Sedari tadi Dira ataupun Fida setiap saat selalu melihat ke jam dinding, berharap waktu cepat berlalu. Fida ingin segera makan siang bersama Timo, sudah pasti karena mereka berdua memang berpacaran. Sementara Dira tidak sabar ingin bertemu dengan Shaka, meskipun Dira sendiri menyadari kalau ia dimata Shaka hanya setitik debu.
Jam dinding tepat menunjukkan pukul 12:00 siang pertanda makan siang sudah tiba, Dira langsung beres mejanya, membuka kotak make up kecil yang selalu ia bawa ke mana pun. Men-touch up wajahnya kembali agar tidak pucat dihadapan Shaka. Begitu pun dengan Fida, Fida sudah jelas pasti akan dilihat oleh Timo, kalo Dira? Kalian sendiri tahu jawabannya.
Setelah mereka berdua sudah siap—mereka pun langsung bergegas untuk turun ke lantai dasar, di mana kantin gedung Wisma Sejahtera berada.
“Gila wangin banget Dira, sebotol tuh pake minyak wanginy?” ledek Dira.
Mereka berdua pun memasuki lift, dan syukurnya di lift hanya ada tiga orang pegawa yang berasal dari lantai 7.
“Biar dilirik sama Shaka Dir.”
“Dilirik, lo gue tinggalin berdua sama dia aja kabur.” kata Fida.
Fida nih anak emang belagu, mentang-mentang udah punya pacar. Dia lupa kali gimana rasanya suka sama orang, secara diam-diam, orang itu nggak tau, bahkan nggak ngeliat kita ada. NGGAK PERNAH KALI! Entah kenapa Dira malah mengomel di dalam hati, padahal ada orangnya di sebelahnya.
“Gue pemalu, Fid.”
“Lo biasanya juga malu-maluiin, Dir.
“:Lo juga!”
“Tapi, gue nggak jomblo.”
“Kok lo bawa-bawa status sih, Fid!” suara Dira agak berteriak membuat orang dibelakang mereka memberikan isyarat untuk tidak berberisik, salah satu bapak-bapak menaruh jari telunjuknya di depan bibir.
“Kalo ngomong makannya jangan ngegas, Dir.” bisik Fida.
Dira menjawab dengan berbisik juga, “makanya jangan udah jangan ngomong dulu nanti aja.”
Ting!
Merkea pun sampai di lantai dasar, di mana lift di Gedung Wisma Sejahtera saati lift terbuka langsung menghadap ke kantin. Dira memandang ke seluruh penjuru kantin, di bangku dekat penjual bakso ada Shaka dan Timo. Padahal Dira mengharapkan mereka belum datang, Timo datang lebih tidak apa-apa asal jangan Shaka. Ini semesta mau mengujinya lagi atau hanya sekadar untuk memupuk harapan bahwa ini pertanda jodoh.
“Lo kenapa bilang Shaka udah dateng duluan?” tanya Dira.
Mereka berdua berjalan menuju tempat duduk Shaka dan Timo.
“Emang kenapa? Nggak ada masalah kan, Dir?” tanya Fida balik. Benar kan tidak ada masalah mau Shaka datang lebih ataupun tidak mereka tetap akan makan bersama.
“Nggak masalah buat lo,” sahut Dira. “Tapi, masalah buat gue Fid.”
“Apa masalahnya?”
“Yah gue gak tau, pokoknya lebih baik gue yang duluan dateng daripada Shaka.” kata Dira kekeh, tanpa memberikan penjelasan apa masalahnya.
“Gue perlu tau masalah apa, lo nggak menjelaskan.”
“Nggak ada!”
Fida mendengus kesal, “yaudah terserah. Debat ama lo capek.”
Mereka berdua sampai di meja Timo dan Shaka. Fida yang memang sudah jelas kekasih Timo, langsung duduk di sebelah Timo. Sambil meminta ke Mas Kirno untuk membuatkan satu porsi bakso dengan toping biasa, bakso urat, campur, dan kuahnya tidak terlalu banyak.
“Lo ngapain masih berdiri disitu, Dir?” tanya Fida.
Sumpah yah, sebenarnya Dira ingin duduk saja di sebelah Shaka. Akan tetapi, entah kenapa Dira ragu takutnya Shaka tidak senang duduk bersebelahan dengannya.
“Gue duduk di mana?” tanya Dira bingung sendiri.
“Yah sebelah Shaka.” Fida menunjuk Shaka.
Shaka yang sedang asyik mengaduk baksonya, dan sedang menambahkan kecap ke dalam baksonya hanya diam tidak merepson apapun. Mata Fida memberi isyarat kepada Dira untuk segera duduk, dan seolah-oleh berkata. Dir, lo jangan bersikap aneh-aneh. Yang ada malah Timo tau kalo lu suka sama Shaka. Entah kenapa Dira mengerti apa yang dimaksud dengan Fida ia pun langsung duduk di sebelah Shaka.
“Lo mau pesan apa?” tanya Timo ke Fida.
