Callista pulang pada hari keempat dengan obat nyeri, suplemen zat besi, petunjuk luka, dan bayi yang tampaknya tidur sepanjang perjalanan lalu menangis begitu pintu rumah ditutup.
Lucas memasang Alina di tempat tidur bayi sesuai instruksi. Lima menit kemudian ia bangun lagi. Callista mencoba menyusui, tetapi pelekatan masih sulit dan luka operasinya sakit ketika duduk.
Konsultan laktasi datang sesuai jadwal dan membantu posisi. Produksi susu belum banyak setelah perdarahan. Mereka memberi susu tambahan berdasarkan penilaian dokter anak sambil tetap mencoba bila Callista mau.
Callista menangis ketika botol pertama diberikan. 'Tubuhku sudah gagal melahirkan sesuai rencana. Sekarang ini juga.'
'Operasi bukan kegagalan,' kata Lucas.
'Aku tahu secara teori. Jangan koreksi perasaanku terlalu cepat.'
Lucas berhenti. 'Kau merasa tubuhmu gagal.'
'Ya.'
Konsultan menjelaskan makanan bayi bukan ujian karakter. Callista dapat menyusui, memerah, memberi formula, atau menggabungkan. Rencana harus menjaga pertumbuhan Alina serta kesehatan Callista.
Mereka memilih kombinasi. Lucas mengambil giliran botol malam, membersihkan alat, dan mencatat jumlah sesuai kebutuhan medis, bukan membandingkan hasil tubuh Callista. Ketika produksi meningkat, Callista tetap memakai formula sebagian karena pembagian malam membuatnya dapat tidur.
Pendamping pascapersalinan, Noreen, bekerja empat jam pada sore hari. Kontraknya tidak mencakup pekerjaan rumah seluruh keluarga. Ketika Lucas meminta ia juga mencuci pakaian dewasa, Noreen menunjukkan batas tugas.
'Saya salah menganggap bantuan bayi berarti semua pekerjaan,' kata Lucas. Ia meminta maaf dan mempekerjakan jasa terpisah dengan jam jelas.
Amanda datang pada hari keenam membawa makanan, bukan hadiah. Ia mengikuti batas satu jam. Ketika Alina menangis di pelukannya, Amanda langsung mengembalikan kepada Lucas, bukan Callista yang sedang berbaring.
'Ayahnya punya tangan,' katanya, bangga telah belajar.
Lucia datang lebih sering tetapi tidak tinggal tanpa diminta. Ia mengganti popok, membawa Callista mandi, dan kadang duduk dalam diam. Kesedihan perceraiannya masih ada, tetapi Alina tidak dijadikan anak pengganti.
Audi dan Sean mengunjungi setelah dua minggu. Mereka sedang memutuskan untuk tetap tinggal di Boston satu tahun lagi. Audi mencuci piring tanpa mengambil alih bayi. Sean memasak dan tidak memberikan nasihat tentang tidur.
Malam menjadi bagian tersulit. Alina bangun setiap dua atau tiga jam. Lucas serta Callista membagi giliran, tetapi pembagian tertulis runtuh saat Callista harus menyusui dan Lucas tertidur begitu dalam. Pada malam kesepuluh, Callista melempar bantal ke arahnya.
'Bangun. Aku sudah tiga kali.'
Lucas bangun panik. 'Mengapa tidak memanggilku?'
'Aku memanggil.'
Pagi hari mereka tidak menyelesaikan konflik dengan mengatakan keduanya lelah. Lucas membeli monitor getar yang membangunkannya, dan mereka mengubah giliran. Jika Callista menyusui, Lucas mengambil Alina, mengganti popok, serta menidurkan kembali. Pekerjaan tidak dihitung hanya dari siapa memberi makan.
Pada minggu ketiga, Callista mulai memeriksa napas Alina berulang kali. Ia bangun meski bukan gilirannya, menyentuh dada bayi, dan takut tidur akan membuat sesuatu terjadi. Ketika Lucas menyuruhnya beristirahat, Callista marah.
'Kalau aku tidur dan dia berhenti bernapas?'
