannya dan memanggil kursi.
'Aku baik-baik saja,' kata Callista terlalu cepat.
'Duduk bukan pengakuan kalah,' jawab Rina.
Tekanan darah Callista normal dan dokter tidak menemukan masalah selain kelelahan. Rekomendasinya jelas: kurangi berdiri lama, gunakan penyangga, istirahat, dan hubungi bila ada gejala tertentu.
Callista merasa marah kepada tubuhnya. Ia telah memperjuangkan penyesuaian bagi pekerja lain, tetapi saat kebutuhan itu menjadi miliknya, ia takut dianggap menerima kemudahan karena menjadi pendiri.
Mateo mengingatkan bahwa kebijakan tidak adil bila hanya boleh dipakai orang tanpa kuasa. Panel memilih Rina sebagai pemimpin kurikulum sementara melalui pemungutan suara. Callista akan beralih ke tinjauan jarak jauh sampai cuti dimulai pada minggu ketiga puluh empat atau lebih awal bila perlu.
'Aku masih bisa mengajar,' kata Callista.
'Bisa bukan berarti harus mengambil semua kelas,' jawab Rina. 'Kalau aku sedang hamil dan hampir jatuh, apa yang akan kau katakan?'
Callista tidak dapat memberi jawaban berbeda tanpa mengakui standar ganda.
Serah terima berlangsung sebulan. Rina mengubah jadwal latihan, memilih fasilitator baru, dan menolak dua saran Callista. Callista merasakan dorongan memperbaiki, lalu bertanya apakah ada risiko keselamatan atau hanya perbedaan gaya. Kebanyakan adalah gaya.
Safe Service mengumumkan pemimpin sementara tanpa menyebut rincian medis. Tidak ada pesta cuti yang membuat Callista harus berdiri dan menerima hadiah bayi. Anggota membuat buku pesan yang berisi harapan untuk Callista, bukan nasihat mengasuh.
Di rumah, perubahan tubuh memengaruhi keintiman. Callista kadang ingin disentuh, kadang tidak tahan kulitnya sendiri. Lucas terlalu hati-hati sampai berhenti memulai apa pun.
'Kau tidak lagi menginginkanku?' tanyanya suatu malam.
'Aku takut membuatmu tidak nyaman atau menyakiti bayi.'
'Dokter sudah menjelaskan apa yang aman. Kau tetap bisa bertanya kepadaku, bukan menghilang.'
Lucas mengakui melihat perutnya memicu rasa takut sekaligus kagum. Callista tidak ingin dipuja seperti benda suci. Mereka kembali pada bahasa sederhana: mau, tidak, pelan, berhenti. Beberapa malam hanya pijat kaki; beberapa malam pintu ditutup dan cerita berhenti di sana.
Tidur menjadi masalah lain. Callista memakai bantal besar dan sering bangun. Lucas menawarkan satu kamar bersama setiap malam, tetapi gerakannya mengganggu. Mereka tetap tidur terpisah sebagian waktu tanpa menafsirkan sebagai jarak emosional.
Pada minggu ketiga puluh, seorang fotografer menunggu di dekat rumah. Keamanan lingkungan menghubungi polisi karena orang itu memasuki taman tetangga. Lucas ingin menaikkan pagar. Tetangga menolak perubahan yang menghalangi cahaya.
Mereka mengadakan pertemuan lingkungan, bukan memaksakan renovasi melalui uang. Kamera jalan umum ditambah dengan persetujuan warga, semak ditanam di sisi rumah Lucas dan Callista, serta jalur pengaduan dibuat bagi semua penghuni. Fotografer mendapat peringatan pelanggaran.
'Aku rindu rumah besar hanya untuk dindingnya,' kata Lucas.
'Aku tidak rindu hidup di balik dinding itu.'
Mereka mempertahankan rumah kecil.
Callista dan Lucas juga mengikuti kelas perawatan bayi. Mereka belajar mengganti popok pada boneka, memasang kursi mobil, mengenali tanda demam, dan menenangkan tangisan. Lucas membaca petunjuk kursi mobil tiga kali lalu memasangnya salah arah. Instruktur meminta ia mengulang tanpa membiarkan staf keamanan mengambil alih.
