Ruang operasi lebih terang daripada yang dibayangkan Callista. Suara alat, langkah cepat, dan kata-kata medis bercampur di balik tirai. Dokter anestesi duduk dekat kepalanya dan menjelaskan bahwa obat masih bekerja. Ia akan menambah bila Callista merasakan nyeri tajam.
Lucas duduk di sisi yang ditunjuk. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak bertanya apakah bayi akan selamat setiap beberapa detik. Ia mengulang informasi dari dokter kepada Callista hanya ketika diminta.
'Detaknya membaik sedikit, tapi mereka tetap perlu cepat,' katanya.
'Tetap lihat aku,' jawab Callista.
Lucas melihat wajahnya, bukan layar. Bau rumah sakit dan bunyi logam menariknya menuju kenangan Carissa, tetapi kartu di sakunya terasa di bawah pakaian operasi. Dengarkan Callista. Jangan mengambil alih.
Dokter mengatakan sayatan dimulai. Callista merasakan tekanan, bukan nyeri, lalu tarikan yang membuat tubuhnya bergerak. Ia mengatakan mual. Dokter anestesi memberi obat setelah menjelaskan.
Beberapa menit kemudian ruangan menjadi lebih ramai. Dokter berkata bayi akan lahir. Tekanan besar, keheningan pendek, kemudian suara tangis tipis terdengar.
Lucas menutup mata satu detik. Tangis itu membesar.
'Bayi perempuan lahir,' kata dokter. 'Kami membawanya ke meja hangat untuk pemeriksaan.'
Callista mencoba melihat tetapi tirai menghalangi. 'Apakah dia bernapas?'
'Ya. Tim sedang membantu membersihkan jalan napas dan memeriksa.'
Lucas tidak meninggalkan Callista tanpa bertanya. Ketika perawat menawarkan ia mendekati bayi, ia bertanya apa yang Callista inginkan.
'Lihat dia. Kembali dan ceritakan.'
Lucas berjalan beberapa langkah. Bayi itu kecil, kulitnya kemerahan, kaki menendang saat perawat memasang sensor. Ia tidak tampak seperti pewaris atau jawaban duka. Ia tampak marah karena dunia terlalu terang.
'Dia bernapas sendiri,' kata perawat. 'Nilainya membaik. Ayah boleh menyentuh tangan setelah membersihkan.'
Lucas meminta izin kepada Callista melalui pandangan. Callista mengangguk. Ia menyentuh satu jari bayi. Tangan kecil itu menutup refleks, dan Lucas menangis.
Ia kembali ke Callista. 'Dia menendang. Rambutnya gelap. Tangannya sangat kecil dan dia menggenggam jariku.'
'Bawa dia kalau boleh.'
Perawat menempatkan bayi dekat dada Callista setelah memastikan kondisi stabil. Karena posisi operasi, Lucas membantu menahan dengan arahan staf. Callista memandang wajah yang telah dibayangkan tanpa pernah benar-benar dapat membentuknya.
'Halo, Kecil,' katanya.
Bayi mengeluarkan suara pendek. Callista menyentuh punggungnya. Ia tidak merasakan cinta sempurna yang langsung menghapus nyeri. Ia merasa kagum, takut, lelah, dan bertanggung jawab.
Dokter kemudian mengatakan perdarahan Callista lebih banyak dari perkiraan karena rahim lambat berkontraksi. Mereka memberi obat dan melakukan tindakan tambahan. Bayi dipindahkan kembali agar tim dapat bekerja.
Lucas melihat wadah serta gerakan staf dan rasa paniknya naik. Dokter anestesi berkata tekanan Callista menurun tetapi masih dapat ditangani. Callista menggigil.
'Jangan pergi ke masa lalu,' katanya dengan gigi bergetar.
'Aku di sini.'
'Kalau bayinya perlu seseorang, Lucia.'
Lucas menyampaikan kepada perawat. Lucia dipanggil untuk mendampingi bayi bila harus keluar dari ruang. Lucas tetap bersama Callista. Pilihan itu bukan berarti bayi kurang penting; Callista juga pasien yang tidak boleh ditinggalkan saat bahaya.