“Samaiin aja kaya Fida.” kata Dira. Sejujurnya Dira ingin bakso yang berbeda dari Fida, tapi entah kenapa pikirannya tiba-tiba nge-blank. Timo pun memesankan semangkuk lagi untuk Dira, dan juga minuman sama seperti Fida es the manis.
“Ka, lo diem-diem ada yang suka sama lo. Gue mau ngasih tau lo malah lupa.” celetuk Timo.
Dira pun terbatuk-batuk; sementara Fida hanya diam terkejut. Sama sekali tidak terpikirkan kalau Timo akan membicarakan ini di sini, Fida tahu sekarang Dira pasti panik.
“Siapa, Tim?” tanya Shaka dengan suara beratnya, yang berhasil membuat jantung Dira berdetak lebih cepat.
“Teman sekantor, Fida.”
Fida dan Dira saling bertata-tatapan, Dira mempertanyakan apakah Fida memberitahu Timo kalau dirinya menyukai Shaka? Sementara Fida mencoba memberi penjelasan dari tatapannya bahwa Fida tidak memberitahu Timo bahwa seseorang itu Dira, tapi Anita.
Pesanan Fida dan Dira pun sampai, Dira berterima kasih kepada Mas Kirno yang cepat membuatkan satu mangkuk bakso untuk dirinya Dira. Semoga pembicaraan ini terputus cukup sampai di sini. Lagi-lagi perkiraan Dira melesat, Timo masih membicarakannya.
“Anita!” jawab Timo, Dira terbatuk lagi. “Lo kenapa batuk mulu, Dir? Lagi sakit?”
“Nggak tau tenggorakan gue gatel.” Ayo Tim, sebaiknya kita membicarakan soal tenggorakan saja, daripada membicarakan soal siapa yang menyukai Shaka.
Sayangnya semesta memang benar-benar sedang tidak berpihak ke Dira, ataupun Dira. Timo masih membicarakannya. “Minta nomornya, Ka.”
“Nggak ah. Gue lagi males pacaran.” jawab Shaka santai, kembali fokus melahap baksonya itu.
Dira yang sesekali melirik ke arahnya melihat ekspresi Shaka sedang makan bakso beanr-benar membuat Dira tambah jatuh hati. Tapi, itu malah membuat Dira sadar kalau Shaka sulit untuk digapai.
“Ya, kan nggak pacaran, Ka. Buat temen aja siapa tau cocok.” nasehat Timo.
Shaka tidak mengindahkan perkataan Timo, ia tetap kekeh pada dirinya bahwa ia tidak ingin pacaran, karena itu hanya membuang-buang waktu saja. “Sama aja, Tim. Fid tumben lo diem aja?” tanya Shaka.
“Lagi makan Shaka, dan lo berdua juga lagi asyik ngobrol.” kata Fida santai. Padahal rasanya ia ingin membacot ke Shaka, gue diem aja karena takut salah ngomong.
“Temen lo si Anita suka sama gue dari kapan?” tanya Shaka yang akhirnya penasaran juga tentang siapa orang yang suka dengannya, kasihan sekali Anita yang tidak tahu apa-apa dibawa dalam permasalahan ini.
“Katanya nggak mau, tapi tetep nanyaiin.” celetuk Timo kesal.
Shaka mengabaikan peraktaan Timo, “jawab Fid.”
“Anita itu yang kema…”
“Fid, abis ini anter gue yah ke lantai satu ketemu temen gue.” Dira memotong ucapan Fida karena ingin menyelamatkan diri, Dira tahu ke arah mana ucapan Fida akan bermuara.
“Lanjut, Fid.” kata Shaka.
“Dia di bagian accounting, nanti deh kalo ada orang gue kasih tau lo.” Fida menghela nafas lega omongan kali ini tidak megarah kepada Dira. “Meja kerjanya sebelah tuh, sama si Dira.”
Shaka langsung menoleh ke arah Dira, dan Dira membalasnya dengan senyum kikuk. Dibalas oleh Shka dengan senyum kecut. Dira mengucap sabar dalam hatinya, sabar Dir biarin aja orang ganteng kadang suka songong.
“Oh sebelahan sama Dira,” sahut Timo. “Nah, gue punya ide nih, Ka. Gimana kalo lo deketin dulu aja temen sebelah meja kerjanya, biar di mak comblangin gitu. Gimana?”
Duh, Tim. Maaf yah aku boong, padahal kan yang suka Dira, kata Fida dalam hati.
Iya Tim, bagus banget. Gue oke-oke aja, tapi kalo lo tau sebenarnya sakit Tim, tapi nggak berdarah. kata Dira dalam hati.
“Cantik nggak orangnya?” tanya Shaka. Kali ini Shaka bertanya ke Dira.
“Eh…” Dira menarik nafasnya, supaya tidak terlihat gagap di depan Shaka.”Cantik kok orangnya, beneran suwer!” Entahlah seperti apa Dira sekarang pasti sangat aneh dimata Shaka.
“Nanti gue pikirin deh, namanya Anita kan?” tanya Shaka lagi memastikan.
“Iya namanya Anita.” Jawab Dira. Rasanya Dira ingin sekali berkata di depan Shaka, eh Shaka yang lo suka ini ada. Duduk di samping lo.