Amanda ingin mengikuti semua kelas. Callista mengundangnya hanya pada sesi kakek-nenek yang membahas standar tidur baru dan batas orang tua. Amanda terkejut bahwa beberapa kebiasaan masa Lucas bayi kini tidak direkomendasikan.
'Kalian selamat,' katanya.
'Selamat bukan bukti risikonya baik,' jawab instruktur.
Amanda mencatat. Ia juga belajar mencuci tangan sebelum menyentuh bayi, tidak mencium wajah, dan mengembalikan bayi ketika diminta tanpa mengatakan hanya satu menit lagi.
Lucia menjadi orang yang paling tenang. Ia membantu menyiapkan tas rumah sakit tanpa membicarakan perceraiannya. Ketika Callista bertanya apakah keterlibatan itu menyakitkan, Lucia menjawab sebagian.
'Aku tidak ingin anakku sendiri. Aku masih boleh mencintai keponakanku.'
'Kau boleh berhenti kapan pun.'
'Aku tahu. Itu yang membuatku bisa tetap.'
Mereka memilih dua nama depan tetapi belum menentukan. Untuk nama keluarga, Lucas mengusulkan Aurora sebagai nama terakhir dan Dixie sebagai nama tengah. Ia mengatakan garis keluarga tidak perlu selalu mengikuti ayah.
Callista bertanya apakah ia mengusulkan karena rasa bersalah atas Victor. Lucas menjawab mungkin sebagian, sehingga mereka menunda. Nama harus menjadi hadiah bagi anak, bukan hukuman bagi leluhur.
Pada minggu ketiga puluh dua, pemeriksaan menunjukkan bayi tumbuh sesuai kurva. Callista mengalami nyeri panggul dan mulai memakai sabuk penyangga. Ia membatalkan perjalanan terakhir tanpa meminta maaf kepada peserta, hanya memastikan pengganti dibayar.
Hari cuti resminya tiba. Callista menyerahkan akses proyek kepada Rina dan menonaktifkan notifikasi kerja. Ia boleh dihubungi hanya untuk keadaan yang tidak dapat diputuskan struktur, daftar yang sengaja dibuat sangat pendek.
Pagi pertama tanpa pekerjaan, Callista bangun pukul enam dan membuka surel dari kebiasaan. Akunnya telah membatasi akses sesuai permintaannya sendiri. Ia kesal, lalu tertawa karena sistem berhasil menghentikan pendiri.
Lucas mengajaknya berjalan pelan ke taman. Mereka berhenti beberapa kali. Callista tidak memaksa mencapai jarak tertentu. Di bangku, seorang perempuan bertanya kapan bayi lahir, lalu menyentuh perut tanpa izin. Callista mundur dan mengatakan jangan menyentuh tubuh orang asing. Perempuan itu tampak tersinggung, tetapi Callista tidak menghiburnya.
Tubuh hamil sering diperlakukan sebagai ruang publik: dinilai, disentuh, dipuji, dan diperintah. Callista menolak membuktikan dirinya pekerja kuat dengan berdiri sampai jatuh. Ia juga menolak membuktikan dirinya ibu baik dengan menerima setiap pengorbanan.
Malam itu bayi bergerak keras. Callista mengundang Lucas merasakan. Mereka duduk di sofa dalam rumah yang cukup kecil untuk mendengar kereta dan cukup aman untuk berkata tidak.
'Aku hampir takut berhenti bekerja karena tidak tahu siapa aku tanpa tugas,' kata Callista.
'Aku mengenal perasaan itu.'
'Jangan terlihat terlalu puas karena punya pelajaran relevan.'
Lucas tersenyum. 'Aku hanya mendengarkan.'
Callista menyandarkan kepala di bahunya. Cuti bukan akhir dari perannya dan kehamilan bukan ujian ketahanan. Untuk beberapa minggu, pekerjaannya adalah hidup di dalam tubuh yang sedang bekerja tanpa perlu membuktikan apa pun kepada perusahaan, publik, atau orang-orang yang menunggu kelahiran.