Dokter anak memastikan Alina sehat dan tempat tidurnya mengikuti standar. Dokter kandungan melakukan skrining kesehatan mental. Hasil menunjukkan kecemasan pascapersalinan yang perlu diperhatikan, bukan bukti Callista tidak mampu menjadi ibu.
Callista mulai terapi dengan spesialis perinatal. Lucas tidak mengambil alih semua perawatan sebagai reaksi. Mereka membuat rencana: pemeriksaan napas satu kali setelah bayi diletakkan, monitor hanya untuk suara sesuai rekomendasi, dan Lucas mengambil giliran penuh sementara Callista tidur di kamar lain beberapa jam.
Malam pertama, Callista hampir keluar lima kali. Ia mengirim pesan kepada terapis, menggunakan latihan, dan menunggu sampai waktu yang disepakati. Alina tetap bernapas ketika ia kembali. Kecemasan tidak hilang, tetapi Callista belajar perasaan bahaya bukan selalu tanda bahaya.
Lucas juga mengalami kilas balik saat Alina menangis dengan nada tertentu. Ia menghadiri kelompok ayah dan melanjutkan terapi. Mereka tidak menjadikan masalah mental sebagai kompetisi siapa lebih rusak.
Foto pertama Alina bocor pada minggu keempat ketika seorang tamu penghuni mengambil gambar stroller dari jauh. Wajah bayi tidak jelas, tetapi sebuah situs membeli foto dan memberi judul putri kerajaan bisnis.
Lucas ingin menutup taman umum. Callista menolak. Pengacara mengirim permintaan penghapusan berdasarkan privasi anak dan menindak penyusup jika bukti cukup. Mereka mengganti rute jalan sementara, bukan mengurung keluarga.
Kepada kerabat, aturan foto diperjelas: tidak ada unggahan, lokasi, atau pengiriman ke grup luas. Amanda salah mengirim satu foto tangan Alina kepada teman. Ia langsung memberi tahu, meminta foto dihapus, dan menerima larangan mengambil foto selama sebulan tanpa mengatakan itu tidak sengaja sebagai pembelaan.
Pada pemeriksaan enam minggu, luka Callista pulih dan anemia membaik. Dokter tidak menyatakan ia kembali normal; tubuhnya memiliki bentuk serta kemampuan berbeda. Aktivitas ditambah bertahap berdasarkan rasa nyaman.
Lucas menggunakan cutinya sepenuhnya meski universitas menawarkan kelas daring. Ia membawa Alina ke dua pemeriksaan rutin sementara Callista beristirahat, mencatat pertanyaan sendiri, dan melaporkan hasil tanpa bertindak sebagai pemilik keputusan. Nama Callista tetap tercantum sebagai kontak setara, bukan orang tua utama otomatis hanya karena melahirkan.
Safe Service tidak menanyakan tanggal kembali. Rina mengirim laporan bulanan yang boleh dibaca Callista kapan pun. Sistem berjalan, proyek tidak runtuh, dan dua perubahan kurikulum dibuat tanpa dirinya.
Callista merasa kehilangan dan lega. Ia memilih mulai menghadiri satu rapat jarak jauh setelah minggu kedelapan, bukan karena organisasi membutuhkan, melainkan karena dirinya ingin terhubung.
Suatu malam Alina tidur empat jam berturut-turut. Lucas terbangun lebih dahulu dan memeriksa sesuai satu kali yang disepakati. Ia kembali ke kamar Callista dan mengatakan semuanya baik. Callista mengundangnya berbaring, bukan untuk kedekatan seksual, hanya tidur berdampingan.
Mereka bangun ketika Alina menangis. Tidak ada musik, cahaya lembut, atau narasi sempurna. Ada botol yang harus dibuat, baju terkena susu, luka yang masih menarik, dan dua orang yang sempat bertengkar tentang giliran.
Malam-malam itu tidak muncul dalam foto publik. Justru di sana mereka menjadi orang tua: bukan saat memberi nama atau mengumumkan kelahiran, melainkan ketika pekerjaan kecil dibagi, bantuan dibayar adil, kecemasan disebut, dan cinta tidak digunakan untuk meminta satu tubuh melakukan semuanya.