Timo yang tersenyum kemenangan, “akhirnya diterima juga, kalo dibilang cantik. Dasar buaya.” ucap Timo.
“Cowok kan emang gitu, kalo lihat cewek itu pasti cantiknya.” timpal Fida.
“Nggak semua kaya gitu, Fid. Buktinya aku nggak.” Timo berusaha untuk membela kaum adam di depan kaum hawa, bahwa tidak semua laki-laki seperti itu.
“Berati kamu anggap aku jelak dong?”
Dira sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini, ini akan menjadi perang dunia ke II. Dira tidak mau perdebatan yang awalnya panas, pasti akan berujung menjadi lucu gemas bagaimana gitu. Sebagai kaum jomblo Dira akan merasa panas.
“Cantik itu relatif, Fid.” Komentar Dira yang bermaksud untuk menjauhkan perdebatan di antara mereka, Dira tidak bermaksud untuk membela Fida. Ia hanya membela nasibnya sebagai seorang jomblo.
“Nah, itu. Kamu dimata aku itu paling cantik, Fid. Nggak cuma cantik wajahnya, tapi hatinya juga.” kata Timo.
Tetap aja nih dua sejoli paling bisa bikin gue panas, kalo nggak ada Shaka di sini mungkin udah meraung-raung. kata Dira si jomblo yang menderita.
“Tapi, Shaka…” ucapan Fida langsung dipotong oleh Shaka.
“Gue emang suka cewek yang cantik secara fisik, untuk hati masalah belakangan.” ucap Shaka. Entahlah, Dira merasa Shaka membelanya. Padahal jelas-jelas Shaka hanya ingin mengatakan yang ingin ia pikirkan.
“Lo mah emang gitu, kampret.”
“Lo juga Tim, jangan munafik.” balas Shaka.
Terjadilah perdebatan di antara mereka tentang kenapa laki-laki kebanyakan akan tertarik dengan perempuan cantik. Akan tetapi, Dira ataupun Fida pasti kalau naksir dengan laki-laki yang pertama dilihat itu fisik. Menurut Dira, tampan itu sesuai selera. Mungkin waktu SMA hamper semua perempuan punya selera fisik yang hamper sama, tapi semakin dewasa perempuan punya kriteria tampan masing-masing. Fida pun setuju, dengan pendapat Dira.
Mereka berempat sudah lelah berdebat; entah ini sengaja ataupun tidak tiba-tiba Fida meminta Timo untuk mengantarnya pergi ke mini market. Yang berarti di sini hanya tinggal mereka berdua; Dira dan Shaka.
Emang nih Fida bener-bener demen, bikin temennya tersiksa. Dira mengelus dadanya untuk selalu bersabar, lihat saja nanti Fida pas di kantor.
Fida dan Timo pun sudah pergi meninggalkan mereka berdua, moment akward pun bertambah. Dira melihat bakso dimangkuk Shaka sudah habis dan sedasng memainkan ponselnya, sementara bakso miliknya tinggal sedikit lagi, daripada akward lebih baik ia fokus menghabiskan baksonya.
“Soal gue yang tadi tertarik sama temen lo itu, itu nggak beneran.” Shaka bersuara saat Dira menyuapkan bakso terkakhir di mangkuknya.
“Maksudnya?”
“Gue beneran nggak tertarik untuk dekat sama siapa-siapa,” Shaka menaruh ponselnya di meja, menatap wajah Dira dengan santai. “Tapi, orang yang gue suka ada.”
“Siapa?” tanya Dira, yang sejujurnya tidak ingin bertanya seperti itu.
“Kok jadi kepo?”
“Eh, maksud gue, kenapa lo ngeboong tadi?”
“Males gue berdebat sama Timo, suka belagu dia mentang-mentang punya pacar.”
“Ohh!”
“Lah kok oh doang?”
“Gue gak tau mau jawab apalagi.” jawab Dira polos.
“Oke.” kata Shaka. Lalu ia berkata lagi, “lo jangan bilang-bilang Timo atau Fida soal ini.”
“Iya.”
Shaka bangkit dari tempat duduknya, “gue duluan yah. Oh yah bakso sama minuman punya gue udah gue bayar tadi, gak tau punya Fida dan Timo.” Shaka pun pergi meninggalkan Dira sendiri di tempat duduk, meninggalkan Dira dengan pertanyaan di kepalanya. Siapa seseorang yang sedang Shaka sukai?
Apakah mungkin orang yang dimaksud itu dirinya? Tapi, sepertinya tidak mungkin. Shaka kan menyukai perempuan yang cantik secara fisik, sementara Dira tidak cantik. Tapi, Fida memberitahunya bahwa Shaka tidak sedang bersama siapa-siapa. Walaupun tidak sedang bersama siapa-siapa, bukan berarti Shaka tidak boleh menyukai siapa-siapa.
Dira mendengus nafas kesal, yah gue ada saingannya pasti ceweknya cantik. Meskipun begitu Dira tidak akan menyerah untuk menyukai Shaka. Apapun nanti ending-nya Dira akan terima, toh suka tidak harus memiliki kan.