Obat mulai bekerja. Dokter mengatakan perdarahan terkendali tanpa operasi tambahan. Callista memerlukan pemantauan dan pemeriksaan darah. Lucas meminta penjelasan sekali, lalu tidak menuntut kepastian yang belum ada.
Di ruang pemulihan, bayi dikembalikan. Lucia berdiri di pintu dan menunggu izin sebelum masuk. Ia tidak menggendong lebih dahulu hanya karena sempat menjadi pendamping cadangan.
Callista mencoba menyusui dengan bantuan perawat. Bayi sulit melekat dan Callista merasa frustrasi. Konsultan laktasi mengatakan mereka dapat mencoba lagi, memerah, atau memberi susu tambahan bila perlu. Tidak ada satu metode yang menentukan apakah Callista ibu baik.
'Aku ingin istirahat sepuluh menit,' kata Callista.
Lucas menggendong bayi setelah bertanya. Perawat memeriksa posisinya. Callista menutup mata tanpa harus mengawasi setiap gerakan.
Amanda menerima pesan dari Lucia bahwa bayi lahir dan keduanya stabil tetapi membutuhkan istirahat. Ia menangis di apartemennya bersama tetangga, lalu menunggu. Tidak ada foto dikirim sampai Callista memilih.
Beberapa jam kemudian hasil darah menunjukkan Callista anemia tetapi tidak memerlukan transfusi saat itu. Ia harus tinggal lebih lama dan dipantau. Bayi juga menjalani pemeriksaan rutin dan dinyatakan sehat.
Petugas administrasi datang menanyakan nama. Lucas melihat Callista. Mereka sudah memilih Alina, tetapi nama keluarga belum final.
'Alina,' kata Callista. 'Alina Aurora-Dixie.'
Lucas tersenyum. 'Aku setuju.'
Mereka memilih gabungan nama bukan untuk menunjukkan dua keluarga sama-sama sempurna. Aurora membawa hidup Callista sebelum Lucas. Dixie membawa sejarah yang tidak disembunyikan dan tidak boleh mengatur masa depan. Ketika Alina dewasa, ia boleh memakai bagian yang dipilihnya.
Nama Carissa, Lucio, Victor, atau Amanda tidak menjadi nama tengah. Alina tidak dilahirkan sebagai memorial. Mereka memberinya satu nama depan yang hanya miliknya.
Keesokan pagi, Amanda serta Lucia diizinkan berkunjung bergantian. Amanda mencuci tangan, bertanya sebelum menggendong, dan mengembalikan Alina saat Callista meminta. Ia tidak menyebut pewaris.
'Selamat datang, Alina,' katanya. 'Nenek akan belajar aturanmu.'
Callista tertawa lemah. 'Mulai dari aturan orang tuanya dulu.'
Lucas duduk di kursi samping ranjang. Ia belum tidur lebih dari satu jam, tetapi menerima ketika perawat menyuruhnya pulang mandi sementara Lucia tinggal. Ia tidak membuktikan cinta dengan menjadi tidak berguna karena kelelahan.
Sebelum pergi, ia mencium Callista setelah meminta. 'Terima kasih,' katanya, lalu menyadari kalimat itu terdengar seperti Callista memberikan bayi kepadanya.
'Bukan hadiah untukmu,' jawab Callista.
'Aku tahu. Terima kasih sudah tetap memberitahuku apa yang kau butuhkan.'
'Itu lebih baik.'
Lucas menyentuh kaki Alina. Napas kecil naik turun dengan ritme sendiri. Bertahun-tahun lalu, ia keluar dari rumah sakit membawa kehilangan yang membuatnya mengunci seluruh hidup. Kali ini ia keluar sementara untuk mandi dan kembali, bukan karena akhir telah dijamin, tetapi karena orang-orang yang dicintainya hidup dan tidak membutuhkan ia menguasai setiap detik.
Napas pertama Alina tidak menyembuhkan masa lalu. Ia membuka masa depan yang baru, rapuh, melelahkan, dan belum ditulis. Callista menutup mata sementara bayi tidur di tempat aman di sampingnya. Untuk beberapa menit, tidak ada yang diminta dari tubuhnya selain bernapas juga.